Ilustrasi

BULAN Februari 2018, publik Bengkulu dikejutkan dengan kabar empat pemudi yang hilang. Mereka adalah Auzia Umi Detra (17) warga Bengkulu, Hasyuni (26) warga Bengkulu, Mentari Nur Hidayah (16) warga Bengkulu Selatan, dan Lorita Nur Adiza (16) warga Bengkulu.

Auzia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia karena dibunuh oleh temannya. Hasyuni ditemukan di Masjid Jamik Kota Bengkulu dalam keadaan linglung dan kehilangan barang-barang berharga. Mentari ditemukan bersama kekasihnya. Sementara Lorita belum ditemukan.

Fenomena banyaknya gadis yang hilang selama bulan Februari 2018 menunjukkan kepada Bengkulu betapa pengawasan orangtua terhadap anak-anaknya harus diperketat dan betapa pentingnya keaktifan masyarakat dalam mengawasi kehidupan disekitarnya.

Pengetatan pengawasan orangtua itu bukan hanya kepada person anak semata, namun juga harus diarahkan kepada pergaulannya karena setelah keluarga, pergaulan merupakan faktor penentu dalam pembentukan karakter sang anak.

Pengawasan terhadap pergaulan sang anak justru harus lebih diutamakan karena saat ini sebuah kebudayaan baru telah lahir akibat dunia yang terglobalisasi melalui banjirnya arus informasi.

Arus informasi yang melanda Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dengan masifnya televisi, media sosial, dan terutama internet.

Arus informasi itu hanya sedikit menyajikan informasi yang mendidik dan mengandung konten ilmu pengetahuan. Mayoritas menyajikan rayuan konsumerisme, memaksa manusia menghabiskan waktunya untuk bekerja demi memuaskan nafsu berbelanja dan kebutuhan yang tak berbatas.

Konten-konten konsumtif, cabul, dan tidak mendidik yang disiarkan secara terus menerus pada akhirnya membentuk karakter para pemudi dan pemuda yang hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup.

Melahirkan pemuda yang kehilangan akal sehatnya yang tega menghabisi nyawa temannya demi membayar indekos. Melahirkan generasi instan, pemudi dan pemuda yang mudah patah arang, kehilangan semangat dan cita-cita besar ketika terbentur dengan persoalan kecil dan remeh temeh.

Arus besar informasi itu tidak diisi oleh penanaman nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, patriotisme, budaya nasional dan kecintaan terhadap bangsa.

Layar kaca telivisi menjejali pemudi dan pemuda dengan nilai-nilai individualisme, konsumtifisme, pragmatisme, dan penghambaan terhadap uang.

Ini merupakan persoalan besar yang tentunya tak mudah untuk diubah tanpa merubah tatanan kehidupan secara menyeluruh. Dan cara yang paling efektif untuk mengubah hal ini adalah dengan pendidikan.

Pemudi dan pemuda harus diarahkan untuk belajar segiat-giatnya dan mengabdikan pengetahuannya untuk menangkal nilai-nilai individualisme, konsumtifisme, pragmatisme, dan penghambaan terhadap uang.

Alih-alih disibukkan dengan hal remeh temeh, kaum mudi dan muda Bengkulu harus bisa diarahkan untuk gemar melakukan riset atau penelitan, mendorong inovasi dan penemuan teknologi baru untuk kepentingan rakyat banyak.

Mudi muda Bengkulu harus berani memanfaatkan jejaring sosial mereka secara positif dan memerangi penyebaran pornografi, fitnah, hoax, propaganda kebencian atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Pergaulan yang sehat dikalangan mudi muda tentu akan menghasilkan perbuatan-perbuatan dan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Pergaulan yang sehat adalah salah satu kebutuhan agar tak lagi ada pemudi yang menghilang atau dihilangkan dari rumahnya.