“Riz, tadi waktu rombongan Alan ngajakin ke makam Alm. Ayda, kenapa kau gak mau?”

Aku mengembalikan ponsel Vino, lalu teringat tadi Alan dan teman-teman yang lain akan pergi ke makam Ayda. Tapi aku enggan, kutakutkan diriku gusar ketika berada disana. Biarlah ia kupeluk erat saja dalam doa.

“Ya, mungkin lain kali aja Vin.” jawabku datar.

Mobil Vino berhenti, kami sudah tiba di rumah. Kepalaku pusing overload akan memori beberapa tahun silam. Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar. Merebahkan tubuh dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar.

Waktu seolah berhenti, membosankan sekali harus lagi-lagi berada di masa lalu. Berada di masa lalu membuatku harus kuat menahan deruan caci maki. Mengutuk diri harusnya aku bisa menjaga sahabatku.

“Andai saat itu aku menemani Ayda…”

***

“Riz… Fariz…”

Ah, siapa sih yang mengetuk pintu kamarku sepagi ini? Jelas itu bukan suara Ibu atau Bapak. Apa jangan-jangan Vino? Pastilah ia mengajakku olahraga pagi lagi. Tapi, ini jam berapa sih?

“Oh, Vino… ada apa Vin?”

“Ini subuh bro, ayo ke masjid…”
Aku mengucek-ngucek mata, kulihat jam dinding menunjukkan pukul lima pagi kurang. Pastilah sehabis Isya aku ketiduran, laptop pun masih menyala. Sekarang sudah subuh ternyata, bergegas aku berwudhu lalu melangkahkan kaki ke masjid terdekat.

Angin di pagi buta begini cukup dingin, pastilah enak jika masih bergelung di tempat tidur. Ya, itu adalah tantangan dan Vino cukup hebat bisa bangun sebelum subuh bahkan ia juga membangunkanku.

Nyaman sekali berada di pelataran masjid, apalagi di dalamnya. Setelah sholat subuh, aku terdiam dipojokan masjid. “Apa Tuhan memaafkanku?” entahlah, aku hanya bisa bersemoga dan tak berhenti berdoa.

Berperang lagi dengan waktu, pagi ini aku cukup banyak borongan design banner, untunglah semalam sudah kuselesaikan setengahnya. Jadi aku bisa sedikit santai dan meregangkan otot.

“Mau lari pagi gak?” tawar Vino, benar saja ia hampir tak pernah absen olahraga pagi.

“Malas gerak bro, lagian lapar juga ini…” alasanku, tapi sungguh aku memang benar lapar karena tidak sempat makan malam.

“Ok, oh iya nanti siang jangan ketiduran. Kita keliling ngajakin Pian jalan.”

“Kita boncengan bawa motor kau aja ya Vin?”

“Ok ok, gak masalah…”

Sekalian saja Vino yang bawa motor, pikirku. Memang, dalam seminggu setidaknya ada satu hari yang entah apa sebabnya tapi jadi malas bergerak. Meski tidak banyak gerak tetap saja lelah, barangkali karena pikiran terlalu sibuk.

***

Aku memakai hoodie merah tua, lalu langsung menemui Vino di depan rumah. Katanya, Pian menunggu saja di Pantai Panjang. Ya, kami mau kesana. Meski terik selepas zuhur, tapi ada tempat teduh di pinggiran pantai.

Sepuluh menit berlalu, kami bisa melihat tulisan Pantai Panjang terpampang jelas. “Vin, itu bukannya Pian?” aku menunjuk gadis di pinggir pantai, tapi beberapa orang lelaki tampak mendekatinya.

Vino bergegas memacu langkah, aku menyusul di belakang. Jelas saja rombongan lelaki itu bermaksud menggoda Pian yang duduk sendirian.

“Hoi, jangan sentuh perempuanku!” gertak Vino. Aku terperangah mendengarnya. Beberapa orang lelaki tadi tertawa sinis, mereka yang bermaksud meraih tangan Pian pun menghentikan niatnya.

“Pergi sana bocah!” suruh Vino. Rombongan itu pun pergi dengan kekalahan. Kulihat Pian wajahnya gamang, ia pasti trauma diganggu lelaki mengingat sahabat baiknya sendiri mengalami kejadian buruk.

