Karya: Eva De

Analogi untuk mahasiswa tingkat akhir adalah berpacu dengan waktu, namun justru berbanding terbalik dengan aktivitas yang dilakukan Raffa sekarang, sudah puluhan menit ia hanya menatap layar putih kosong lembaran Microsoft Word. Tak ada sepatah kata pun yang tertera di sana.

“Aku harus menulis apa?” desahnya lalu mengacak-acak rambut. Ia lalu berdiri, tubuh tingginya hampir menyamai lemari kayu di kamar hingga ia harus sedikit membungkuk ketika hendak berkaca.

“Pergi ke kampus rasanya lebih baik.” Raffa kemudian bergegas setelah merapikan diri. Lelaki yang cukup terkenal di kalangan wanita itu adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu Universitas kota Bengkulu.

Ia sosok yang aktif dalam organisasi hingga Raffa memiliki banyak teman dan dikenal mudah bergaul, tak sulit baginya jika membutuhkan bantuan dari teman-teman.

Menginjak semester akhir dan mulai bergelut dengan skripsi membuat Raffa mengurangi aktivitas di luar kampus, ia juga harus menunda agenda untuk mendaki gunung bersama sahabat-sahabatnya.

“Gimana bro? Sudah revisi?” tanya Aan, teman satu angkatan Raffa.
“Dari kemarin revisi bab 3 gak selesai-selesai.” ujar Raffa lesu. Dalam hitungan detik mereka terlihat menuju perpustakaan kampus.

Dulu Raffa enggan ke perpustakaan karena menurutnya seolah tak ada kehidupan di sana, hening. Dan entah sejak kapan ia mulai mencintai keheningan itu, barangkali sejak ia diminta revisi dan revisi lagi.

“Kenapa menulis skripsi bisa sesulit ini ya An?”

“Karena skripsi itu seperti cinta yang harus dibuktikan dengan kesungguhan. Dan memperjuangkan cinta atau skripsi itu memang sulit.”

“Situ ngomong kayak pakar cinta aja, pacaran aja belum pernah.” Aan lalu tertawa mendengar celoteh Raffa, tak pelak lagi petugas perpustakaan melemparkan tatapan kesal pada mereka berdua.

“Situ juga belum pernah pacaran kali Raff!” balas Aan seolah tak menghiraukan petugas perpus.

“Haha… pacaran itu ribet aku gak mau!” kali ini Raffa yang tertawa, dan samar-samar terdengar derap langkah mendekati mereka.

“Kak, jangan stand-up comedy di sini ya!” tegur sosok perempuan yang datang dari meja penjaga perpus.

“Kita cabut aja bro!” setelah berbisik-bisik, mereka pun keluar. Mengedarkan pandang ke sekeliling perpustakaan, tanpa menyadari jangka waktu menyandang gelar mahasiswa akan segera usai. Ada percikan kebahagiaan namun juga ada sedikit kekhawatiran.

***
Awan berlarian pelan di gelanggang langit biru terang, Raffa menghela napas berat tampak melepas penat. Berdiri di atas benteng Marlborough, Raffa tampak gagah mengenakan jeans hitam dan kaos oblong yang dibalut hoodie, sneakers yang sering menemani langkahnya juga turut membuat penampilan Raffa nyaris menyilaukan mata.

Namun, sekalipun ia tak pernah peduli dengan ketertarikan para wanita padanya. Saat ini ia hanya ingin menyelesaikan skripsi. Berdirinya Raffa di atas benteng Marlborough sekarang adalah untuk mencari inspirasi setelah beberapa jam yang lalu keluar dari perpustakaan kampus.

“Aan Anugrah… dimana anak itu?” Raffa mengecek ponsel hendak menanyakan posisi Aan yang tadi mengatakan akan menyusul Raffa ke benteng Marlborough.

“Raffa Saputraaa…” Terdengar teriakan Aan dari kejauhan.

“Panjang umur lu bro!” lirih Raffa lalu menemui Aan di halaman tengah benteng Marlborough.

“Sorry… aku bantuin Emak beresin tempat jualan bentar tadi.”

“Wah, kenapa gak bilang? Kalau tahu gitu aku juga mau bantuin Emak.” Raffa ingat ia pernah beberapa kali membantu Aan dan Emaknya, saat itu ia juga mendapat makan siang gratis.
Emaknya Aan adalah penjual nasi goreng dan manisan, siang menjelang sore dagangannya sudah habis terjual.

“Oh iya, bawa laptop kan?”

Aan pun mengangguk. Mereka duduk di bawah pohon rindang tak jauh dari deretan meriam, saling bertukar pikiran barangkali akan memudahkan dan melancarkan penulisan skripsi sebelum lembaran-lembaran tak bersalah itu diadili dan ternoda tinta-tinta hitam.

“An, sejarah adanya skripsi itu gimana ya?”

“Yak elah Raff, kau kan diminta Bu Sonia menyelesaikan skripsi, bukannya mencaritahu sejarah skripsi.”

“Aku kan cuma penasaran, siapa tahu kita bisa bertemu dengan pencetus skripsi.”

“Terus kau mau apa? Mau protes?”

“Mau foto barenglah, udah itu upload ke media sosial.” Sudah terlalu pusing.

Mungkin, Karena itu percakapan mereka mulai ngawur, meski begitu Raffa dan Aan adalah pemuda dengan semangat tinggi dan bertekad melanjutkan kuliah ke negeri seberang sekalipun dihalau berbagai keterbatasan.

“Raff, tadi ada temanku dari fakultas sebelah, dia nitip pertanyaan khusus.”

“Hm? Apa tuh?”

“Ini nih sms-nya, aku baca ya?; An, tolong tanyain ke Raffa dong gimana tipe cewek idamannya?”

Raffa tersenyum, namun tatapan teduh matanya seperti mengenang sesuatu. Satu hal yang amat dalam namun memancarkan keindahan, terkait hal ini, Raffa memang belum pernah cerita pada Aan. Ia juga pernah jatuh cinta.

Bersambung…