“Hoi bro! Jangan tidur disini, malu sama matahari…”

Vino membuyarkan ingatanku tentang masa lalu. Wah rupanya kehangatan langit sudah mulai tampak di ufuk timur. Aku berdiri, dan benar saja baju bagian belakangku basah oleh embun di rerumputan.

Kami berjalan kembali ke rumah, seperti biasa terdengar bunyi ayam berkokok dari belakang rumah orang yang memelihara ayam. Anak-anak kecil terlihat di pekarangan rumah, hendak bermain tapi ragu takut belum disuruh Ibu mereka.

Klasik sekali kehidupan di kompleks ini, tak terlalu banyak yang berubah, hanya saja jika dulu terlihat sepeda motor terparkir, sekarang sudah ditambah mobil. Ya, aku juga merencanakan untuk membeli mobil tapi belum untuk saat ini.

“Tidur sampai siang kayaknya enak ya Vin?” kataku sambil menggerak-gerakkan kaki, oh ya ampun! Ini pegal pasti karena sudah lama sekali aku tak olahraga pagi.

“Jangan lupa bangun aja Riz, kita harus datang temu alumni nanti siang.”

Vino terus saja mengingatkanku, sepertinya ia benar-benar tak mau melewatkan kesempatan itu. Ah Vino! Apa jangan-jangan karena Pian? Pasca lulus SMA, Pian kuliah di Bandung lalu kerja disana, tak disangka ternyata Vino masih berkomunikasi dengan Pian.

“Kayaknya aku nonton aja nanti, Ibu juga masak enak hari ini, pasti betah di depan Tv.” aku mengingat Ibu yang tadi sibuk masak, akhir pekan biasanya Ibu masak cukup banyak makanan ringan karena tidak ada acara di luar rumah, kecuali Ibu dan Bapak pergi kondangan.

Kami sudah sampai, itu rumahku berdiri sudah cukup lama dengan warna biru muda yang terus diperbarui. Di sebelahnya rumah keluarga Vino di cat dengan warna hijau, Ibu kami penyuka bunga jadi tak heran halaman rumah menghijau dengan bunga di pot-pot besar, saat musim berbunga memang sangat indah. Vino sampai ikut-ikutan Ibunya merawat bunga demi dapat jepretan indah yang diinginkannya.

Sedangkan aku tidak pandai merawat tanaman. Pernah aku mencoba menanam mawar, tapi beberapa hari kemudian batangnya berubah coklat lalu kering kerontang. Di umur begini, bunga yang berhasil kutanam cuma kaktus. Satu-satunya jenis bunga yang kusukai.

***

“Fariz, Vino sudah nunggu di luar…” beritahu Ibu. Semangat sekali si Vino mau temu alumni hari ini. Tadi kuintip dari kamar, lelaki itu berpenampilan rapi tapi keren. Ia mengenakan sneakers hitam, jeans biru tua di atas mata kaki lalu kaos biru muda di balut blazer hitam. Tak lupa, kamera menggantung di lehernya dan jam tangan di pergelangan kiri Vino.

Gaya berpakaian kami tak jauh beda, jadi ketika kudeskripsikan Vino maka aku juga seperti itu. Hanya saja, hari ini aku memilih warna hitam; sneakers, jeans, kaos, jam tangan, dan aku memakai topi yang juga berwarna hitam.

“Busyet dah! Di luar cerah, pas ngeliat Fariz jadi berasa mendung.” komentar Vino. “Ganti lah Riz, itu pakai kemeja biru tua aja! Jangan hitam semua.” Vino mendorongku kembali masuk rumah.

“Apa bedanya Vin? Kan sama-sama gelap.” gerutuku. Dan akhirnya aku memakai kaos putih dengan blazer hitam list putih di bagian kerah. Lalu kutinggalkan topi, mungkin aku harus belajar melihat dunia lebih seksama.

“Wah! Itu Fariz apa member boyband!” lelaki satu itu berkomentar lagi.

“Hoi-hoi aku sudah 24 tahun, jangan bandingkan dengan boyband. Itu masa lalu.”

Harus kuakui, di masa lalu aku cukup enerjik. Aku dan Vino pandai bermain basket, kami bahkan menguasai sedikit tarian hip-hop. Ah biasalah remaja di zaman itu berusaha untuk serba bisa.

Vino meminjam mobil Ayahnya yang kebetulan tidak bekerja di hari libur. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan motor hari ini.

Tebak dimana tempat kami temu alumni? Mengitari jalan dua jalur yang terkenal dengan jalan Soeprapto, lalu tampak Masjid Jamik dan kami berbelok kemudian berhenti di depan salah satu hotel ternama di Bengkulu. Iya, acara reuni kami diadakan di aula hotel.

Jika gadis itu masih ada, entah seperti apa ia sekarang. Barangkali kedewasaannya akan membuat orang lain merasa senang memiliki sahabat seperti itu. Ayda, semoga kau bersama orang-orang pilihan-Nya di surga.

***

Memarkirkan mobil lalu kami keluar. Mataku tertuju pada sosok gadis yang memerhatikan kami dari jauh, gadis itu mengenakan gamis coklat pastel dan jilbab berwarna senada, ia juga membawa tas selempang kecil berwarna hitam. Di tangan kanannya ponsel yang sesekali dilirik. Nah, sekarang ia tampak menelepon seseorang.

“Halo Pian, kau dimana?” Vino di sebelahku yang bersuara. Sejenak, gadis tadi melambaikan tangan. Oh ternyata gadis itu adalah Ahda Pian. Luar biasa sekali penampilannya, dulu ia gadis lugu dan pemalu, mana berani ia melambaikan tangan ke arah lelaki. Ya, tapi itu dulu. Sekarang kami baru berjumpa setelah sekian lama terpisah.

“Oh My God! Vino? Fariz?” ia tersenyum lalu menunjuk kami bergantian. “Apa kabar?” tanyanya kemudian, wajah Pian tampak berbinar bahagia. Dalam hati, mungkin Vino akan menjawab “Kabarku setelah penolakanmu Pian, aku tak pernah pacaran.”

“As you see, Alhamdulillah kami baik-baik saja.” jawab Vino dengan raut wajah bahagia yang tak dapat disembunyikan. Aku hanya mengangguk pertanda setuju pada jawaban Vino. Tak perlu kuberitahu Pian bagaimana menderitanya aku setelah kepergian Ayda.

Kami menaiki tangga menuju aula, rupanya sudah banyak teman-teman hadir. Bersalaman, saling sapa dan bertukar kabar lalu bercerita banyak hal. Temu alumni memang seru meski tetap saja bagiku ada sesuatu yang kurang.

Aku membayangkan Ayda hadir lalu mengambil es krim di pojokan aula. Selanjutnya ia pasti akan melirik irisan buah segar yang disusun rapi atau bisa saja ia terpikat pada tusuk sate yang menggoda.

“Riz, kameraku tinggal di mobil. Aku ke bawah bentar ya?” Vino bergegas keluar aula. Sementara aku masih bercerita pada Pian, sesekali kami mengenang masa SMA.

“Apa perasaanku aja ya Riz? Kok kau berubah lebih pendiam sekarang?” selidik Pian yang menunggu tanggapanku. Ah, kemanalah keceriaanku dulu? Ikut terbang bersama perginya Ayda atau justru terkubur dalam-dalam? Aku tak menyadari itu, seingatku tiba-tiba saja semuanya berubah drastis.

Bersambung…