TERKADANG, waktu meliuk-liuk pelan menghadirkan keharmonisan antara harapan dan kenyataan. Dan benar saja, waktu telah berhasil mengukir senyum terindah di wajah seorang gadis. Disini ia sekarang, berdiri diantara kerumunan orang-orang. Mereka senang mendapati status baru sebagai seorang mahasiswa.

“Hello, what’s your name?”

“Oh hai… I’m Almeera Asiyah, and you?”

“Nice to meet you Asiyah, I’m Tari Anastasya. You can call me Tari.”

Itu adalah awal perkenalan dua sahabat. Saat itu ketika ospek mereka memang diwajibkan berbicara bahasa Inggris dalam keadaan apapun. “Look… look Asiyah! He is so handsome.” Tari menunjuk salah seorang senior yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Oh girls… he is my brother. What you’re talking about? Handsome? No way.” ujar perempuan di sebelah Tari. Dilirik lagi perempuan itu sekilas memang mirip dengan lelaki yang sedang mereka bicarakan.

“Oh, really?” Tari memastikan lagi hal yang baru saja didengarnya. Sementara Asiyah hanya tertawa pelan. Di detik berikutnya mereka berdua pun berkenalan dengan gadis yang mengaku adik dari senior yang mereka bicarakan.

“Call me Riani…” gadis itu tersenyum, mereka menjadi sahabat dekat sejak hari itu.

Bertiga, mereka bangga dengan almamater biru gelap yang baru saja diterima. Sering mereka bawa jalan-jalan, ketika ke Pantai Panjang, Fort Malborough dan kemana pun saat keliling kota Bengkulu selalu saja mereka kenakan.

Karena berada di jurusan yang sama dengan kakaknya Riani, mereka kerap kali meminta bantuan. Namun Tari, ia tak sering datang jika belajar bersama di rumah Riani. Gadis itu mengaku tidak kuat dengan pesona yang dipancarkan oleh Ridho –kakaknya Riani.

“Girls… besok mau lihat Rafflesia gak? Ada yang lagi mekar di Kepahiang.” ujar Asiyah pada kedua sahabatnya. Ia sangat menyukai semua tentang alam, keindahan berpadu ketenangan akan membuat ide-ide bermunculan di kepala Asiyah.

“Ok fix! Besok kita berangkat.” jawab Tari.

“Wah, kayaknya aku gak bisa ikut kalian girls… besok aku mau ikut Ibu arisan.” Riani terpaksa merelakan kesempatan berharga menyaksikan Rafflesia merekah terlewatkan.

“Aku juga diminta jadi pemandu rombongan turis, besok Tari bantuin Asiyah ya?” Asiyah memohon pada Tari agar bebannya sedikit diringankan. Dan tak sulit untuk mendapati Tari mengangguk bersedia membantunya.

***

Kawasan hutan lindung di kabupaten Kepahiang merupakan habitat dari Bunga Rafflesia yang kerap muncul pada kondisi alam dengan ekosistem yang masih asri antara lain di desa Pagar Gunung kecamatan Ujan Mas dan desa Tebat Monok kecamatan Kepahiang.

“Pagi-pagi disini dingin juga…” Tari merapatkan jaket.

“Tapi lebih dingin di Curup, ingat waktu kita kemah bakti sosial kan?” ujar Asiyah. Selanjutnya gadis itu memimpin rombongan turis. Di sebelah Asiyah, wajah Tari kemudian berubah suhu. Ia baru menyadari bahwa Ridho persis bersebrangan dengan mereka. Lelaki itu tampak mengambil beberapa gambar bersama dua orang sahabatnya.

Hal terbesar yang mengagumkan dari lelaki adalah ketaatannya pada Tuhan, seperti sekarang ketika Ridho meminta teman-temannya berhenti di dekat masjid untuk melaksanakan sholat zuhur. Mereka tengah berada dalam perjalanan pulang.

Asiyah memperhatikan tingkah laku Tari yang lebih bisa menjaga sikap. Asiyah pernah merasa beruntung ketika Tari tak hadir saat belajar bersama, sebab Ibu Riani kerap kali bercanda hendak menjodohkan Asiyah dengan Ridho.

Tentu, Asiyah tidak ingin melukai hati sahabatnya. Terlebih ia hanya menganggap Ridho sebagai senior yang sudah seperti seorang kakak.

Asiyah adalah gadis pemimpi dengan jutaan tumpukan imaji di benaknya. Bercita-cita mengelilingi dunia, Asiyah tak pernah menyerah ketika kegagalan demi kegagalan menghampiri. Dan sekarang ia punya dua sahabat yang selalu ada untuk menguatkan saat ia rapuh dan terjatuh.

***

“Hai Blue, what are you doing?” sepulang kuliah Asiyah sering menjumpai kucingnya menunggu di depan pintu. Blue adalah nama yang ia berikan, dulu Asiyah menyelamatkan Blue yang nyaris ditabrak mobil di jalan raya. Ketika itu ia masih SMA dan langit berwarna biru cerah. Asiyah lalu memutuskan untuk merawat Blue.

