“Riz… lagi apa bro? aku punya berita besar.” pagi-pagi Vino sudah menggedor pintu kamar. Ingatanku melayang saat dulu masih SMA Vino mengatakan berita besar juga, di hari kematian Ayda.

“Berita apa Vin?” beranjak membuka pintu, aku harap-harap cemas mendengarnya. Aneh kulihat Vino mengenakan pakaian serba hitam seperti sekarang.

“Buruan mandi kita bakal pergi, cepat!” tanpa aba-aba Vino mendorongku masuk kamar lagi. Ada apa sih Vino? Berita apa maksudnya? Ia belum juga mau bercerita kalau aku tidak mandi segera.

Kuikuti keinginan lelaki itu. Sekarang aku sudah rapi dan Vino mengajak pergi. “Mau kemana sih Vin?” tanyaku geram.

“Ke rumah Soni, dia baru saja meninggal Riz.”
Oh Tuhan! Apa yang kudengar barusan? Enggan aku melangkahkan kaki kesana. Aku tidak bisa. “Maaf Vin, aku gak bisa kesana kayaknya.” Vino tampak menghela napas, kulihat ia diam sejenak kemudian turun dari motor.

“Masih belum bisa ikhlas juga Riz?”

“Susah Vin…”

“Tapi dia udah meninggal Riz, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Vino menceramahiku lagi, aku tidak peduli sama sekali soal Soni. Harusnya lelaki itu mendekam di penjara seumur hidup dan menderita selama-lamanya. Lebih baik aku mengerjakan hal lain daripada melihat Soni, sekalipun untuk yang terakhir kali.

“Ya sudah! Aku saja yang kesana Riz.”

Vino langsung menuju ke rumah duka, aku tebak ia sedikit kesal denganku. Memang, aku memang mengesalkan. Aku keras kepala dan pendendam. Memaafkan adalah hal tersulit bagiku. Apalagi kesalahan besar seperti yang sudah dilakukan Soni. Maaf saja aku tak semudah itu untuk melupa.

“Kenapa gak pergi sama Vino, Riz?” tanya Ibu yang akan menjemur pakaian.

“Lagi malas aja Bu…” jawabku lesu. Langsung aku menuju kamar dan berhadapan dengan laptop. Namun belum lama aku merasa gelisah, akhirnya kumatikan laptop lalu duduk di depan TV.

Meraih setoples makanan ringan, aku menonton televisi. Sementara pikiranku melayang entah kemana. Sejenak aku berpikir, mungkin bukan Tuhan yang tidak mendatangkan ikhlas di hatiku, tetapi justru aku yang enggan menerima dan tidak mau lapang dada, bahkan sekalipun tidak pernah mencoba untuk merelakan. Bisa jadi ini memang salahku. Mungkin saja aku yang terlalu menutup diri. Jadi, apa aku terlalu egois karena tidak memikirkan orang lain?

Lalu dulu, si Soni apa ia tidak memikirkan orang lain? Apa lelaki busuk itu tidak terpikir pada keluarga Ayda? Kenapa Soni melakukan kejahatan kalau ia tidak mau mendekam dalam penjara? Kenapa ia menuruti keinginan setan jika pada akhirnya ia mengemis permintaan maaf?

Rasakan sendiri akibatnya. Menuai apa yang dulu ditanam. Termasuk tidak mendapatkan maafku. Ah, pikiranku bergolak hebat. Aku masih tak tahu apa yang harus kulakukan?

*

Sudah pukul 10 pagi, matahari di luar tampak menyilaukan dan aku masih di depan telivisi. Bergerak saat mendengar dering ponsel, aku melihat pesan dari Vino.

“Datanglah kesini Riz, Soni belum juga dimakamkan. Kafannya dipotong kependekan terus.”

“Innalillahi…” aku merinding. Mulai ragu, kesana atau tetap tidak?

“Datanglah Riz, Ibu Soni memohon agar kau bisa datang. Lakukan untuk kedua orangtuanya kalau kau masih saja tidak menyukai Soni.”

Aku berdiam diri menatap layar ponsel. ‘Karma’ apa itu sebentuk karma? Akhirnya kupaksakan kakiku melangkah.

Sesampainya disana, aku melihat tak terlalu banyak orang yang datang. Hanya kerabat dan tetangga terdekat. Bahkan meski sudah memaafkan, keluarga Ayda tidak terlihat. Aku memahami itu.

Diujung sana aku melihat Vino, tapi aku enggan masuk. Aku tidak mau. Bukankah sudah cukup dengan datang kesini?

“Nak Fariz?” tanya sosok wanita paruh baya menghampiriku. Aku pun mengangguk, ia lalu mengelus pundakku. “Tolong… maafkan Soni Fariz…” ucapnya pelan, barangkali wanita ini adalah Ibunya Soni. Melihat kerutan di wajahnya aku luluh. Tak tahu malu sekali Soni memberi beban besar pada orangtuanya.

Ibunya sudah renta, mungkin memasuki umur 60an. Jari tangannya yang keriput masih saja di bahuku. Apa karena aku belum berucap sepatah kata pun? Ah! Berat sekali rasanya memberi maaf pada Soni.

“Iya Bu… Fariz maafkan. Fariz mencoba sebisanya Bu…” entah kenapa tiba-tiba airmataku jatuh. Aku dipeluk erat sekali oleh Ibunya Soni. “Terimakasih Nak…” ujarnya lalu beranjak masuk rumah lagi.

Aku merasa dadaku dipukul hebat, airmataku semakin tumpah ruah. Aku menjauh dari orang-orang, duduk di motor yang kuparkir di seberang jalan. Tangisku benar-benar pecah. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku cengeng sekali?

“Fariz… ini ambillah…” suara dari belakangku, saat menoleh kulihat Pian berdiri iba melihatku. Ia mengulurkan sapu tangan. Kuambil tapi tak juga bisa meredakan isak tangisku.

“Tidak apa-apa menangis Fariz. Hatimu perlu dibuat lega. Menangislah sepuas-puasnya…” kata-kata Pian justru membuat airmataku semakin banyak tertumpah.

“Sejak kepergian Ayda, aku yakin kau tidak pernah bisa menangis sekali pun. Yang ada hanya amarah dan dendam. Jangan keraskan hatimu seperti itu, tidak masalah sekali-kali menangis.”

Pian benar. Selama ini aku hanya meraung kesakitan menahan lubang besar di hatiku. Aku tak pernah menangis untuk meluapkannya. Hanya kusimpan dendamku dalam-dalam. Mengendap hingga memenuhi rongga dada. Dan sekarang semua itu kutumpahkan…

“Teman-teman… ayo pergi ke pemakaman…” ajak Vino yang baru saja datang menghampiri kami. Aku memalingkan wajah, malu sekali menangis begini.

“Gak ada masalah lagi?” tanya Pian ke Vino. “Syukurlah tidak ada lagi…” jawab Vino lalu kami pun menuju pemakaman.

Akan kumohonkan ampunan untukmu Soni, dengan besar hati aku akan melakukan itu. Kau sudah cukup menderita, sakit parah di dalam penjara lalu pemakamanmu terhambat. Tuhan sudah menunjukkan kuasaNya.

Bersambung…