Bengkulu sebelum dijajah, (Foto: good news from indonesia)

Di masa itu, Inggris tak lebih dari penjajah yang datang karena terpesona pada keindahan dan geografis daerah Bengkulu yang strategis.

Masyarakat di Bengkulu hidup dengan damai dan terdiri dari berbagai suku. Diantaranya adalah suku Rejang, suku Serawai, Orang Lembak, Orang Pasemah, Orang Melayu Bengkulu, Orang Muko-muko, Orang Enggano dan lain-lain.

Dalam suatu naskah Melayu disebutkan bahwa Raja pertama di Bengkulu adalah Ratu Agung yaitu keturunan dari kerajaan Majapahit. Pada zaman Ratu Agung, Bengkulu masih disebut Sungai Serut.

Ratu Agung memiliki tujuh orang anak; Radin Cili, Manuk Mincar, Sambang Batu (Lemang Batu, Lumpang Batu), Tuju Rumpang (Tajuk Rompong), Rindang Papan, Anak Dalam Muaro Bengkulu, dan Puteri Gading Cempaka.

Setelah Ratu Agung wafat, kepemimpinan digantikan oleh Anak Dalam Muaro Bengkulu. Ia memimpin dengan adil dan bijaksana serta murah hati.

Pemerintahan Anak Dalam Muaro Bengkulu juga tersohor karena ia memiliki seorang adik yang cantik jelita bernama Puteri Gading Cempaka.

Tersohor hingga ke Aceh, akhirnya Pangeran Aceh pun meminta restu Ayahnya untuk melamar Puteri Gading Cempaka.

“Ayahanda, ananda ingin menyampaikan hasrat hati. Ananda ingin mempersunting Puteri Gading Cempaka sebagai istri.” beritahu Pangeran Aceh pada Ayahnya. Ia pun mendapat restu lalu menyiapkan segala sesuatu untuk meminang Puteri Gading Cempaka.

Malang melintang, Pangeran Aceh mendapat jawaban yang tak ingin didengarnya.

“Maaf, aku tidak bisa menerima lamaranmu Pangeran.” ucap Puteri Gading Cempaka. Pangeran Aceh yang datang bersama rombongan pun amat tersinggung. Mereka menganggap hal itu sebagai penghinaan besar. Hingga terjadilah sengketa dan perkelahian.

Tentulah dibalik penolakan itu ada latar belakang lain. Kemungkinan desakan untuk menempatkan Anak Dalam di bawah pengaruh kerajaan Aceh. Sebab Bengkulu di masa lampau sangat kaya akan hasil bumi.

Dalam situasi yang kacau, datanglah rombongan dari kerajaan Pagarruyung (Minangkabau). Pemimpinnya adalah Baginda Maharaja Sakti.

Berkat kelebihan Baginda Maharaja Sakti, ia dikehendaki menjadi raja di Bengkulu. Setelah pengangkatan resmi ia merasa resah sebab belum memiliki seorang Permaisuri.

Terdengarlah tentang Puteri Gading Cempaka, Baginda lalu meminta restu pada keenam saudara Puteri Gading Cempaka untuk menjadikan adik mereka sebagai Permaisuri.

Ditakdirkan berjodoh, pernikahan Baginda Maharaja Sakti dan Puteri Gading Cempaka pun digelar besar-besaran. Dari pernikahan mereka lahirlah Aria Bago yang menggantikan Ayahandanya menjadi raja setelah Baginda Maharaja Sakti wafat.

Sedangkan anak dari Aria Bago adalah Aria Kaduk yang kemudian menikahi seorang puteri dari klan besar di Bengkulu. Putera dari Aria Kaduk bernama Aria Lemadin.

Di masa pemerintahan Aria Lemadin, didirikanlah Balai Buntar Bengkulu, balai yang teramat indah. Hingga Aria Lemadin menamakan puteranya Baginda Balai Buntar.

Pemerintahan pun bergulir dari raja satu ke raja lain sesuai garis keturunan. Tiba saatnya Depati Bangsa Raja yang memimpin. Pada masa itu ia bertolak ke Banten bersama saudaranya Mas Ratu kemudian mereka berjumpa dengan kompeni Inggris.

Mereka mengikat persahabatan dan mengundang agar datang ke Bengkulu untuk berdagang. Sebab rakyat Bengkulu memerlukan sandang yang baik yang diproduksi oleh Inggris.

Mendengar itu Inggris pun sangat senang dan berjanji datang ke Bengkulu. Lalu, Sultan Banten bermusyawarah dengan kompeni Inggris untuk menjadikan Baginda Depati Bangsa Raja sebagai Pangeran sebab dia adalah keturunan Baginda Maharaja Sakti.

Pada tahun 1824, Inggris hendak mengoper Bengkulu pada Belanda dan terjadilah perlawanan dari pihak raja yang sudah merosot kedaulatannya semenjak 1685. Hal itu tertuang dalam surat resident Prince kepada Goerge Swinton di Calcutta yang berbunyi:

“Saya menyaksikan bahwa masalah pengalihan (transfer Bengkulu kepada Belanda) telah menggempar perasaan di kalangan kepala rakyat (Native Chiefs) mengenai perolehan (possesions) kompeni di Sumatera serta kesetiaan mereka, dan menentang langkah tersebut.”

Mereka tidak memendam permusuhan terhadap Inggris, akan tetapi tidaklah membenarkan hak mereka dialihkan. Inggris tidak memiliki wilayah di negeri ini, dan berdasarkan ikrar persahabatan, Inggris-Bengkulu dahulu di atas prinsip saling memberikan kebajikan.

Dan tetap saja kepala rakyat dan masyarakat Bengkulu tidaklah sudi untuk takluk terhadap Inggris. [Eva De]

Sumber: Achmaddin Dalip dkk, Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1982/1983.