Karya: Eva De

Laut mengisahkan banyak hal, banyak tawa dan air mata yang tenggelam di sana, namun yang paling kuingat adalah banyaknya keringat Bapak yang berjatuhan di laut.

“Ari kenapa duduk termenung begitu?”

Nah, itu suara Bapakku. Ia tengah menyiapkan peralatan untuk berlayar. Masih dini hari, tadi aku terbangun karena suara Bapak.

Aku tengah duduk di dekat jendela kayu, ada lubang kecil hingga dapat kurasakan angin menyelinap dan menusuk amat dingin.

“Tidak apa-apa pak, tadi Ari mencari pensil yang jatuh.” jawabku. Tentu aku tak mau Bapak tahu bahwa aku tengah memikirkan beban yang dipikul Bapak saat melaut, pasti Bapak cuma akan bilang “Anak SMP itu mikirin pelajaran aja!” begitulah Bapak, ia selalu mendambakan aku mendapat juara satu di kelas.

Di dapur, Ibu sudah menyiapkan makanan, ketika adzan subuh berkumandang makanan sudah tersaji di atas meja. Aku suka masakan Ibu, apalagi sop kepiting dan udang tepung yang sering dimasak Ibu. Hampir setiap hari sekolah aku membawa bekal, sementara uang jajan yang diberi Ibu dan Bapak aku tabung.

Kebiasaanku sepulang sekolah adalah membantu Ibu berjualan, sebab tak jauh dari rumah kami ada tempat wisata terkenal –Pantai Panjang– yang sangat ramai, aku dan Ibu pun memanfaatkan moment itu untuk mencari rejeki.

“Bapak berangkat dulu ya…”
Selepas subuh, angin bahkan tak bisa diajak kompromi namun Bapak masih tetap memutuskan melaut.

“Hati-hati ya pak…” Ibu mengantar Bapak di depan pintu.

Tak jauh di belakang rumah, rong-rongan laut seolah berteriak memanggil para Nelayan, debur ombaknya pernah sekali membuatku kelabakan dan hampir tenggelam. Namun, hal itu tak membuatku jera hingga aku pandai berenang.

Bapak dan Ibu menaruh harapan besar padaku, meski aku menyukai lautan Bapak tidak menginginkan aku menjadi seorang Nelayan sepertinya.

Aku ingat betul dulu Bapak pernah berkata “Ari boleh jadi apa saja, asal jangan Nelayan. Susah nak! Ari gak akan kuat.” celoteh Bapak setengah bercanda. Aku pun tertawa, sementara Ibu hanya menggelengkan kepala.

“Ari mau jadi pengusaha pak!” kataku yakin.

“Bagus itu! Tapi Ari harus belajar yang rajin dan jangan lupa berdoa.”

Beberapa hari lagi penerimaan Raport, aku sudah belajar dengan maksimal dan menuruti semua kata-kata Bapak dan Ibu. Kali ini aku yakin bisa berada di posisi pertama.

***
“Bu, Bapak mana? Belum pulang?”

Hari ini aku mendapati Ibu gelisah padahal aku baru saja ingin mengabarkan kabar bahagia.
“Bu, aku dapat juara satu.” kataku pada Ibu.
“Syukurlah…” suara Ibu terdengar parau.
“Ada apa Bu?”

Sejenak lututku lemas, teman-teman Bapak sesama Nelayan mengatakan bahwa perahu Bapak terbalik dan sampai sekarang Bapak belum juga ditemukan.

Dadaku panas bukan oleh amarah, melainkan ada gumpalan rasa sakit di sana. Kubuang raportku lalu berlari ke pinggir pantai.

“Bapaaakkk…” teriakanku bahkan tak menembus cakrawala.

“Tuhan… aku takut. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Bapak. Lindungi Bapakku dengan segala kekuasaan-Mu Tuhan.”

Beberapa orang berjejer di dekatku, para relawan sudah diturunkan untuk mencari Bapak. Tubuhku gemetar bukan karena dingin, namun karena takut. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupanku jika tak ada Bapak?

Bahkan sekarang aku sangat merindukan Bapak, siapa lagi yang akan mengusap kepalaku sambil tertawa lalu menyemangatiku untuk belajar? Dan di sampingku Ibu terlihat kuat, sepertinya Ibu tengah bersusah payah menyiapkan diri jika kemungkinan buruk terjadi.

Ombak menepi membasahi lututku, rasanya ingin sekali aku berenang dan membantu menemukan Bapak. Namun terlalu banyak orang yang menahanku.

***
Belasan tahun silam, aku berdiri di tempat yang sama. Saat itu lututku tersungkur ke pasir dan air mataku tumpah ruah. Aku ingat hari itu adalah hari yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup; ketika aku mendapat juara satu kemudian kehilangan Bapakku.

“Bapakmu pasti bahagia di surga-Nya, dia pasti bangga padamu Nak.”

Ah, rupanya Ibu menyusulku. Kerutan tampak jelas di wajahnya, tapi rona kecantikan dan ketabahannya sangat terpancar.

“Ibu bahkan kagum padamu, penampilan seperti ini membuatmu gagah.” komentar Ibu yang melihat penampilanku dengan setelan jas abu-abu tua.

Empat belas tahun sudah berlalu, hari ini aku memberikan bantuan berupa perahu pada Nelayan di daerahku. Aku menepati janji pada Bapak dengan menjadi pengusaha, hari ini kuberikan perahu yang layak untuk para Nelayan sebab dulu kutahu perahu Bapak bocor dan jauh dari kata layak. Namun Bapak perbaiki lagi dan lagi.

Ibu… dengan perjuangan luar biasa ia menjagaku, setelah kepergian Bapak empat belas tahun lalu, aku sempat jatuh sakit berminggu-minggu. Dulu aku merasa duniaku dalam sekejap runtuh dan aku semakin rapuh. Berada di titik itu, Ibu lah yang menjadi penguatku.

Saat gundah, kusempatkan untuk menyapa lautan. Debur ombak bagiku adalah suara Bapak yang memberikan semangat. Agar aku bisa tertawa, agar aku menjadi anak laki-laki yang kuat dan agar aku bisa menjaga Ibu.

Kelak, surga akan mempertemukan kita lagi… Bapak.