Selama kuliah, Asiyah tergabung di banyak organisasi dalam dan luar kampus. Ia adalah gadis yang aktif, bersama Tari dan Riani ia juga kerap kali terlibat dalam kegiatan sosial yang membuat mereka menjadi relawan.

Asiyah mengabadikan perjalanan dan cerita-ceritanya dalam blog pribadi, hingga tanpa ia sadari Asiyah sudah memiliki pembaca sendiri. Banyak orang tertarik dengan tulisan-tulisannya.

“Asiyah, ini kesempatan emas! Kau harus ikut.” Tari menyemangati ketika saat itu sebuah perusahaan mencari seorang blogger.

“Keliling Eropa Asiyah… travel blogger itu pekerjaan yang keren.” ujar Riani. Ia bahkan sangat histeris dan sangat mendukung Asiyah.

Kata orang, sukses itu perpaduan antara kesiapan dan kesempatan. Asiyah memang harus mencoba, sebab sekarang ia siap dan kesempatan itu ada di depan matanya.

Di sela-sela bergelut dengan skripsi, Asiyah juga memasuki tahap demi tahap seleksi. Ia sempat dihubungi Ridho yang memberitahu kalau nanti ia lolos jangan lupa untuk mengunjungi Ridho di London.

Inspirasi itu melebur, semakin ia ingin menapakkan kaki di berbagai Negara. “Kakak juga punya teman yang kuliah di Irlandia sama Scotland…” beritahu Ridho di suatu hari. “Oh iya, temanmu Tari apa kabarnya?” pesan singkat itu sering membuat Asiyah menggelengkan kepala.

Dalam diam, ada dua hati yang menaruh kekaguman. Diamnya mereka bukan berarti tak peduli, melainkan saling mendekap dalam doa-doa.

Dan Asiyah, ia tak terlalu pandai mengeja cinta. Dibesarkan dalam keluarga sederhana yang harmonis, bagi Asiyah itu sudah lebih dari cukup untuk menerjemahkan arti cinta. Sekarang ia hanya perlu berjuang untuk menggapai mimpi-mimpinya, jika ia menjadi orang hebat maka cinta yang akan ia temui di masa depan juga lebih hebat.

***

Hari itu saat Asiyah mengenakan seragam hitam-putih, menjadi pertanda bahwa masa-masanya sebagai mahasiswa akan segera berakhir. Ia akan sidang skripsi di hari yang sama dengan Tari dan Riani.

“Oh My God… Asiyah, congratulation…” Tari dan Riani memeluknya. Asiyah amat heran sebab sidang skripsinya baru satu jam lagi dimulai.

“Tari, Riani… kalian kenapa?” Asiyah tertawa mendapati sahabatnya histeris. Tari sampai mengusap airmatanya dengan ujung jilbab hitam yang ia kenakan. Riani bahkan berkaca-kaca, sebab mereka berdua tahu betul perjuangan yang dihadapi Asiyah.

“You did it, Asiyah. Ini lihat di web! Pengumumannya sudah keluar.”

“Oh dear…” wajah Asiyah gamang. Ia amat terkejut. Setelah mengembalikan ponsel Riani, ia lalu terduduk.

“Ayah dan Ibumu pasti bangga!” tari mengelus pundak Asiyah.

***

Asiyah pernah jatuh dari motor karena kejar deadline nulis skripsi dan ikut seleksi. Kaki dan tangannya lecet lalu laptopnya rusak parah. Tak pelak lagi ia menangis sejadi-jadinya. Semua tulisannya ikut hilang bersama laptop yang remuk beradu dengan aspal.

“Alhamdulillah…” Asiyah melirik jam di pergelangan tangannya. Menunggu penerbangan membuat dadanya bergemuruh hebat. Di samping Asiyah, Ayah dan Ibunya tersenyum bahagia.

Sementara Tari dan Riani tak bisa mengantar ke bandara, pasalnya tepat di hari keberangkatan Asiyah mereka diwisuda. Dan tentu Asiyah meninggalkan momen itu, ia hanya perlu mengantongi ijazah yang sudah diurusnya jauh-jauh hari.

“Hati-hati di jalan nak…” kedua orangtua Asiyah melepas putri satu-satunya. Ayah dan Ibu Asiyah amat paham dengan ketangguhan gadis kecil mereka.

Di seberang, Tari dan Riani sempat mengkhawatirkan Asiyah. “Gadis itu memang tampak kuat, tapi dia sering nangis diam-diam. Hh… semoga Asiyah kuat di negeri orang.” gumam Riani.

“Kemarin pas selesai tanda tangan kontrak, liat gak ekspresi Asiyah? Dia senyum tapi sebenarnya cemas.” Tari melihat Riani mengangguk mengiyakan pernyataannya. Terlepas dari semua itu, mereka percaya bahwa Asiyah adalah gadis tangguh.

