Ah, kenapa juga aku mematikan ponsel selama liburan penenangan saat itu? Andai… andai… andai aku bisa mengatakan pada Soni “Jangan sentuh perempuanku!” mungkin tidak akan berakhir buruk.

***

“Maaf soal kata-kataku tadi, Pian. Aku tidak bermaksud…”

“Hei, Vin… it’s okay, kau udah nolongin aku.” air muka Pian terlihat mulai membaik. Pasti Pian, pasti kami akan menjagamu. Jangan ragu untuk meminta sesuatu pada kami. Tidak akan pernah lagi kami membiarkan sahabat kami dilukai oleh orang lain. Sedikit pun. Aku benar-benar akan menjadi pembunuh jika ada orang yang melukai teman-temanku.

“Gak ada salahnya belajar beladiri loh Pian, kalau ada lelaki iseng kayak tadi kan bisa langsung kau tendang.” aku sedikit memberi nasehat. Sejenak kulihat Pian mengobrak-abrik ponselnya kemudian…

“Nih, liat Riz…”

“Oh My God! Pian… ternyata kau…” aku terperangah saat melihat foto yang diperlihatkan Pian padaku. Tidak salah lagi, itu foto Pian yang tengah latihan silat. Astaga, wanita ini sudah sabuk hitam. Berarti, wajahnya gamang tadi karena mendengar kata-kata Vino.

“Hahaha…” tawaku meledak, terasa seperti sesuatu menggelitik perut. Rasain kau Vino, makanya jangan asal mengklaim dengan kata ‘perempuanku’.

“Fariz…” di sebelahku Vino menggumam. “Waw, ini pertama kalinya kau tertawa lepas lagi Fariz…” raut wajah Vino serius. Aku baru tersadar dan ekspresiku kembali datar. Aku langsung meraih kelapa muda di depanku.

Dan Pian, jelas ia tampak bertanya-tanya. “Maksudmu Vin? Fariz selama ini memang berubah pendiam? Dan baru kali ini dia tertawa kayak tadi? Oh dear…”

“Iya Pian, kau tahu sendiri kan, sejak kepergian Ayda…” suasana kembali hening, hanya terdengar gemerisik angin menggerakkan dedaunan, lalu tepat di depan kami, debur ombak menggelegar.

“Fariz, kepergian Ayda bukan salahmu. Aku juga hidup dalam penyesalan, andai dulu aku menemani Ayda mungkin tidak akan…”

Suara Pian tersendat, kata-katanya tercekat di tenggorokan. Aku tahu itu, aku selalu merasakan hal yang sama setiap kali berbicara tentang Ayda. Ah, rupanya bukan hanya aku. Bukan hanya aku yang hidup dalam penyesalan selama ini. Tetapi, barangkali hanya aku yang lupa cara bahagia.

“Kita bertiga adalah sahabat Ayda, tapi aku yakin Ayda tidak akan suka kalau kita larut dalam kesedihan.” Vino mencairkan suasana. “Aku secara pribadi sudah ikhlas, yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa sebanyak-banyaknya untuk Ayda.” ujar Vino, luar biasa sekali hati pemuda ini.

“Kau benar Vin, aku juga selalu belajar untuk ikhlas.” ucap Pian. Lagi-lagi kami kembali berjibaku dengan pikiran masing-masing. “Kau juga harus belajar mengikhlaskannya, Fariz…” Pian menatapku dalam-dalam.

“Aku tahu, Ayda cinta pertamamu kan? Bayangkan perasaannya kalau kau terus larut dalam kesedihan.” skakmat, Pian membuatku mati kutu. Gadis ini benar, Ayda adalah orang yang kusukai. Pertama kalinya dan tak akan terlupakan.

Andai, masa depan memberiku ruang istimewa untuk kembali ke masa lalu, aku ingin mengubah keadaan itu.

