Ilustrasi

BENGKULU SELATAN, PB – Nelayan Pasar Bawah Kabupaten Bengkulu Selatan menolak keberadaan trawl. Meskipun di Bengkulu Selatan tidak ada nelayan yang menggunakan trawl, namun nelayan mengendus keberadaan trawl yang memasuki wilayah laut Bengkulu Selatan.

“Kami menolak keras keberadaan trawl. Kita sudah mencium adanya trawl yang masuk ke wilayah kita, mereka itu masuk secara diam-diam, biasanya malam hari. Apalagi kalau musim badai, itu kesempatan mereka (pengguna trawl) untuk leluasa masuk wilayah Bengkulu Selatan, karena ketika badai rata-rata nelayan kita tidak turun melaut,” jelas Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bengkulu Selatan, Apriadi saat ditemui Pedoman Bengkulu, Selasa (27/2/2018).

Apriadi mengimbau kepada nelayan yang menggunakan trawl (pukat harimau) agar tidak memasuk wilayah perairan Kabupaten Bengkulu Selatan. Ini untuk menghindari terjadinya konflik dengan nelayan tradisional.

“Kita tidak ingin peristiwa tahun 2013 lalu terjadi kembali, kala itu nelayan kita bentrok dengan nelayan trawl. Kapal trawl mereka dibakar massa. Saya khawatir kalau nelayan trawl dari Bengkulu terus-terusan ‘mencuri’ dan masuk ke wilayah kita akan terjadi lagi peristiwa pembakaran seperti 2013 lalu,” ingat Apriadi.

Apriadi berharap kepada pemerintah untuk menertibkan keberadaan trawl yang memasuki wilayah Bengkulu Selatan. Karena keberadaan trawl dianggap merugikan nelayan Bengkulu Selatan.

“Nelayan Pasar Bawah ini tidak ada yang menggunakan trawl. Jadi kita dirugikan kalau trawl masuk. Mereka sudah menggunakan perlatan yang canggih. Memang saat ini nelayan trawl tidak berani buka-bukaan masuk wilayah kita. Jangan sampai ini menyulut kemarahan nelayan Pasar Bawah,” imbuh Apriadi. [Apdian Utama]