Hearing Mahasiswa Unras di ruang rapat kantor DPRD Bengkulu Utara

BENGKULU UTARA, PB – Fakta terbaru terkuak atas polemik beasiswa sejumlah Mahasiswa Universitas Ratu Samban (Unras) Bengkulu Utara.

Ternyata, uang beasiswa dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkulu Utara tahun anggaran 2017 milik 90 orang Mahasiswa Unras telah dicairkan kepada Yayasan Ratu Samban Argamakmur dengan Rektornya Sugeng pada tanggal 26 Juli 2017 senilai Rp 640 juta.

Hanya saja, terjadi polemik internal di tubuh Unras mengakibatkan timbulnya dualisme kepemimpinan.

“Pencairan saat itu didasarkan atas turunnya surat dari Kopertis Wilayah 2 Palembang yang ditandangai Sobri, Yang menyatakan pengelola sah Universitas Ratu Samban pada saat itu adalah Yayasan Ratu Samban Argamakmur. Jadi saat itu, dana itu diserahkan kepada mereka. Bukan pengelola yang saat ini,” ujar Kepala BPKAD Bengkulu Utara, Kisro Zanito dalam hearing di ruang rapat gabungan kantor DPRD Bengkulu Utara yang dihadiri perwakilan mahasiswa, anggota DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Rabu (14/2/2018).

Dilanjutkan Kisro, pencairan dilakukan langsung oleh yang berwenang saat itu.

“Soal adanya dualisme kepemimpinan saya rasa itu masalah internal Unras. Yang terpenting pemkab telah menunaikan tugasnya sesuai dengan aturan yang berlaku,” tandas Kisro.

Sementara itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unras, Yoki mengatakan, kendati kondisi tersebut terjadi, namun pihaknya masih sangat berharap agar ada solusi lain yang dipilih untuk membantu mahasiswa.

“Jangan sampai mahasiswa menjadi korban akibat masalah ini,” ujar Yoki.

Dibagian lain, suasana semakin mengeruh saat pihak Unras dibawah pimpinan Rektor, Imron Rosyadi justru mengecam akan melakukan Drop Out terhadap 90 mahasiswa tersebut jika hingga akhir semester ini tidak mampu melaksanakan kewajibanya untuk membayar uang perkuliahan.

“Kami sudah sering memberikan toleransi agar 90 mahasiswa dapat segera memenuhi kewajibannya membayar biaya perkuliahan. Untuk menjalankan roda Universitas ini perlu dana, maka dengan itu kami sudah tidak bisa menolerasikan lagi, Jika tidak mampu bayar dengan terpaksa harus dikeluarkan. Jika kami paksakan. Universitas akan jadi korban, Para dosen akan mengundurkan diri karena kami tidak mampu menggaji mereka kalau mahasiswa tidak membayar uang perkuliahan,” ujar Pembantu Rektor III Universitas Ratu Samban Amri Jumanto. [Evi Kusnandar]