Ilustrasi Pasukan Patih Jelantik bertempur hingga tewas melawan penjajah

Achmaddin Dalip dkk menuliskan tentang kesulitan-kesulitan yang ditemui kompeni Inggris selama di Bengkulu. Dalam buku karangannya tentang kolonialisme dan imperialisme di daerah Bengkulu itu terdapatlah surat yang menjelaskan semuanya.

Pada Oktober 1685 hingga Mei 1686, sebuah gambaran menyeluruh datang dari sepucuk surat. Surat itu berasal dari Benjamin Bloome (kepala faktori Inggris di Bengkulu) dan Joshua Charlton kepada penguasa Inggris di Madras.

Disebutkan bahwa mereka mengalami pelayaran yang membosankan hingga akhirnya mendarat di tepi pantai Bengkulu pada 24 Juni 1685. Mereka lalu mengutus orang untuk mencari tahu segala sesuatu tentang Bengkulu.

Dikatakan juga bahwa penduduk di Bengkulu sangat ramah. Mereka juga senang saat pertama kali tahu bahwa Inggris menginjakkan kaki di Bengkulu.

Inggris pun terpukau dengan hasil bumi Bengkulu. Saat itu kaya akan lada/merica. Akhirnya kompeni Inggris pun memutuskan menetap dengan beberapa syarat dari pembesar di Bengkulu.

Setelah akhirnya surat perjanjian ditandatangani, bendera Inggris pun dinaikkan. Namun, rupanya Inggris merusak kepercayaan yang sudah diberikan oleh rakyat Bengkulu. Dengan tindakan sepihak mereka menggerogoti kewibawaan, kedaulatan, dan keuangan raja dan pemerintahan Bengkulu.

Tapi, Inggris juga mendapat balasan. Merasakan semua perbuatan mereka seperti bumerang. Mereka menjadi kawalahan saat mendapati kenyataan bahwa rakyat Bengkulu tidak mudah ditarik hidungnya dan dijadikan budak.

Terjadi perlawanan dan terjadi pemberontakan terus-menerus. Orang-orang Inggris banyak yang mati dalam pemberontakan, hari-hari yang mereka hadapi sangatlah buruk. Mereka bahkan tak punya tenaga untuk menguburkan rekan-rekan mereka sesama kompeni.

Kapten yang memimpin mereka bernama Kapten Landy pun jatuh sakit. Ia menderita sakit keras, meski sembuh keadaannya sangat memprihatinkan.

“Menurut kami, tidaklah mudah untuk menarik orang Melayu menjadi serdadu kompeni.” ujar penggalan surat dari Benjamin Bloome dan Joshua Charlton.

Inggris juga mengalami konflik dengan kerajaan Banten dan Belanda. Semenjak kedatangan kapal Belanda di pelabuhan Selebar, Inggris tak mendapati jatah merica yang masuk untuk mereka.

Tertera juga dalam surat “Andaikata Bengkulu lepas dari tangan kita, maka segala tempat-tempat lainnya pasti menyusul. Karena Bengkululah yang kita andalkan sebagai pemusatan kekuatan Inggris. Sebab, sudah banyak yang kita tinggalkan disini…”

Jelas sekali sebenarnya Inggris enggan meninggalkan Bengkulu. Hingga akhirnya proses peralihan kekuasaan, penderitaan rakyat Bengkulu terus berlanjut dengan beralihnya kekuasaan dari Inggris kepada Belanda, tahun 1724, sebagai konsekuensi perjanjian mereka (Traktat London). [Eva De]