ilustrasi pelayaran Inggris

Inggris di Bengkulu ketika dipimpin Gubernur Sir Thomas S. Raffles, sangat memikirkan kemajuan di masa depan. Hal itu sebagaimana tertuang dalam buku Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu karya Achmaddin Dalip dkk. Dikatakan bahwa penglihatan Raffles memandang jauh ke depan atas kedudukan Singapura sebagai suatu bandar yang penting pada waktu yang akan datang. Hal itu menimbulkan kesediaannya untuk menyerahkan daerah Bengkulu kepada Belanda diganti dengan Singapura.

Dirangkum dari berbagai sumber menyatakan bahwa berdasarkan Traktat London tanggal 17 Maret 1824, Belanda menyerahkan Malaka dan Tumasik (Singapura) kepada Inggris. Sedangkan Inggris menyerahkan Bengkulu pada Belanda. Perjanjian tersebut dilakukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Britania-Belanda di tahun 1814.

Hal itu mereka lakukan agar mudah mengontrol wilayahnya masing-masing, karena jajahan Inggris berada di semenanjung Melayu dan jajahan Belanda di Nusantara.

Raffles terkenal sebagai Gubernur Inggris yang cakap, dan mempunyai perhatian serta pengertian. Ia juga memberi perhatian lebih pada bidang ilmu pengetahuan, pilihan untuk meninggalkan Bengkulu adalah pertimbangan yang sudah ia pikirkan dengan matang.

Baca juga: Strategi Adu Domba Inggris Menjajah Bengkulu

Meninggalkan Bengkulu menuju Singapura, mereka menggunakan kapal Fame pada tanggal 11 April 1824. Sangat disayangkan kapal tersebut terbakar saat berlayar meninggalkan Bengkulu. Sekitar 1.200 unit barang bawaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan ikut terbakar, padahal barang-barang tersebut sangatlah berharga.

Kabarnya, bersamaan kapal Fame yang tenggelam itu terdapat piring tembaga yang tertulis perjanjian mengakui kedaulatan negeri masing-masing.

Saat itu pada tahun 1818, Gubernur Raffles meresmikan peleburan kerajaan Sungai Lemau karena hal itu terdapat dalam perjanjian antara Raffles dan Pangeran Linggang Alam pada 4 Juli 1818. Kerajaan Sungai Lemau diserahkan oleh Pangeran Linggang Alam kepada pemerintahan Inggris yang diwakili oleh Raffles.

Pangeran Linggang Alam dijadikan pegawai pemerintahan Inggris dengan pangkat Regent dan bertempat kediaman di kota Bengkulu. Sebagai pegawai, ia menerima gaji sebesar 706 ringgit setiap bulannya. Hal itu dilakukan Inggris sebagai pengganti kerugian sebab Pangeran Linggang Alam sudah melepas haknya atas kerajaan Sungai Lemau.

Baca juga: Bengkulu Sebelum Kedatangan Inggris

Selanjutnya ditetapkan juga dalam perjanjian bahwa penjualan lada bebas. Kedudukan Residen Inggris di Lais yang dimulai dengan Richard Wyatt pada permulaan abad ke 18 dihapuskan oleh Raffles.

Residen Inggris yang terakhir adalah W.H Hayes (1815-1820). Sebagai pengganti Hayes, Raffles mengangkat seorang anak bumi putra bernama Raden Mohamad Zain (1820-1833) tetapi tidak dengan sebutan Residen, melainkan Kepala Divisi Lais.

Bersumber dari Adat Rechtbundel XXII halaman 319-320 tertera bahwa penyerahan pemerintahan jajahan Inggris atas daerah Bengkulu kepada Belanda berdasarkan traktat London 17 Maret 1824.

Dalam Hukum Adat Rejang, Balai Pustaka, Jakarta 1980, halaman 84-85 oleh Prof. Dr. H. Abdullah Siddik, dikatakan bahwa Sungai Lemau yang berada di bawah Regent Linggang Alam dengan wilayahnya Lais, Kertopati, Air Besi, Air Padang, Padang Betuah, Sungai Lemau Ulu Bengkulu, terdiri dari 143 dusun dan 12.817 jiwa.

Dan Sungai Hitam tetap bertahan dengan wilayah Lembak VIII, Proatin XII, Tepi Air dan di darat. Terdiri dari 42 dusun dengan penduduk 4.122 jiwa. Demikian juga dengan Selebar, tetap bertahan dengan wilayahnya Andalas, Pagar Agung, dan Selebar yang terdiri dari 50 dusun dan penduduk 6.962 jiwa.

Simak juga: Kesulitan Inggris Hadapi Perlawanan Sengit Rakyat Bengkulu

Selama 140 tahun Inggris berkuasa di Bengkulu dan bagian Barat pulau Sumatera, terdapat 58 orang pimpinan Inggris yang berfungsi sebagai Gubernur Bengkulu. Rata-rata setiap Gubernur Inggris itu bertugas di Bengkulu selama kurang lebih 2,5 tahun. Dan dalam masa itu juga terdapat seorang pemimpin kejam yang tewas di tangan rakyat, yaitu Thomas Parr.

Seperti jejak yang membekas, juga terdapat banyak peninggalan Inggris di Bengkulu. Bahkan kebencian terhadap Inggris tak bisa sirna begitu saja. Kekejaman yang menyengsarakan rakyat turun temurun terus diingat, karena itulah rakyat Bengkulu membenci Inggris bahkan berlanjut pada saat penjajahan Belanda. [Eva De]