Fort Marlborough – Peninggalan Inggris

PADA 24 Juni 1685, Inggris menjejakkan kakinya di Bengkulu, ada 3 orang utusan Inggris yaitu Ralp Ord, Benyamin Bloome, dan Joshua Charlton tiba di Bengkulu untuk menjalin hubungan dagang. Pada 16 Agustus 1685, ditandatangani perjanjian yang mengatur hubungan perdagangan antara Charles Baswell Esq dengan Pangeran Ingalu Raja, dari Silebar. Pada pertengahan 1685, Inggris membangun Benteng York di antara laut dan Sungai Serut.

Dalam buku karangan Achmaddin Dalip dkk, sebagai proyek inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional tahun 1982/1983 menyebutkan bahwa: Jelas terlihat semenjak awal sudah ada bibit yang dilontarkan kompeni Inggris yang sudah memancing perlawanan dari pihak raja.

Jelas sekali bahwa hubungan dagang yang terjalin sesungguhnya bermaksud lain. Dengan kenyataan yang tak terbantahkan, bahwa cita-cita mengambil alih kerajaan Bengkulu oleh kompeni Inggris sudah menjadi rencana yang perlahan dilakukan. Setahap demi setahap.

Kronologi masuknya Kolonial ke Bengkulu menjelaskan bahwa pada tahun 1664 VOC mendirikan perwakilan di Bengkulu. Lalu pada 24 Juni 1685 Inggris masuk ke Bengkulu namun mereka mendarat di Pulau Tikus dan disambut oleh agen niaganya.

Pada 16 Agustus 1695 Perjanjian Inggris-Bengkulu pun ditandatangani. Isinya adalah monopoli lada, izin membangun loji dan mengadili penduduk yang berbuat salah. Inggris terus memperluas wilayahnya sampai ke Mukomuko.

Sebelumnya di tahun 1692 Inggris mendirikan pos di Triamang, Lais, Ketahun, Ipuh, Bantal, dan Seblat (di tahun 1700). Selanjutnya pada tahun 1701 kompeni Inggris memperluas daerah ke arah Seluma, Manna, Kaur dan Krui.

Tepat pada tahun 1718 Inggris pun membangun Benteng Marlborugh. Sebelumnya mereka sudah mendirikan benteng York.

Rakyat Bengkulu merupakan ancaman bagi kompeni Inggris, itulah sebabnya mereka membangun benteng. Tidak diam saja saat dijajah, rakyat Bengkulu pun melakukan perlawanan. Di Bantal, Mukomuko, pemberontakan rakyat dipimpin oleh Sultan Mansyur dan Sultan Sulaiman.

Pemberontakan besar terjadi di tahun 1719. Saat itu Inggris kewalahan dan sangat khawatir hingga akhirnya meninggalkan Bengkulu.

Namun, pada tahun 1724 Inggris kembali lagi. Mereka bermanis muka dan datang dengan perjanjian yang lebih lunak. Perjanjian itu pun ditandatangani pada 17 April 1724.

Tetapi apalah janji yang tinggal hanya janji belaka. Penjajahan yang dilakukan Inggris membuat rakyat Bengkulu murka hingga menghabisi Captain Hamilton -pimpinan Angkatan Laut Inggris- pada 15 Desember 1793.

Lalu pada tahun 1807 Residen Thomas Parr juga dilibas habis.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Propinsi Bengkulu juga mempunyai peranan yang menonjol. Menurut catatan Prof. DR. Haji Abdullah Siddik (Sejarah Bengkulu : 1500-1990, Balai Pustaka, 1996), di era penjajahan, Bengkulu sudah menyita perhatian negara-negara kolonialis Barat, terutama karena hasil buminya yang melimpah.

Berdasarkan kronologi yang dimulai pada tahun 1685, dengan alasan perluasan kebun lada Inggris mulai menetap di Bengkulu. Saat itulah dimulai era tanam paksa lada terhadap rakyat. Tercatat, Inggris bertahan selama 139 tahun di Bengkulu.

Pendudukan tanpa rasa kemanusiaan itu tidak hanya melahirkan penderitaan bagi rakyat. Tapi juga membangkitkan perlawanan akibat telah diinjak-injaknya nilai luhur dan tradisi luhur masyarakat sekitar.

Lebih seabad kemudian, aksi heroik menentang penjajahan masih terus bisa dilakukan. Sumbangsih rakyat Bengkulu terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa begitu saja dihilangkan. Termasuk dalam periode mempertahankan kemerdekaan. [Eva De]