“Pian, lain kali jangan sendiri.” aku menyaksikan kekhawatiran besar di wajah Vino saat mengatakan kalimat itu untuk Pian. “Kau tidak apa-apa kan?” tanya Vino kemudian.

“Makasih Vino, Fariz… aku baik-baik saja.” suara lemah Pian jelas membuktikan bahwa ia tak baik-baik saja.

“Duduk di sana aja gimana? Ada kelapa muda juga.” saran Vino, aku dan Pian setuju. Panas terik begini kelapa muda memang menggoda.

Hening diantara kami, pikiran Pian pasti berkecamuk. Entah gadis itu memikirkan kata-kata Vino tadi ataukah justru berada di kilas balik kejadian Ayda, aku tak terlalu tahu. Tapi setelah Vino mengeluarkan candaan, ia pun tertawa.

Andai, dulu aku bisa menjaga dan melindungi Ayda seperti yang dilakukan Vino pada Pian. Ah, ada apa denganku? Aku hanya pahlawan kesiangan, sekalipun aku melakukannya sekarang, tetap saja tak akan mengubah apapun. Memusnahkan Soni dari muka bumi tak akan mengembalikan Ayda. Vino benar.

Aku hidup dalam penyesalan.

***

“Gawat Riz, gawat! Aku masih belum percaya, tapi Pian bilang Ayda meninggal.”

Tepat ketika Vino mengatakan itu, duniaku runtuh seketika. Saat itu, kami langsung menuju rumah Ayda. Sesampainya kulihat ramai, dan suara tangis pecah.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Tuhan?” batinku.

Aku mendengar samar-samar banyak orang membicarakan Soni. Saat jenazah Ayda ditemukan, Soni masih dalam pencarian. Kuajak Vino mencari Soni, aku tahu tempat persembunyiannya.

Soni, dua tahun di atas kami. Lelaki itu putus kuliah, dan seingatku ia memang menyukai Ayda. Sebab Ayda pernah cerita beberapa kali, ia mengatakan bahwa Soni terus saja berusaha agar mereka pacaran. Tapi Ayda selalu menolak.

Tak jauh dari Tapak Paderi, diantara rerumputan yang tumbuh tinggi, aku mencium bau Soni. Kutarik kerah baju lelaki laknat itu, ingin kulayangkan tinju tetapi Vino mencegahku.

Segera Vino menghubungi polisi, dan dalam sekejap di sekelilingku ramai. Soni pun diborgol. Sekilas kulihat hujaman ketakutan di wajah lelaki itu. “Matilah kau, setan!” umpatku penuh amarah.

Dadaku terguncang, gigiku gemeretak menahan aliran darah yang tak tahu tempat melampiaskan amarah. Aku marah, tapi apa yang bisa kuperbuat? Dan di hari berikutnya, aku menyaksikan reka ulang tempat kejadian perkara.

Sumpah demi apa, saat itu aku mengutuk Soni habis-habisan. Ia berpura-pura mengajak Ayda bertemu, lalu memukul Ayda hingga pingsan kemudian tubuh lemah gadis itu diikat. Lelaki setan itu lalu melancarkan aksi. Saat Ayda tersadar kemudian teriak, ia kembali memukul Ayda hingga tak bernyawa.

Aku menangis saat itu, sementara mulutku tak berhenti mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Soni. “Dunia akhirat kau gak akan selamat Soni, sekarat lalu matilah kau, mayatmu akan membusuk ditolak bumi. Keparat kau Soni!!!” aku benar-benar marah, tanyakan saja sama Vino apa selama ini aku pernah bicara kotor? Ia pasti akan menjawab tidak pernah, kecuali di hari kematian Ayda. Di hari itu, bagiku Soni lebih busuk dari semua hal yang busuk di dunia ini. Jadi wajar saja jika di mataku lelaki itu kotor tak ada bandingannya.

Sejak kejadian itu berlalu, aku selalu menatap layar ponselku. Kubaca pesan terakhir Ayda. “Fariz, jalan yuk ajak Vino juga. Aku butuh bodyguard nih, kak Soni ngajak aku ketemuan.”

Bersambung…