HAI lautan, perkenankan kusampaikan bahwa ada sajak yang tak sempat kutuliskan. Izinkan aku menyampaikan bahwa sekarang rasa sakitku sudah kubuang. Aku ingin lengang menatap bebas kehidupan di depan.

“Sudah kutebak kau pasti disini…”

Suara itu lagi, Vino menyusulku. Ia memang hapal dua kali dalam seminggu aku berada di Tapak Paderi. Sekarang aku disini, lagi-lagi beranjak menyapa lautan setelah meninggalkan gigitan jagung bakar.

“Bukannya kau ada pemotretan tadi Vin?” tanyaku.

“Iya Riz ada tadi, sekarang sudah selesai…”

Sejenak kemudian tampak Vino membidik beberapa gambar horizon yang membentang. Aku menatap lengang jauh di seberang, mengenang kejadian beberapa hari lalu saat pemakaman Soni. Benar-benar tak berguna seluruh harta dunia, takkan ada yang dibawa mati. Hanya amal ibadah yang selalu setia.

“Aku bisa mengikhlaskan Ayda sekarang Vin…” kataku pelan. Aku sedang bertarung dengan perasaan sekarang. Egoku bilang untuk selalu mendekap Ayda, tetapi aku mencoba membunuhnya. Aku harus bisa membunuh egoku.

“Syukurlah… kau disini pantas bahagia Riz, begitupun dengan Ayda ‘disana’…”

Vino menghela napas. Ia tampak lega setelah mendengar pernyataanku barusan. Ombak yang berkejaran seolah berlari dengan riang, bahkan langit yang membiru juga tampak haru. Aku bahagia, harus bisa bahagia.

“Oh iya Riz aku ada berita bahagia…” ujar Vino lalu tersenyum lebar.

“Oh ya? Apa?” tanyaku penasaran.

“Pian… dia pindah tempat kerja ke Bengkulu.” kulihat Vino tertawa lepas. Entah maksud apa yang tersembunyi di balik tawa itu, aku tak benar-benar tahu. Tapi jika boleh menebak maka perkiraanku Vino senang karena tak lagi jauh dengan Pian.

“Hayo ada apa?” godaku, aku tertawa? Ah benar saja… sejak kapan aku bisa tertawa lagi seperti ini? Seingatku dulu waktu SMA aku memang sering tertawa saat mengerjai Vino dan yang lain. Sekarang, darimana selera humorku muncul dengan tiba-tiba?

“Haha… gitu dong Riz, kudu belajar tertawa biar bahagia.”

Oh yang benar saja? Apa Vino balik membalas mengerjaiku? Lalu tentang Pian, benarkah? “Hei bro! tadi kuajak Pian kesini, bentar lagi dia sampai.” kata Vino.

“Tapi dia benar pindah kerja ke Bengkulu kan?” selidikku.

“Iya bro. Kemarin Pian memberitahuku.”

Aku bernapas lega, akhirnya bisa kudapati Vino tak lagi sengsara perihal hati. Aku paham betul bagaimana lelaki ini menyimpan rapi perasaannya untuk Pian.

“Nah… itu dia…” aku menunjuk seorang gadis yang menuju ke arah kami. Tapi, Pian tidak sendiri.

***

Aku mengernyitkan dahi saat beberapa kali Vino menyikut lenganku. “Buruan kenalan…” bisiknya. Aku benar-benar ingin tertawa, tapi kutahan. Entah kenapa kami berdua kembali seperti bocah beberapa tahun silam.

“Hai Fariz… Vino…” sapa Pian. Kami pun tersenyum.

“Oh iya, kenalin ini sepupuku. Fina, kenalin ini temanku Fariz dan Vino.” lanjut Pian. “Dulu kan Vino bilang jangan suka jalan sendirian, makanya kuajak Fina.” Jelas Pian lalu tersenyum ke arah Vino.

Wangi laut menyeruak terseok-seok mengejar langkah kami. Karena hari cukup terik, kami pun kembali ke pondokan lalu memesan jagung bakar lagi.

“Fina sudah kerja juga?” aku membuka percakapan pada gadis di sebelah Pian.

“Iya, itu loh Fariz… kantor kami pernah memesan banner, kau ingat gak? Mungkin sebulan lalu.” beritahu Fina. Tapi seberapa kuat aku mencoba tetap tak bisa kuingat, jadi aku hanya menggeleng.

“Wah, pasti karena sibuk jadi gak ingat…” ucap Fina lalu tersenyum ramah.

Kami duduk tepat berhadapan dengan pantai, memandang bebatuan besar yang amat kokoh rasanya mengagumkan. Di sebelah sana tampak banyak anak muda sedang mengabadikan gambar. Memang objek foto di Tapak Paderi sangatlah menarik hati.

“Guys, bentar ya… aku kearah sana dulu.” pamit Vino lalu menuju pondok sandal jodoh. Aku perhatikan ia tampak bercakap-cakap dengan beberapa orang, lalu entah apa yang ditulisnya di pasir dekat sana.

