Suasana Dapur Athar di Jalan WR Supratman UNIB Belakang pada malam hari.

TEMPAT makan gaya kekinian sudah banyak bermunculan di Bengkulu. Mulai dari menu yang murah hingga yang paling mahal, sajian dengan konsep modern ke konsep klasik, hingga lokasi yang super hits.

Namun, Dapur Athar memiliki target pasar dan ciri khusus yang begitu memikat para pelanggannya.

Dapur Athar merupakan salah satu tempat makan di Bengkulu dengan gaya tradisional. Konsep ini muncul dari Julia Mariadi (27) yang biasa disapa dengan sebutan Adi.

Berdasarkan penuturan lulusan teknik informatika di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu, asal-usul penamaan “Athar” merupakan nama anaknya dan “Dapur” dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa yang disajikan adalah sajian kuliner.

Dengan lokasi srategis di lingkungan kampus, tepatnya di Jalan WR Supratman UNIB Belakang, Adi memikat banyak konsumen dari kalangan mahasiswa.

Tempat makan ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan yang lainnya. Seluruh perlengkapan mulai dari plang nama hingga ke bangunannya terbuat dari kayu dan bambu serta beratapkan rumbia.

Hal ini untuk menunjukkan kepada konsumen ketika menyantap sajiannya mereka merasakan suasana pedesaan yang menyatu dengan alam.

“Mungkin anak-anak kekinian banyak mencari tempat makan ala-ala cafe yang identik dengan ekonomi menengah keatas. Dapur Athar ini ingin tampil beda dengan mengusung konsep tradisional dengan jangkauan hingga menengah kebawah,” kata Adi saat diwawancara, Sabtu (4/2/2018).

Warung makan yang berdiri sejak September 2017 ini menghadirkan berbagai menu mulai dari gorengan, nasi kucing, soto ceker, pecel lele, pecel ayam, kepiting, wedang uwuh, dan kopi joss.

Kopi Joss inilah yang paling banyak peminatnya. Kopi joss adalah kopi yang memiliki rasa khas karena bahan dasar dan penyajiannya.

Dengan mempertahankan cita rasa kopi khas Bengkulu ditambah bahan dasar arang yang dikirim langsung dari Yogyakarta, seduhan kopi di Dapur Athar terasa begitu istimewa sebagai sajian untuk sebuah diskusi yang hangat bersama sahabat atau kerabat.

Dengan arang membara digelasnya itu, kopi arang yang terlahir sejak tahun 1980-an di Pulau Jawa, merupakan hal baru di Bengkulu.

Semua sajian tersebut dipatok dengan harga terjangkau, mulai dari harga gorengan seribuan rupiah, nasi kucing tiga ribuan rupiah, hingga yang paling mahal menu kepiting seharga lima belas ribu rupiah.

Dengan harga demikian, warung makan ini selalu ramai setiap harinya dan mampu mencetak omset yang lumayan.

“Kedepannya kami akan merubah jadwal yang sebelumnya dibuka mulai jam 15.00-23.00 WIB menjadi 09.00-22.00 WIB. Kami juga memiliki layanan delivery gratis untuk lingkungan Universitas Bengkulu,” tambah Adi.

Informasi lebih jauh mengenai Dapur Athar dapat diakses melalui berbagai media sosial dan situs resminya www.dapurathar.com. [Deni Dwi Cahya]