Ilustrasi

Oleh: Weddy Febian bin Ghazali Isma’oen

ZAMAN dahulu di Bengkulu Selatan berdiri beberapa kerajaan. Diantaranya kerajaan Pepinau yang didirikan sekitar tahun 1440 oleh Ramau Ratu Remindang Sakti yaitu salah satu dari Leluhur Batang Hari Sembilan putra dari Ratu Simbang Gumay atau sebutan lainnya Pangeran Suke Milung putra dari Bintang Ruanau bergelar Ratu Kebuyutan/Raja Gumay Mude yang berasal dari Rambang daerah Prabumulih yang menurut riwayat di berbagai penjuru Sumatera Selatan bahwa nenek moyangnya berasal dari Bukit Siguntang, Palembang negeri Sribujaya.

Sekitar tahun 1500-an Selamek Panjang Rambut atau biasa disebut Poyang Bejebai yang dulunya adalah Panglima 40 Hulubalang Raja Pagaruyung (tercatat dalam Riwayat Bundo Kanduang) mengembara ke berbagai daerah di Sumatera Selatan. Beliau kemudian numpang menetap di rumah Keriau Kintarejo (Ratu Gedung Agung) teman beliau semasa di pulau Jawa dahulu yang telah mendirikan Dusun Gedung Agung di tepian air deras.

Beliau kemudian menikahi Puteri Ratu Rejang Dusun Sebiris. Kemudian Ramau Ratu Agung Tua anak dari Remindang Sakti (Raja Kerajaan Pepinau) mengangkatnya menjadi Keriau di Dusun Sebiris, disinilah beliau dikaruniai 4 orang anak dan 1 orang anak angkat.

Setelah Perang Gunung Kumbang yang terjadi sekitar tahun 1514 pada zaman pemerintahan Ramau Ratu Puteri Rambut Mas dan suaminya Syech Aminullah (Sutan Makhdum Sakti) yang berasal dari Sumaniak kerajaan Pagaruyung, berhasil mengembangkan dusun-dusun dan memperluas wilayah kerajaan Pepinau sampai ke wilayah Tebing Batu.

Pada masa pemerintahan Ramau Ratu Minak Kertau Bumi yaitu anak dari Putri Rambut Mas dan Syech Aminullah ibukota kerajaan Pepinau dipindahkan ke Tanggau Rasau. Tidak lama setelah perpindahan tersebut singgahlah Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Banten bersama Ratu Balo dan Ki Jongjo ke Tanggau Rasau dan menjalin persaudaraan dengan Ramau Ratu Minak Kertau Bumi sehingga kakak beliau yang bernama Keling akhirnya ikut dengan Rombongan Sultan Hasanuddin berangkat dalam ekspedisi menjelajahi pantai barat Sumatera dalam rangka mencari sumber rempah-rempah hingga ke kerajaan Indrapura lalu kembali ke Banten.

Keling akhirnya menetap dan mengabdi di Kerajaan Cirebon, dan sebagai gantinya diambillah keponakan Sultan Banten untuk menetap di kerajaan Pepinau dengan gelar Keling Mudau.
Ketika pada tahun 1680 Inggris masuk ke Bengkulu mereka menamakan kerajaan Pepinau sebagai Kerajaan Serawai. Pada saat itu Rajanya bernama Ramau Ratu Batau, ia diberi gelar Raja Seraway dan Pangkat The Patih oleh kerajaan Inggris.

Kemudian setelah Raja Serawai kedua yang bernama Ramau Ratu Serkidul (Ratu Pengalun Segara) mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1755 dan digantikan oleh anak angkatnya bernama Sendame, kerajaan Serawai langsung dipecah belah oleh Inggris agar semua Keriaunya berdiri sendiri sehingga nama “Kerajaan Serawai” dihapuskan dan hanya disebut oleh Inggris sebagai “orang-orang Serawai”.

