LAUT menggelegar seolah hendak meremukkan karang dalam satu hempasan. Burung gereja yang tadinya bernyanyi pelan pun beterbangan. Jagung bakar yang sudah hilang satu gigitan menjadi saksi bisu bahwa di atas pasir pernah kutulis namaku. Dan namamu? Ah! Itu sudah tujuh tahun yang lalu.

Orang bilang, disini tenang. Melihat ribuan sandal digantung beraturan, mendengar kicauan anak muda berpasangan, atau sekadar melihat perahu nelayan di tepian. Tenang apanya? Kilatan harapan dirasa terbuang. Nyaris tak bersisa barang segenggam.

“Masih merenungi kisah yang sama, Riz?”
Aku menoleh. Kulihat seseorang memegang kamera. Ah dia! Sahabatku –Arvino Xavier. “Tapak Paderi menyimpan banyak kenangan kan?” dalam satu hentakan Vino berhasil menebak apa yang kupikirkan.

“Iya Vin. Kenangan tujuh tahun lalu hampir membuatku jadi pembunuh.” aku terpaku menatap laut di seberang.

“Sejak hari itu, seorang Athafariz Hizam yang kukenal periang tiba-tiba jadi pemurung.” kenang Vino. Ia tahu betul kelakuanku di putih abu-abu.

“Fariz, kau harusnya bisa hidup lebih baik. Apa yang terjadi di masa lalu sama sekali bukan salahmu.” Vino lanjut menceramahiku. Ia amat bijak dalam memberi nasehat.

Lagi-lagi aku hanya diam. Berjalan meninggalkan gigitan jagung bakar, aku memberi laut kesempatan untuk menyentuh kakiku. Ah! Laut curang, ia menyapu jeans coklatku hingga selutut.

Vino mengikutiku dari belakang, lelaki itu tampak meletakkan jaket biru tuanya di atas kepala. Siang menjelang sore seperti ini memang terik, dan ketika beranjak semakin sore justru makin ramai. Sebab banyak orang terpikat pada sunset disini.

“Dalam seminggu berapa kali kau ke Tapak Paderi Riz?”

Aku berpikir sejenak setelah mendengar pertanyaan Vino. “Dua kali bro!” jawabku datar.

“Wah, kalau aku yang dua kali seminggu itu puasa sunnah bro.” di belakangku Vino tertawa. Dan biar kuberitahu satu hal lagi, selain bijak Vino adalah sahabat yang baik. Ia bercita-cita menjadi fotografer, dan seperti kebanyakan penduduk disini bahkan sama sepertiku, Vino juga berkulit sawo matang.

Di masa kuliah, Vino tergabung dalam organisasi pencinta alam karena aktivitas disana membuat Vino dan kameranya bahagia. Ia juga kerap kali tampil di barisan depan saat orasi. Bahkan Vino dengan suara bass-nya itu sering jadi langganan mengaji di berbagai acara besar di kampus.

Aku dan Vino, selain sahabat sejak SMA, ia memang tetanggaku –pindah di dekat rumah kami delapan tahun yang lalu. Dulu tinggi Vino sejengkal di bawahku, tapi siapa sangka sekarang menjulang sama sepertiku.

“Riz, besok ada temu alumni SMA angkatan kita. Ikut gak?”

Aku berpikir dalam-dalam. Kumaknai percuma temu alumni itu. Sebab hal terburuk yang menghantuiku ada di masa SMA.

“Biar kupikir-pikir lagi Vin.”

“Ingat Ahda Pian? Teman sebangku Almarhumah Ghayda Fattana itu? Besok dia datang. Terbang jauh-jauh dari Bandung ke Bengkulu loh Riz.”

Ah Vino! Kau baru saja menusukkan sebilah pisau tepat di jantung rapuhku. Ayda, sudah lama sekali… kenangan buruk itu masih memburuku. Kusalahkan diriku atas perginya dirimu. Andai aku bisa menjagamu atau… andai dulu Vino tak menghalangi, sudah kulabuhkan tinju ribuan kali di wajah laknat milik Soni.

Namun dulu, apalah aku? Hanya remaja kaku bermodal tinju. “Iya Vin. Aku masih ingat Pian. Gadis lugu itu… dulu tangisnya paling kencang waktu kepergian Ayda.” Ah, mataku perih. Tiba-tiba aku malu pada diri sendiri.

“Maaf Riz, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada kejadian mengerikan itu.” wajah menyesal Vino selalu bisa mendapat maaf dariku. Di setiap detik ketika kusadari napasku masih teratur, selalu aku mencoba lebih kuat.

“Berdirilah kuat seperti seorang lelaki sejati.” begitu nasehat Vino yang tak pernah terlupa olehku.

“Tidak masalah bro! tapi memang, meski sekarang umur kita sudah mendekati seperempat abad, aku masih teringat Ayda…”

Untuk waktu yang sangat lama aku berusaha menguburkan luka. Seluk beluk persahabatan kadang memang mengerikan. Penuh canda tawa lalu tiba-tiba diserang tangis kencang. Aku ragu warna putih terang dalam sekejap bisa berubah abu-abu. Tapi, kejadian itu sudah memberitahuku.

“Pokoknya besok usahakan datang bro. Setelah acara, kita semua akan ke makam Ayda.”

“Baiklah Vin…”

Entah apa yang hendak disampaikan alam, namun yang pasti laut disini sedikit membuatku nyaman. Melihat gelombang yang pasang surut, aku belajar memahami masa laluku yang amat kusut.

“Belajar tersenyum bro, karena bahagia itu sederhana.” beritahu Vino sebelum beranjak kembali ke pondok, di tempat semula. Jagung bakarku mungkin sudah dingin sekarang. Biarlah! Toh itu hanya alasanku agar tadi bisa duduk di tempat itu.

Aku sudah lupa cara tersenyum, aku benar-benar lupa bagaimana rumus bahagia. Aku tidak ingat barang sekelebat, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa bahagia.

Mungkin di saat itu, ketika aku dan Vino berlarian menuju gerbang lalu meminta maaf pada satpam. Iya, barangkali di saat itu. Ketika kami terlambat dan tak diizinkan lagi masuk, lalu Ayda datang membantu. Sungguh, pak satpam lebih mempercayai lemah lembutnya Ayda.

Untuk yang ke sekian kali, aku terpenjara di masa lalu. Pusaran waktu memaksaku kembali ke saat itu. Kenangan istimewa, ketika es krim saja dapat membuat kami tertawa. Oh iya, sekarang aku ingat… dulu aku memang pernah bahagia.

Bersambung…