Pian dan Fina menikmati jagung bakar dan es teh. Aku merogoh saku celana saat kudapati dering ponsel dan pesan singkat dari Vino. Apa maksudnya?

“Riz, tolongin aku ajak Pian kesini… ada yang mau aku kasih liatkan ke dia.”

Aku kebingungan sendiri tapi tetap kuikuti permintaan Vino. Kuajak Pian serta Fina kesana. Beberapa orang yang lewat di dekat pondok sandal jodoh tampak senyam-senyum, Vino terlihat membalas dengan senyuman juga.

Kukira bukan hanya aku yang terperangah, Fina juga terlihat kaget dan terlebih lagi Pian. “Pian, will you marry me?” tulis Vino di pasir, tulisan itu dibingkai ukiran berbentuk hati. Ada-ada saja si Vino, kenapa ia tak memberitahuku dari awal? Kan bisa kubuat lebih heboh dari ini.

Wajah Vino harap-harap cemas. Aku bisa menerka kata-kata di kepalanya. “Jika dulu kau menolakku menjadi pacarmu, maka sekarang kumohon terima aku sebagai pendamping hidupmu. Aku sudah jauh lebih baik dari bocah tengil saat SMA.” barangkali begitu kalimat yang mengitari isi kepala Vino.

“Jawab… jawab… jawab…”

“Wahh…” aku kaget mendengar suara-suara di sekeliling kami. Entah sejak kapan mereka seksama menyaksikan kejadian langka ini.

Pian, ia hanya tercenung. Ia menatap Vino dalam-dalam. Pian tak tersenyum. Mungkin keduanya tengah berkomunikasi lewat hati. Mungkin juga Pian sedikit malu disaksikan banyak orang. Aku mendekati Pian, lalu kukatakan sesuatu.

“Kau beruntung disukai sejak lama oleh lelaki seperti Vino, Pian.” kukatakan itu. Memang benar. Aku tulus mengatakannya, sebab aku tahu betul banyak hal tentang Vino.

“Aku bersyukur dalam-dalam, Fariz… dia sudah berubah; tidak lagi berniat mengikatku dengan status pacaran, tapi dengan pernikahan.” Pian membuatku heran, jika itu benar kenapa ia mendiamkan Vino sekarang? Lihat lelaki itu sudah cemas bukan kepalang. Takut kejadian yang sama menimpanya lagi.

“Tapi aku terlalu gugup sekarang…” ujar Pian. Oh astaga… wajar saja Pian hanya diam.

“Tapi kau harus menjawab…”

“Fariz benar Pian, harus coba dijawab…” dukung Fina atas perkataanku. Beberapa jenak angin lewat, Pian pun memandang ke arah Vino. Gadis itu mengangguk meski dengan senyumnya yang kaku.

Disana, berseberangan dengan kami lepaslah beban berat Vino. Ia tersenyum bahagia. “Selamat Pian, hari-hari ke depan kau akan menjadi bagian keluarga Xavier.” kataku lalu tersenyum. Pian hanya mengangguk. Ia ingin cepat-cepat pulang, segera ia mengajak Fina berlalu dari tempat itu. Sekelebat Pian bertemu pandang dengan Vino.

Ah, manusia yang lagi jatuh cinta memang tampak aneh. “Gilaaa bro… ya ampun Vino, kenapa kau gak ngasih tahu aku dari kemarin?” ucapku lalu tertawa. Vino hanya tersenyum lepas.

Kami lalu berkisah banyak hal. Esok hari jika kami berdiri disini lagi maka Vino barangkali sudah menggandeng tangan Pian. Bagiku itu adalah sebuah kebahagiaan, dapat melihat dua sahabat dibersamakan olehNya.

“Kau lihat mereka Ayda? sahabat kita akan mengikat janji sehidup sesurga. Semoga kau betah menungguku disana… cepat atau lambat, kita pasti akan bertemu. Aku tidak akan mengatakan selamat tinggal padamu Ay. Karena tidak ada yang ‘selamat’ dari kata selamat tinggal. Biar kuabadikan kau dalam kenangan, sekarang aku bisa mengingatmu tanpa merasa terluka.”

“Dan kau Fariz… harus beranjak melupakan Ayda dan memulai lembaran baru…” ujar Vino serius.

“Semoga saja Vin, tapi aku tidak janji…”

Perlahan, kami pun melangkahkan kaki dari Tapak Paderi. Mungkin aku harus mengurangi jadwal kunjunganku kesini. Tidak baik berlama-lama tenggelam dalam kenangan, sementara aku masih harus menikmati perjalanan panjang yang dihadirkan Tuhan. Jika kupikir lagi, sebenarnya bahagia itu sederhana. Hanya saja ego yang tak pernah mengalah. Lalu hari ini dengan runtuhnya ego, maka aku yang jadi pemenangnya.

Tamat…