Kemudian pada zaman Raja Prabu Anom terjadi pergantian kekuasaan antara Inggris dan Belanda, Raja Prabu Anom diberi gelar Pangeran oleh Belanda dan daerah kekuasaannya dijadikan marga dalam sistem Marga Stelsel dengan Undang-Undang Simbur Cahaya yang dibuat oleh J. Walland yang isinya hampir sama dengan Undang-Undang Simbur Cahaya yg disusun oleh Van Bossche pada tahun 1854, sebagai panduan hukum peradilan dan pemerintahan dan dihapuskannya Lembaga Peradilan Pangeranstraad di ibukota Bengkulu.

Pada tahun 1862 terjadi perlawanan terhadap Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Amir Raja Alam yang menolak pembayaran pajak dan permintaan kerja rodi penanaman lada oleh Belanda. Kemudian pada 21 April 1862 ke empat orang pemimpin pemberontakan tersebut ditawan oleh Belanda di Benteng Marlborough. Keempat orang tersebut adalah:

1. Pangeran Amir Raja Alam Marga Anak Gumay Tanggau Rasau Pinau
2. Bundar Pangeran Ratu Marga Anak Dusun Tinggi Seginim
3. Jumenang Pasirah Ratu Marga Gedung Agung
4. Mohammad Arab Pangeran Raja Khalifah Marga Tujuh Pucukan

Kemudian mereka dibebaskan kembali oleh Belanda kecuali pimpinannya yaitu Pangeran Amir Raja Alam yang dihukum buang negeri ke Batavia kemudian diasingkan ke Tual, Maluku Tenggara.

Pada tahun 1870 terjadi perlawanan kembali oleh para Kepala Marga di bengkulu Selatan. Hal ini diawali dengan perselisihan tentang hak penguasaan Pelabuhan Pasar Bawah. Pada tanggal 13 April 1870 Belanda kembali menangkap para pimpinan perlawanan tersebut, yaitu:

1. Pasirah Alimudin Raja Ngeehoh Marga Anak Dusun Tinggi Seginim
2. Jumenang Pasirah Ratu Marga Gedung Agung
3. Amat Ratu Agung Pasirah Marga Anak Gumay Tanggau Rasau Pinau
4. Mohammad Alis Pangeran Djayakusumah Marga Tujuh Pucukan

Mereka kemudian dibebaskan kembali kecuali pimpinannya yaitu Pasirah Alimudin Pangeran Raja Ngeehoh Marga Anak Dusun Tinggi Seginim yang sampai sekarang tidak diketahui dimana keberadaannya.

Kerajaan Selebar lama yang berada di daerah Jenggalo dan Niur didirikan oleh Ratu Selebar Pertama. Tapi kemudian tidak tercatat dalam sejarah karena sewaktu kunjungan Sultan Banten, Sultan Banten tersebut telah mengakui Rangga Janu Kerio Kajang Sebidang sebagai Raja Selebar yang berpusat di Teluk Selebar. Kerajaan Banten juga telah mengadakan hubungan dagang dengan Rangga Janu dan diberi gelar Depati Payung Negara oleh Sultan Banten (sehingga terdapat riwayat cap gading dan cap tanduk kerbau), yang pada masa selanjutnya keturunan Rangga Janu yang bergelar Pangeran Natadiraja yang menjadi Raja Kerajaan Selebar dikemudian hari.

Kerajaan Kaur didirikan oleh Pangeran Raja Luwih Sebrani Gunung Kaur sekitar tahun 1697. Beliau menikah dengan Puteri Cendi mas yang berasal dari Mulak Ulu Bengkenang Lembak yang merupakan keluarga dari Raja-Raja Kedatu’an Pasemah.

Beliau membangun kerajaan dari Semendo Darat di daerah Ulu Muara Sahung sampai ke daerah Liapan Sambat. Keturunannya yang bergelar Raja Bala Seribu Pangeran Cungkai di Langit yang berkuasa pada akhir Perang Jati yang membuat perlawanan di Benteng Silling.

