ilustrasi pelayaran Belanda

AWAL mula datangnya kompeni Belanda ke Bengkulu yaitu sekitar tahun 1624, saat itu para pedagang Belanda mendarat di Selebar. Berdasarkan buku Hukum Adat Rejang, Jakarta 1980, halaman 72, oleh Prof. Dr. H. Abdullah Siddik, menyatakan bahwa saat itu pertama kali Belanda mengadakan peninjauan terhadap perdagangan lada dan hasil bumi lainnya.

Pada tanggal 5 Juli 1660, pedagang Belanda dengan kapal dagangnya yang dipimpin oleh Komisaris Balthasar Bort, berlabuh di sungai Jenggalu. Mereka mengadakan perundingan perdagangan lada dan hasil bumi lainnya dengan Raja Selebar – Rangga Janu atau Kasanu Kajang Sebidang.

Disebutkan dalam buku Sejarah Perlawanan Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, bahwa Kerajaan Selebar dibentuk oleh pedagang-pedagang keturunan Majapahit yang rajanya berkedudukan di Jenggalu.

Jenggalu sendiri adalah sebuah dusun di pinggir sungai Jenggalu, merupakan tempat pengumpulan barang-barang hasil bumi Kerajaan Selebar; terutama lada, yang kemudian dimonopoli oleh Kerajaan Banten semenjak tahun 1552, dengan Rajanya Sultan Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati.

Baca juga: Strategi Adu Domba Inggris Menjajah Bengkulu

Sepanjang tahun 1552-1570, Kerajaan Selebar mulai dimasukkan dalam pengaruh kerajaan Banten. Kenyataan tersebut diperkuat dengan pemberian gelar oleh Sultan Banten kepada Raja Selebar dengan gelar Depati Pajung Negara.

Pada tahun 1715, Belanda mendirikan sebuah benteng di Kandang untuk melindungi pedagang-pedagangnya yang berada dan menetap di Jenggalu.

Dalam Proyek Penelitian dan Pencatatan Daerah Bengkulu 1977/1978, halaman 50, disebutkan bahwa pedagang Belanda hanya berada di daerah Kerajaan Jenggalu selama enam tahun (1664-1670).

Pedagang Inggris kemudian berhasil memonopoli lada, sebelum pedagang Belanda mengadakan ikatan perjanjian perdagangan lada dengan Kerajaan Selebar.

Kerajaan Jenggalu sudah berada di bawah pengawasan kerajaan Banten dengan Sultan Agung Tirtayasa. Sekitar tahun 1663 Sultan Agung Tirtayasa telah mengeluarkan sebuah dekrit yang mengatur cara transaksi lada di daerah yang berada dalam pengawasan Banten.

Sekalipun pedagang Belanda telah angkat kaki secara paksa dari kerajaan Selebar, namun Belanda tidak akan menyerah begitu saja. Belanda berusaha dengan sekuat tenaga menaklukkan Banten, karena menurut perhitungan apabila Banten dapat ditaklukkan maka Lampung dan Bengkulu juga akan berada dalam genggaman.

Lalu Belanda ikut secara aktif membantu dalam perang antara Sultan Haji melawan Sultan Agung Tirtayasa di tahun 1682. Pada abad ke 16-17, Banten merupakan suatu bandar yang sangat ramai. Penjualan rempah-rempah sangat membawa keuntungan. Hal ini tidak dapat dibiarkan oleh Belanda dengan politik niaga monopolinya.

Simak juga: Kedatangan Inggris, Awal Mula Penderitaan Rakyat Bengkulu

Oleh sebab itulah Belanda juga berusaha untuk menguasai Banten dengan cara mengadakan intervensi dalam urusan kerajaan Banten.

Belanda pada waktu itu sedang sibuk menindas pemberontakan di tempat lain, tetapi rupanya Belanda lebih cepat, menyelesaikan penindasan terhadap pemberontakan tersebut kemudian langsung memusatkan pada perselisihan yang sedang terjadi antara Sultan Agung Tirtayasa dengan putra sulungnya Sultan Haji.

Dan ketika Sultan Haji meminta bantuan Belanda, maka permintaan itu diterima dengan tangan terbuka. Belanda tahu dengan memberikan bantuan itu mereka dapat memperluas daerah pengaruhnya.

Sultan Agung tidak tinggal diam, ia mengerahkan tentaranya untuk membendung serangan Belanda. Namun, pada akhirnya ia harus mundur karena persenjataan Belanda lebih lengkap.

Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Banten, dan di atas tahta itu juga Sultan Haji dinobatkan. Belanda menerima bayaran berupa hak-hak istimewa. Lalu sejak saat itu hilanglah kemerdekaan rakyat Banten.

Perpecahan dari dalam telah memberikan kesempatan pada kaum imperialis untuk memancung pedang intervensi mereka. Selanjutnya daerah Bengkulu hanya berhadapan dengan Kompeni Inggris sebagai kapitalis dan imperialis yang baru.

Baca juga: Kesulitan Inggris Hadapi Perlawanan Sengit Rakyat Bengkulu

Lalu berdasarkan perjanjian London yang ditanda tangani pada 17 Maret 1824 yang pelaksanaan penyerahannya tanggal 6 April 1825, maka Inggris melepas semua daerah kekuasaannya dan menyerahkan Bengkulu pada Belanda. Sebagai pertukarannya, Belanda menyerahkan Singapura.

Tujuan Belanda setelah menguasai Banten akhirnya tercapai. Mereka mendapatkan daerah kekuasaan baru yaitu Bengkulu. [Eva De]