BILA ditanya salah satu nama yang paling menarik perhatian publik Kota Bengkulu saat ini, maka nama Walikota Helmi Hasan pasti salah satunya. Minggu (21/1/2018) ini, jabatan Walikota yang dikenal religius dan merakyat itu berakhir.

Antonio Wijaya, KOTA BENGKULU

Helmi tak pernah alergi ketika harus masuk ke gang-gang sempit untuk mendatangi dan membantu rakyatnya yang sedang kesusahan.

Menolong warga miskin, orang yang sakit, membangun infrastruktur perkotaan dan memberikan kredit lunak untuk warganya yang ingin berwirausaha adalah sedikit gambaran tentang Helmi yang melekat pada ingatan publik.

Semua itu dia lakukan karena dalam benaknya, seorang kepala daerah itu harus tahu persoalan di tengah-tengah masyarakat dan bersedia berkalang tanah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

Sebelum Pemilihan Walikota (Pilwakot), Helmi tak pernah mendeklarasikan dirinya akan maju sebagai kontestan. Tapi jajak-jajak pendapat menempatkannya selalu diposisi teratas. Bahkan dalam konvensi, rakyat berduyun-duyun mengusulkannya sebagai calon walikota.

Sebagai wakilnya, muncul nama-nama seperti Mardiyanti, Suprianto, Teuku Zulkarnain dan Alboy Novebra.

Baca juga : Mensyukuri Takdir Langit

Namun kenapa Helmi Hasan lantas memutuskan bersedia mengikuti kehendak rakyat dan menggandeng Dedy Wahyudi?

“Semuanya berkat takdir Allah, apa yang direncanakan Allah, apa yang telah di tetapkan Allah, itulah yang pasti berlaku,” kata Helmi ketika dijumpai di kediamannya, Sabtu (20/1/2018).

Ketika memutuskan bersedia mengikuti kehendak rakyat, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) langsung memutuskan mengusung Helmi Hasan-Dedy Wahyudi. Ketika mendaftar, Partai Demokrat juga menyatakan bergabung.

“Allah SWT yang memudahkan semuanya. Oleh karna itu kita ikuti saja semua atas kehendak Allah. Semuanya terjadi karena Allah dan atas kehendak Allah,” paparnya.

Apakah partai koalisi yang memaksakan nama Dedy Wahyudi sebagai pendamping Helmi?

“Tidak ada, semua karna takdir Allah,” beber Helmi.

Namun dalam konvensi, ada begitu banyak nama seperti Mardiyanti, Supriyanto dan lain sebagainya. Kenapa mesti Dedy Wahyudi?

“Sekali lagi ini semua atas kehendak Allah,” tegas Helmi.

Apakah karena Dedy Wahyudi memiliki misi dan visi yang sama dengan Helmi?

“Alhamdulilah, visi misi kami semuanya sama,” tukasnya.

Berapa suara yang ditergetkan berhasil dikumpulkan oleh pasangan Helmi-Dedy?

“Untuk target kita serahkan semuanya kepada yang di Atas. Karena kenapa? Daun kering saja yang jatuh itu pun semua atas izin yang di Atas. Karena Allah Maha Kuasa atas segalanya,” papar Helmi.

Simak juga : Pilwakot Harus Jadi Ajang Memuliakan Sesama

Apa yang ada dalam bayangan Helmi Hasan tentang Kota Bengkulu?

“Kota Bengkulu ini kota yang luar biasa. Kota yang bersejarah. Salah satu kota yang melahirkan Ibu Fatmawati yang menjahit Sang Saka Merah Putih. Dari bendera yang dijahitnya lahir bangsa besar yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jawab Helmi.

Helmi optimis, dengan memaksimalkan apa yang telah Allah berikan melalui rasa syukur kepada-Nya, maka Kota Bengkulu akan diberikan kebaikan bukan hanya bagi warga kota saja, tapi bagi seluruh masyarakat di Provinsi Bengkulu atau bagi orang yang datang ke Kota Bengkulu.

“Dulunya kita tidak punya rumah sakit, sekarang kita sudah ada rumah sakit sendiri. Walaupun rumah sakit kita tidak sebesar rumah sakit provinsi lain, usianya juga masih muda, teknologinya mungkin tidak secanggih provinsi lain, tapi kita tidak boleh kalah. Apa yang kita dorong? Tentunya dari sisi pelayanan. Dengan cara senang hati, senyum, melayani dengan setulus hati, agar kiranya nanti rumah sakit itupun akan mendapatkan posisi dimata masyarakat,” tutup Helmi. [**]