Anak-anak Kuba mengenang Fidel Castro sembari mengangkat foto Che Guevara/National Geographic.

Kasus gizi buruk yang terjadi di Asmat, Papua, benar-benar menampar wajah pemerintah. Betapa tidak, sementara banyak orang merayakan kehadiran kereta cepat dan ratusan kilometer tol baru, masih banyak anak-anak Indonesia yang mengalami gizi buruk.

Tidak hanya di Papua, yang infrastrukturnya publiknya memang masih kurang, tetapi juga di Pulau Jawa. Cianjur, yang hanya berjarak 110 kilometer dari Jakarta, juga sudah ditetapkan sebagai zona merah gizi buruk.

Jakarta, tempat Istana Presiden berada, juga belum terbebas gizi buruk. Baru-baru ini ditemukan 34 anak menderita gizi buruk di Jakarta Utara. Tahun lalu, jumlahnya malah mencapai 194 orang. Sementara data Kementerian Kesehatan RI pada 2015 mencatat, jumlah kasus gizi buruk di Jakarta berjumlah 2.282 kasus.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat prevalensi balita gizi buruk dan kurang di Indonesia mencapai 19,6 persen. Sementara jumlah stuntingmencapai 37,2 persen atau 9 juta anak.

Rupanya, Indonesia perlu belajar pada Kuba. Negeri komunis yang ekonominya hanya tumbuh 0,9 persen pada tahun 2016 itu ternyata sukses besar memerangi gizi buruk.

Tenang, itu bukan klaim pemerintah Kuba. Melainkan pengakuam lembaga yang bernaung di bawah PBB, yaitu UNICEF, FAO, dan Program Pangan Dunia (WFP).

Tahun 2006, melalui laporan berjudul Progress for children, A Report Card on Nutrition, UNICEF menyebut Kuba sudah mencapai bebas gizi buruk. Sementara, di tingkat global, ada 5,6 juta balita meninggal karena kekurangan gizi.

Tidak hanya itu, seperti dicatat WFP, rata-rata Balita Kuba yang kurang berat badan (underweight) di bawah 5 persen. Begitu juga dengan jumlah balita stunting di bawah 5 persen.

Bagaimana Kuba bisa memerangi gizi buruk Balita?

Pertama, seperti dicatat WFP, Kuba punya program perlindungan sosial komprehensif, yang memberikan bahan pangan bersudisi kepada seluruh rakyat, program pemberian makan di sekolah, dan program kesehatan ibu dan anak.

Memang, sejak 1963, Kuba punya kupon jatah pangan yang disebut “libreta de abastecimiento” atau “kartu sembako”. Dengan kartu itu, setiap rumah tangga di Kuba bisa mendapat jatah makanan, dari beras, minyak goreng, daging, sayur, kopi, susu, hingga cerutu, dengan harga yang disubsidi oleh pemerintah Kuba. Jadi, harganya sangat murah, bahkan gratis.

Kartu itu dibuat ketika Kuba mulai diembargo oleh negeri Paman Sam. Nah, untuk memastikan seluruh rakyatnya tetap bisa mendapat makanan, maka dibuatlah kartu tersebut.

Belakangan, banyak pihak—termasuk WFP—mengeritik program tersebut karena “pemborosan anggaran” dan “sangat memanjakan” rakyat Kuba. Dan memang, Kuba menghabiskan milyaran dollar hanya untuk subsidi bahan makanan rakyatnya.

Di bawah pemerintahan Raul Castro, adik kandung Fidel Castro, program Kartu pangan itu akan dihapus perlahan-lahan. Rencananya, Kuba hanya akan mensubsidi pangan bagi keluarga atau kelompok yang paling rentan.

Selain program itu, Kuba juga punya program yang menyediakan makan gratis dan bergizi kepada anak-anak di sekolah. Makanan berupa nasi, bubur kacang, sup, telur goreng, sayur-sayuran, dan potongan daging. Jadi, tidak ceritanya anak-anak Kuba kurang gizi dan kelaparan di sekolah.

Kedua, Kuba punya sistim kesehatan universal yang diakui oleh dunia. Selain gratis, rasio dokternya termasuk tertinggi di dunia: 1 dokter melayani 148 orang.

Hal itu memungkinkan 99 persen kelahiran di Kuba dilakukan oleh rumah sakit atau fasilitas kesehatan Negara. Dan hampir semua kelahiran di Kuba tertangani oleh tenaga kesehatan. Jadi jangan heran, angka kematina bayi (infant mortality rate) di Kuba di bawah 5 (4.2) per 1000 kelahiran. Bandingkan dengan Indonesia yang masih 25.5 per 1000 kelahiran.

Cakupan program imunisasi di Kuba juga mencapai 99 persen. Walhasil, sejak 1979 Kuba terbebas dari Difteri, campak (1993), Batuk rejan/Pertussis (1994), Rubella (1995), Polio, Tetanus, demam tifoid, dan lain-lain. Dan hebatnya lagi, sebagian besar vaksin yang dipakai Kuba adalah hasil temuan dan produksi sendiri.

Keberhasilan Kuba memerangi gizi buruk pada balitanya berjalan beriringan dengan keberhasilannya dalam menghapus kelaparan dan kekurangan pangan.

“Kuba adalah satu dari 16 Negara di dunia yang berhasil mencapai target World Food Summit tahun 1996 untuk mengurangi separuh dari jumlah orang yang kekurangan bahan pangan,” kata Direktur Jenderal FAO, José Graziano da Silva, saat bertemu Presiden Raul Castro, di Havana, 4 Mei 2013.

Memang, Kuba belum berswasembada di semua produk pangannya. Terutama beras, yang masih bergantung pada impor dari Vietnam.

Namun, pelan-pelan Kuba berhasil membangun kedaulatan pangannya. Pertama, selepas revolusi 1959, Kuba menjalankan reforma agraria radikal, yang mendistribusikan tanah-tanah luas yang dikuasai tuan tanah dan korporasi kepada rakyat atau penggarap.

Kedua, model pertanian Kuba sangat ramah lingkungan dan berkelanjutan, yakni pertanian organik. Teknologi pertanian Kuba semuanya menggunakan biokteknologi, sehingga tidak membahayakan lingkungan. Dan menariknya, itu hasil temuan sendiri.

Ketiga, sebagian besar kebutuhan sayuran dan bahan pangan Kuba di perkotaan dihasilkan oleh pertanian kota atau disebut “organoponicos”. Jadi, lahan-lahan kosong dikota dimanfaatkan untuk pertanian. Sementara rumah tangga menanam sayur-sayuran di balkon dan atap-atap rumah menggunakan pot bekas.

Keempat, pengorganisasian produksi dan distribusi pangan di Kuba menggunakan koperasi.

Sukses Kuba dalam memerangi gizi buruk, kelaparan, penyakit menular, yang dibarengi dengan kemajuan pesat di sektor pendidikan, menempatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kuba di peringkat 68 dari 188 Negara. Bandingkan dengan Indonesia yang berada di peringat 113 di tahun yang sama (2016).

Tidak hanya itu, seperti diakui WFP, Kuba juga merupakan negara palin berhasil mencapai target Millennium Development Goals (MDGs). Hebat, kan?

Prestasi Kuba ini tentu luar biasa, mengingat negara berhaluan Komunis ini diembargo oleh Amerika Serikat sejak tahun 1960. Embargo itu berdampak bukan hanya pada ekonomi juga, tetapi juga akses Kuba pada peralatan kesehatan dan obat-obatan.

Raymond Samuel, Kontributor Berdikari Online