Ilustrasi Perang melawan penjajah

PASCA kematian Thomas Parr, Inggris melakukan pembantaian besar-besaran. Mereka memusnahkan penduduk dan hewan ternak, serta membakar rumah penduduk hingga rata dengan tanah.

Semua orang yang terlibat pada penyerbuan di Mount Felix (Kini adalah rumah dinas Gubernur Bengkulu) dicari keberadaannya. Mereka dikejar lalu dibunuh. Saat itu, satu-satunya tokoh yang tertangkap hidup-hidup dari deretan pahlawan Bengkulu adalah Adipati Sukarami. Ia pun ditahan dan jelas sekali ia di interogasi oleh kompeni.

Sebelumya, panitia khusus yang terdiri dari R.S Perreau, Henry Heath, dan M.R. Elphinstone telah menyelidiki insiden penyerbuan di Mount Felix, namun karena kurangnya bukti pekerjaan mereka pun terhambat.

Sedikit sekali keterangan dari saksi yang bisa dikumpulkan. Dan diketahui bahwa sebab utama perlawanan rakyat Bengkulu adalah protes terhadap Thomas Parr dengan sistem tanam paksanya. Saat itu rakyat bengkulu dipaksa menanam kopi.

Namun, ada fakta yang sangat menggemparkan segala pihak. Dihimpun dari berbagai sumber, menyebutkan bahwa Adipati Sukarami yang saat itu ditahan dan diinterogasi akhirnya memberi pengakuan.

Adipati Sukarami mengatakan bahwa penghasut utama dari penyerbuan dan pembunuhan itu ialah Daeng Mabella. Menurut Adipati Sukarami, Kapten Bugis itu menaruh dendam kesumat pada Thomas Parr. Sebabnya adalah Thomas Parr sudah memecatnya dari pekerjaan serta kedudukannya.

Baca juga: Siasat Inggris Pasca Kekalahan Besar di Bengkulu

Daeng mencari jalan untuk melampiaskan amarahnya, dan menentukan jalan untuk menunggangi ketegangan sosial yang meningkat karena menanam kopi secara paksa.

Dalam buku sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme di daerah Bengkulu karya Achmaddin Dalip dkk, disebutkan bahwa Daeng Mabella menyokong Adipati Dusun Besar dan dengan perantara Adipati inilah Daeng Mabella kemudian dapat terhubung dengan rakyat Dusun Sukarami. Dan memang disanalah tanam kopi secara paksa sedang menjadi biang kerusuhan sosial.

Berdasarkan pengakuan Adipati Sukarami, saat Daeng Mabella datang membawa rencananya, ia tidaklah sendiri saat menjumpai Daeng. Adipati telah mengutus adiknya Raja Lelo untuk berbicara dengan Daeng Mabella.

Saat itu, sebelum pemecatan Daeng Mabella, ia bermusuhan dengan rakyat dan Adipati Sukarami dan Adipati Dusun Besar. Itulah sebabnya Adipati Sukarami tidak menyambut Daeng Mabella saat ia datang.

Pada perjumpaan dengan Raja Lelo, Daeng Mabella menjanjikan hadiah uang sebesar 500 dolar Spanyol pada Raja Lelo apabila Raja Lelo bersedia membunuh Thomas Parr. Dan selain itu diberikan juga cincin bermata berlian pada Raja Lelo, sebagai jaminan akan semua yang dijanjikan oleh Daeng Mabella.

Baca juga: Penderitaan Inggris Membangun Benteng di Bengkulu

Berkenaan dengan pengakuan Adipati Sukarami tersebut, akhirnya Daeng Mabella dipanggil untuk menghadap Residen. Kapten Bugis itu dengan tegas berkata bahwa memang dirinya merasa terhina akan pemecatan saat itu. Tapi Daeng menjelaskan ia sama sekali tidak merasa bermusuhan dengan kompeni dan sama sekali tidak berniat balas dendam kepada Inggris.

Daeng Mabella menuturkan bahwa jika memang ia berniat balas dendam, maka sudah tentu ia akan mencari dukungan dari rakyat Pangeran Sungai Lemau yang berpengaruh cukup besar daripada rakyat Sungai Hitam yang merupakan musuh bebuyutan Daeng Mabella.

Dikatakan juga bahwa Pangeran Sungai Lemau dan Pangeran Sungai Hitam memberikan perlindungan pada Daeng Mabella dengan keterangan bahwa tidak ditemukannya bukti keterlibatan Daeng dalam insiden yang menewaskan Thomas Parr.

Martin sebagai penanggung jawab setelah Thomas Parr akhirnya puas dengan hasil penyelidikan sementara itu. Ia menganggap Daeng Mabella memang tidak terlibat dalam perlawanan rakyat tersebut. Apalagi ketika diminta jasa untuk menumpas pemberontakan, Daeng menerima dan melakukannya tanpa ragu.

Berdasarkan hal tersebut maka sudah dianggap tidak perlu diadakan penyelidikan lanjutan mengenai peristiwa 27 desember 1807 itu. Maka dengan resmi direhabilitirlah Daeng Mabella pada kedudukan dan fungsinya yang semula.

Daeng Mabella bebas dari segala tuntutan, dan hal itu sangat mengejutkan bagi pemerintah di Benggala. Betapapun rincinya pernyataan Adipati Sukarami, pengakuan itu tidak diperkuat oleh bukti-bukti yang konkrit.

Simak juga: Perlawanan Pribumi Enggano Terhadap Inggris

Residen Thomas Parr sebelumnya menginginkan agar pasukan Bugis dihapuskan, tetapi Residen Martin melakukan hal yang sebaliknya dengan tetap mempertahankan pasukan Bugis.

Panitia yang diketuai oleh Perreau pun secara bulat mendukung garis kebijakan yang diambil oleh Martin. Pemerintah Inggris di Benggala akhirnya juga setuju dengan keputusan itu. Maka apa yang agaknya merupakan peristiwa yang paling dramatis dalam sejarah, Inggris di Sumatera tetaplah tinggal menjadi episode yang paling bergelimang intrik dalam hubungan penguasa de facto dan penguasa de jure di Bengkulu. [Eva De]