[Lukisan Fort Marlborough/IST]
MASYARAKAT kota Bengkulu tentu tahu dan pastilah pernah berkunjung ke Benteng Marlborough.

 

Kala itu, sebelum berdirinya Marlborough yaitu pada tahun 1701 kompeni Inggris menyadari bahwa letak benteng pertama mereka yakni Fort York (Pasar Bengkulu) tidaklah strategis. Sebab pertahanan di sekelilingnya tidaklah sehat.

Karena itu Inggris kemudian memilih Tapak Paderi (dahulu penduduk Bengkulu menyebutnya Ujung Karang) sebagai lokasi untuk mendirikan gudang yang baru bagi kompeni. Tempat yang kelak juga berdiri Fort Marlborough di dekatnya.

Dalam buku karangan Achmaddin dkk yang berjudul Sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme di daerah Bengkulu, menyebutkan bahwa memang ada beberapa keadaan yang tidak sehat. Keadaan itu telah menggerogoti kompeni Inggris dalam membangun Fort York.

Dalam sebuah laporan tertulis “Biaya kami bukan main besarnya, mengingat banyaknya jumlah personil kompeni yang berada di sini. Dan ditambah pula dengan harga yang mahal pada umumnya. Selain itu, untuk mengerjakan pembangunan benteng ini (Fort York), kami memperkerjakan sejumlah besar orang-orang Bengkulu, dan mereka tidak ada yang mau dibayar dibawah 1/4 dollar sehari, baik orang dewasa maupun kanak-kanak, nafkahnya sama besar.”

Dalam penggalan laporan tersebut dapat dengan jelas kita pahami bahwa keadaan yang tidak sehat pertama berasal dari kesulitan mengenai biaya dan upah pekerja.

Disebutkan juga meskipun orang-orang kompeni sendiri yang mengerjakannya, justru pekerjaan mereka lamban. Pasalnya keadaan lingkungan di Bengkulu jauh dari harapan para kompeni. Pekerjaan mereka kerap dihalangi oleh hujan lebat. Terlebih hujannya kerap kali berlangsung selama seminggu dan satu hari penuh kadang tak berhenti hujan. Hal itu menyebabkan pembangunan terhambat.

Selama empat bulan baru satu bangunan yang rampung, namun kemudian disapu habis oleh hujan selama satu hari satu malam saja. Kompeni Inggris juga mengeluh lantaran tanah liat disana tidak cocok untuk dijadikan batu-bata. Oleh karena itu mereka memerlukan batu-bata dari tempat lain jika memang pemimpin mereka masih ingin melanjutkan pembangunan.

Keadaan semakin memburuk ketika mereka dihadapkan dengan kesulitan yang lain. “Kami dilanda sakit, sehingga kami tidak berdaya untuk menolong satu terhadap yang lain, sedangkan tenaga yang dikirimkan kesini tidak lebih dari tigapuluh orang saja yang sehat.” tertulis seperti itu dalam laporan yang dikirim oleh Benjamin Bloome dan Joshua Charlton untuk atasannya.

Banyak serdadu Inggris yang meninggal, selalu saja setiap hari ada yang meninggal. Mereka yang terbaring lemah tidak sanggup untuk berdiri lagi kemudian meninggal. Pelayan dan pembantu serdadu Inggris satu per satu jatuh sakit dan lagi-lagi meninggal. Hingga tak ada yang bisa memasak untuk para serdadu.

Mereka kerap kali berpuasa hingga terbengkalai tak berdaya. Mereka mengerang minta obat tetapi tak seorang pun yang memiliki obat-obatan.

Meninggal karena sakit, kelaparan dan tiadanya obat menjadi kesulitan yang amat besar dalam membangun benteng pertahanan. Mereka juga tak punya tenaga untuk menguburkan teman-teman sesama kompeni. Bahkan banyak serdadu yang meninggal dan gajinya belum diberikan.

Inggris membayar mahal demi berdirinya Fort York. Tak hanya biaya besar dikeluarkan, mereka bahkan mengorbankan para pegawai yang hari demi hari semakin banyak yang meninggal. [Eva De]