Pada bulan Juni 1841 Raja Kusuma Ratu dan Raja Lela Bangsawan dikirim ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke pulau Banda oleh Belanda. Baru pada bulan Oktober 1842 Benteng Silling berhasil dihancurkan oleh Belanda. Para Raja di Kerajaan kaur melakukan evakuasi ke Tanjung Cina atas restu Raja Hasan dari Kedatu’an Pasemah pada bulan Juni 1841. Setelah itu Kaur dibagi menjadi Marga Stelsel oleh Belanda.

Mengenai silsilah raja-raja di beberapa kerajaan di Bengkulu Selatan ini semuanya ada tertulis dan dipegang oleh ahli waris masing-masing. Tetapi semua kerajaan tersebut tidak memiliki istana yang terbuat dari batu atau tanah liat, melainkan rumah adat bertiang tinggi berbahan kayu yang disebut “Rumah Berugo”.

Adapun jumlah marga di Kabupaten Bengkulu Selatan terdiri dari lebih 6 marga, bukan seperti pernyataan ketua BMA BS yang tertulis di harian Radar Selatan pada Selasa (5/12/2017). Hal ini tertulis dalam Besluit Gouvernour General Hindia Belanda yang dikeluarkan pada hari Selasa tanggal 7 November 1900, tentang perbatasan antara Onder Afdeling Manna dan Onder Afdeling Seloema, marga-marga di Bengkulu Selatan disebut yaitu:

1. Marga Soembai Besak – Kedurang Pasirah Kemas
2. Marga Oeloe Loerah – Kedurang Pasirah Redintan
3. Marga Tanjoeng Boentar Wakil Pasirah Mohammad Oemar
4. Marga Anak Doesoen Tinggi Pangeran Pasirah Moekmin
5. Marga Anak Loeboek Sirih Pasirah Merah Hamzah
6. Marga pasemah Oeloe Manna Oeloe Pasirah Getangan
7. Marga Pasemah Oeloe Manna Ilir Pasirah Kenawas
8. Marga Loear Chalifah – Manna Pasirah Remansin
9. Marga Soembai Besar – Manna Pasirah Djeninsan
10. Marga Ketjil Pasirah Beriaman
11. Marga Anak Gumay Pangeran Pasirah Alirudin (PRM.Alam)
12. Marga Tanjung Raya Pasirah Aboe Bakar
13. Marga VII Poetjoekan Pasirah Ahmad Marzoeki
14. Datuk Pasar Manna –
15. Datuk Pasar Pino Noeroedin

Adapun sebelum tahun 1900 ada Marga Anak Lubuk Bakul di Jeranglah, Marga Gedung Agung yang kemudian dipindahkan ke Masat dan diubah namanya. Marga Buntak yang kemudian diubah namanya oleh pangeran Rami menjadi Marga Tanjung Raya.

Marga Anak Gumay pada tahun 1916 pernah dibagi menjadi dua yakni menjadi Marga Tanah Abang di Ulu Pino dengan Kepala Marga Pasirah Rustam gelar Raja Khalifah Pangeran Tanah Abang dan Marga Anak Gumay itu sendiri. Dan pada tahun 1923 Marga disatukan kembali menjadi Marga Anak Gumay dengan Pasirah Rustam dan Wakil Pasirah So’a.

Setelah akhir masa pendudukan Jepang sampai zaman kemerdekaan maka sistem pemerintahan pun berubah menjadi Republik. Dan pada tahun 1970-an sistem Marga dihapuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Demikianlah sepintas sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Bengkulu Selatan.

Sumber:
1. Buku Sejarah Tanah Seraway
2. Buku Hikayat Raja-Raja Batanghari Sembilan
3. Sejarah Bundo Kanduang
4. Pemegang Silsilah Raja-Raja di Provinsi Bengkulu
5. Besluit Gouvernour General Hindia Belanda