“Hari ini, ayo kita kesana…” Pian bermaksud mengajak kami pergi ke makam Ayda. Aku rasa mungkin sudah waktunya aku memberanikan diri. Berani untuk menatap batu nisan yang kaku membisu, yang ketika berkali-kali kutanya tetap tak akan menjawabku.

***

Tuhan, aku tahu… pada akhirnya kami semua akan kembali pada-Mu. Aku menatap ke sekeliling, membayangkan betapa sakitnya dijemput oleh kematian. Yang bisa dibawa hanya amal kebaikan, tidak harta ataupun sanak keluarga, hanya amal baik dan doa yang mengalir dari orang-orang baik.

Ayda, aku penasaran seperti apa rupamu sekarang? Kuharap kau yang ter-jelita di surga, suatu hari nanti aku juga akan berada di sana. Aku selalu berusaha agar Tuhan membersamakan kita di surga. Jadi, tunggu aku Ayda…

“Riz… jangan ngelamun!” sergah Vino saat mendapatiku berdiam diri. Aku menatap susunan keramik biru muda yang rupanya tak sedikitpun menyamai Ayda. Kucabut rerumputan liar yang tumbuh, ada juga beberapa batang bunga berwarna kuning dan merah hati tampak enak sekali dipandang. Maaf Ayda, aku tak membawakan bunga. Apa tidak masalah jika kelak kubawakan kaktus saja?

Kaktus itu seperti dirimu Ayda, diluar tampak tajam dan berduri, bahkan memang itu yang menjadi perlindungan diri. Tapi sesungguhnya, di dalam kau menyimpan kelembutan yang luar biasa hebat. Kau baik, kau cantik, aku selalu suka melihatmu mengenakan jilbab merah muda. Aku mengingatnya dengan jelas. Keramik disini sama sekali tak mirip denganmu.

Maafkan aku Ayda, aku tidak bisa menjagamu. Aku gagal menjadi seorang sahabat. Maafkan aku Ayda. Aku tahu, ribuan penyesalan yang kuucapkan akan terasa percuma. Sebab Ayda tak menjawab, sebab Ayda tak memberi tanda.

“Jangan menangis disini Pian, tidak baik.” larang Vino saat melihat raut wajah Pian memerah sedih. Gadis itu pun mengangguk lalu merogoh lembaran tissue dari ransel mungilnya.

Lama kami larut dalam keheningan, mengingat satu per satu kenangan bersama Ayda. Tapi sekuat apapun digenggam, tetap saja itu hanya berupa kenangan. Tidak bisa kujadikan masa depan atau tumpuan untuk kisah cinta yang kupendam.

Ayda memang sudah pergi, tapi ia tetap hidup dalam ingatan. Ia tetap menjadi sahabat terbaik kami.

“Sudah… ayo kita pulang?” ajakku pada Vino dan Pian. Keduanya pun mengangguk, kami melangkahkan kaki berharap esok hari mendapati hati yang lebih baik lagi, agar lapang hingga ikhlas bisa datang.

Meskipun untuk melakukan itu aku merutuk diri dalam penyesalan, tapi Vino dan Pian benar; aku tidak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan. Sulit? Iya, bahkan memang aku sangat buruk dalam melupakan.

Selamat jalan untuk yang ke sekian, Ghayda Fattana. Kau selalu hidup dalam ingatan, berbahagialah di sisi-Nya. Kami akan selalu mendoakan, hingga kita kembali dipertemukan.

***

“Hm, siapa sih… ponselku dimana?” aku terbangun dari tidur siang saat mendengar dering ponsel. Kuraba di sebelah kanan dan kiriku tidak ada, aha! Rupanya disana, di ujung kakiku. Membaca pesan singkat itu dengan hati-hati, entah kenapa tiba-tiba dadaku tersedak sakit. Mataku tiba-tiba saja memerah.

“Nak, ini Ibunya Ayda. Hari ini tolong datang ke rumah ya? Ada yang mau Ibu bicarakan…”

Bersambung…