“Nak, ini Ibunya Ayda. Hari ini tolong datang ke rumah ya? Ada yang mau Ibu bicarakan…”

Aku termangu, beberapa kali kupandangai pesan tadi “Harus kubalas apa?” pikirku. Entahlah, nyaliku ciut tiba-tiba. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengatakan “Baiklah Bu…”

Apa yang ingin Ibu Ayda bicarakan? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui? Atau… ah! Entahlah. Aku benar-benar tak tahu. Dan aku memilih untuk tidak memusingkan hal itu.

Aku beranjak mematikan laptop yang kerap kali menyala lalu kutinggal tidur, aku lalu memacu motor menuju Masjid Jamik sebab sebentar lagi masuk zuhur. Melirik ke sebelah dan tampaknya tak ada gerak-gerik Vino. Barangkali lelaki itu berada di suatu tempat bersama kameranya.

Aku berdiri diambang pintu Masjid, dilihat sekilas memang Masjid Jamik sangatlah unik. Tak hanya itu, sosok yang berada dibalik pembangunan Masjid inilah yang membuatnya lebih terkenal. Pendiri dan perancang Masjid Jamik ini adalah Bung Karno saat ia diasingkan di Bengkulu.

Dan berada disini memang sangat nyaman. Selesai zuhur aku masih terdiam di pojokan Masjid, aku tahu sekarang aku harus bertemu Ibunya Ayda.

***

Sesuatu yang berharga kerap kali disadari setelah kehilangannya, namun saat sadar justru sudah terlambat. Terlambat untuk mengakui dan mengatakan bahwa ia seberharga itu dalam hidup.

“Dulu Ayda tidak pernah menceritakan kalau ada masalah dengan teman-temannya.” ungkap Ibu Ayda. Kupandangi guratan halus di sekitar matanya, kerutan yang menandakan umur semakin bertambah.

“Ayda tidak pernah terlibat dalam masalah apapun Bu, kami sangat mengetahui itu.” ujarku. Memang begitu, karena Ayda sangat disukai teman-teman yang lain. Ia baik, cantik dan bersahabat.

“Belakangan ini Ibu memimpikan Ayda, Riz…” Ibu Ayda menatapku dalam-dalam. “Tapi dalam mimpi Ibu, Ayda selalu menyebut namamu.” percakapan bergulir serius dan aku terheran-heran.

“Ibu mau tanya sesuatu, Fariz…” Ibu Ayda menghentikan kata-katanya sejenak. “Nak, apa kau belum ikhlas dengan kepergian Ayda?” tanyanya.

Aku terdiam. Tak ada sepatah kata pun yang kukeluarkan. Aku merutuk diri dalam-dalam, “Apa perasaanku selama ini mengganggu Ayda?” pikirku.

“Fariz cuma gak percaya kalau Ayda pergi secepat itu dan dengan cara yang…” ah, kata-kataku terputus. Tidak mampu kulanjutkan lagi. Dadaku bergemuruh hebat.

“Kalau membunuh itu tidak dosa, sudah Fariz habisi si Soni itu Bu.” lanjutku terbata-bata.

“Fariz… belajarlah ikhlas nak, kami sekeluarga juga berat menerima kenyataan itu tapi kami harus ikhlas. Ibu yakin Fariz juga bisa.”

“Entahlah Bu…”

“Pertimbangkan kebahagiaan Ayda ‘disana’ Fariz… terlebih kau harus melanjutkan hidup dengan baik meski tidak ada Ayda.”

Aku tertegun lagi. Tiba-tiba aku terbayang wajah sedih Ayda kalau saja ia tahu keadaanku sekarang. Aku bingung harus memulai darimana agar ikhlasku datang? Tuhan, beri aku pencerahan…

***

“Istighfar Fariz, kau harus mengikhlaskan Ayda agar dia bahagia. Jangan tanam Ayda dalam belenggu campuran antara dendammu pada Soni dan amarahmu yang tak tertuntaskan.”

Pesan singkat dari Pian. Gadis itu rupanya ketularan bijak dari Vino. Aku lelah dan memilih tidur lebih cepat malam ini.

“Fariz…”

“Astaghfirullah…” aku terkesiap bangun saat tadi mendengar seseorang memanggil namaku. Ibu dan Ayah juga sudah tidur, tidak mungkin Vino yang memanggilku. Dan suara tadi entah kenapa terdengar familiar…

“Ayda?”

Aku mengusap wajah berkali-kali. Kulirik jam dinding, ternyata baru sepuluh menit aku tertidur. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Bagaimana agar ikhlasku tidak meregang nyawa diambang dada?

Beranjak dari tempat tidur, aku menyalakan laptop. Ribuan ingatan menghantuiku, terjebak dalam kurun waktu yang lama sudah membuat rasaku menjadi hambar. Sakit hatiku masih saja seperti baru kemarin tersambar. Nanar kuhela ribuan percuma atas usahaku untuk melupa, tetap saja lubang besar di hati ini masih menganga.

Bersambung…