Ilustasi perlawanan Indonesia menghadapi penjajah

MENJAJAKI Bengkulu lalu memberlakukan tanam paksa, Inggris juga menikmati hasil bumi yang melimpah. Dari jerih payah penduduk Bengkulu lah Inggris dapat mencicipi betapa bumi Bengkulu amatlah subur dan kaya.

Tak berhenti sampai disitu. Sebab pada tahun 1700 pulau Enggano mulai dikenal Inggris. Inggris merasa tertantang sebab upaya mereka untuk mendekati pribumi Enggano secara damai selalu saja gagal.

Para penduduk bersikap begitu bukan tanpa alasan. Mereka tahu otak dan maksud orang asing datang ke tempat mereka. Bagi penduduk Enggano, pendatang asing ke pesisirnya adalah musuh yang datang karena ingin membajak dan merampok.

Dalam buku karangan Achmaddin dkk dengan judul sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme di daerah Bengkulu, disebutkan bahwa ada sebuah ekspedisi yang direncanakan dan bertolak dari Batavia. Hal itu bertujuan untuk mengadakan sebuah penelitian di Enggano.

Dalam karya Voyage oleh J.J.Saar di tahun 1662, dikatakan akhir dari penelitian tersebut adalah memasang perangkap untuk menculik penduduk Enggano lalu secara paksa mengangkut mereka ke Batavia.

Amat keji sekali perlakuan kompeni di masa itu. Sekitar empat puluh penduduk Enggano diangkut ke Batavia. Kaum lelaki yang diangkut saat itu segera menemui ajalnya sesampai di Batavia. Sebab mereka melakukan mogok makan. Sementara perlakuan pada kaum wanita lebih keji lagi, penduduk Enggano yang cantik-cantik itu digilir kepada pejabat di Batavia. Miris sekali keadaan mereka.

Sejak kejadian penculikan dan pengangkutan penduduk Enggano ke Batavia, Pulau Enggano hanyalah tercatat sebagai kebetulan saja. Sampai pada tahun 1771, saat itu Gubernur Inggris di Bengkulu bernama Richard Wyatt serta dewan Fort Marlborough mengutus Charles Miller ke Enggano.

Baca juga:Fakta Menarik Tentang Bung Karno dan Sepeda Ontel

Miller diminta melakukan penelitian tentang hasil bumi apa saja yang ada di Enggano. Miller pun berlayar dengan kapal milik kompeni Inggris. Sesampainya di Enggano, Miller terpukau. Ia menyaksikan perkebunan kelapa yang amat luas. Terdapat juga bidang tanah yang digarap sebagai lahan pertanian. Lalu pada malam hari dinyalakan api di pinggir pantai.

Miller sempat mengalami kesulitan saat hendak mendarat disana. Sebab ombak di sekitar Enggano cukup besar. Disaksikan Miller bahwa penduduk Enggano kala itu bersenjatakan lembing, serta menyuruk di balik batu-batu karang.

Ketika Miller menuju sebuah teluk, ia disusul oleh sepuluh buah sampan yang penuh berisi para lelaki. Sehingga Miller dan rombongannya terpaksa kembali ke kapal.

Penduduk Enggano melakukan antisipasi jikalau mereka diserang. Mereka selalu menaruh curiga pada bangsa asing yang mendekat ke Enggano. Kala itu rekan Miller bernama Whalfeldt turun dari perahu ke darat.

Ia mencoba bercakap-cakap pada penduduk namun ia diabaikan. Whalfeldt membagikan pakaian untuk penduduk, ia mencoba bersahabat. Penduduk Enggano adalah orang-orang yang tahu makna ada ubi ada talas dan ada budi ada balas. Para penduduk menghadiahkan sesuatu pada Whalfeldt. Beberapa ikan segar hasil tangkapan penduduk diterima oleh Whalfeldt.

Datang lagi penduduk yang lain memberikan buah-buahan. Mereka memberikan kelapa, tebu, nira, serta sejenis selai.

Namun ramah tamah tersebut hanya berlangsung sekejap. Salah seorang diantara mereka mencoba melepaskan kemudi perahu dan melarikannya. Lalu sebutir peluru dari pasukan Inggris membahana di kepala penduduk yang menyebabkan terjatuh ke laut.

Di bagian utara teluk agak berawa-rawa menjadi tempat kapal membuang sauh dan mendarat. Saat itu Miller kewalahan mengontrol pasukannya yang menembaki penduduk. Beberapa orang penduduk memberi isyarat agar Miller dan Whalfeldt naik sampan.

Namun pasukan Inggris melihat penduduk mendekat ke kapal Whalfeldt mengira bahwa mereka akan mencuri. Lalu dilepaslah tembakan bertubi-tubi. Miller mencoba mencegah penembakan itu. Sebab ia datang ingin berdamai dengan penduduk Enggano. Tapi pasukannya mengabaikan Miller. Opsir dan anggota pasukan tatkala membabi-buta menyerang penduduk Enggano.

Pribumi Enggano lebih akrab dengan medan yang mereka hadapi saat merencah rawa-rawa. Namun para kompeni tak kehabisan akal, mereka membakar rumah penduduk. Pasukan Inggris pun menyeret seorang perempuan dan seorang anak lelaki. Yang melakukan penangkapan tersebut adalah pasukan Inggris berkulit hitam berasal dari Afrika.

Simak juga: Ahed Tamimi, Simbol Baru Perjuangan Rakyat Palestina

Saat itu Miller yang sendirian di kapal dihampiri beberapa sampan yang berisi penduduk Enggano. Melihat hal itu, Opsir kompeni mengirimkan pasukannya yang terdiri dari orang berbangsa India untuk memberikan pertolongan.

Suara meraung-raung dan tembakan demi tembakan terdengar di seluruh teluk. Pada pagi harinya beberapa rombongan besar penduduk terlihat di pinggir pantai. Karena insiden itu maka gagallah untuk menjalin hubungan baik pada penduduk Enggano. Rombongan Miller pun kembali ke Fort Marlborough. [Eva De]