Menginjakkan kaki di Eropa, Asiyah berada di pertengahan musim gugur. Ia melihat daftar Negara-negara yang akan dikunjunginya. “Britania Raya rupanya terakhir…” lirih Asiyah yang mengingat Ridho ada di London.

***

Petualangan menyajikan keindahan, kadang menyatu dengan alam atau melihat banyak tawa di kerumunan orang. Keadaan menuntut Asiyah menjadi lincah. Baru saja ia akrab dengan beberapa orang setempat, ia justru harus melangkahkan kaki lagi.

Membiarkan rindu melambung ke dada langit kadang memang terasa sakit. Ia mulai rindu pada canda dan tawa bersama Tari dan Riani. Ia rindu masakan Ibunya dan Asiyah rindu pada obrolan hangat bersama Ayah.

Beberapa bulan dalam petualangan, tanpa terasa Asiyah akan mengakhirinya. Dari penginapan ia mengenakan boots hitam, jaket berbulu tebal, jilbab putih dan rok denim hitam. Memasuki musim dingin Asiyah sudah siap mengunjungi setiap pelosok Irlandia.

“Asiyah, kita ketemu di Irlandia saja. Kakak dan teman-teman menuju kesana.” dering ponsel Asiyah, sebuah pesan singkat dari Ridho. Seketika Asiyah mengiyakan, sebab ketika ia datang ke London barangkali nanti Ridho sudah pulang ke tanah air.

Berada di Belfast, membuat kamera Asiyah sudah menari bahagia. Butiran salju yang mengenainya menjadi efek alami dalam potret yang diabadikan kamera. Namun, seketika ia berhenti saat kameranya menangkap seorang nenek yang tertatih hendak menyebrang.

Gadis itu sigap membantu. Melihat ke seberang, Asiyah merasa heran sebab sesosok lelaki lekat memandanginya. Ia lalu tersenyum dan berlalu. Kegamangan di wajah lelaki tadi membuat jantung Asiyah berdegup lebih cepat. Sebelumnya ia tak pernah dipandangi sebegitu seksamanya.

“Oh dear…” Asiyah mengelus dada mengingat lelaki tadi.

“Dimana ya? Wah… aku lupa.” Asiyah beradu dengan ingatan. Seolah ia pernah menjumpai lelaki itu sebelumnya, sayang ia lupa.

“Hai… sudah lama nunggu?” sapa Ridho. “Oh tidak juga kak. Asiyah juga baru sampai.” Ia tersenyum bahagia mendapati dirinya dapat berjumpa dengan kelopak-kelopak Rafflesia di tanah Britania Raya. “Oh iya, kenalin ini teman kakak dari Scotland…”

“Hello Asiyah. Aan Anugrah…”

“Oh dear! Sekarang aku ingat.” batin Asiyah. Mereka pernah bertemu di Kepahiang ketika menyaksikan Rafflesia merekah. “Kalian bertiga kan kak? Satu lagi teman kakak yang tinggi itu dimana?” Asiyah bertanya pada Ridho. Namun, kedua lelaki itu justru tertawa.

“Diam-diam mereka terikat juga ya?” bisik Aan pada Ridho. “Hush! Asiyah gak tahu apa-apa. Mending beli kopi sana! Dingin nih.” jawab Ridho.

Asiyah mengerutkan kening saat melihat tingkah dua seniornya. Tak berselang lama Aan pun beranjak membeli kopi, Ridho lalu bercerita banyak hal tentang petualangan di London. Sesekali Asiyah tertawa karena pengalaman lucu yang dialami Ridho.

“Kenapa tadi minta ketemu di sini kak?” tanya Asiyah sambil mengedarkan pandangan di sekeliling kampus. “Ini kampus teman kakak, nah itu dia baru datang…” Ridho menunjuk Raffa.

Menoleh, Asiyah terdiam. “Benar! dia lelaki yang tadi kulihat…” pikirnya.

Sambil menyeruput kopi yang tadi dibeli Aan, mereka berbagi cerita. Hingga ikut bergabung juga seorang wanita. Sinyal yang datang dari wanita itu dipahami Asiyah sebagai rasa cemburu, tapi ia tak ingin tahu sebab ini pertama kalinya Asiyah berjumpa dengan wanita itu.

“Asiyah… itu kau kan?” dalam sekejap tangan Asiyah sudah dipegangnya. “Aku Sinta, salam kenal…” Asiyah pun mengangguk-angguk. Barangkali hanya perasaannya saja, sebab ia mendapati Sinta terlihat ingin sekali mengenal Asiyah.

***

Menuntaskan rindu dalam sekejap rasanya seperti mimpi di siang hari. Namun ini kenyataan, Asiyah dapat merebahkan badan di kasur empuk di kamar yang lama dirindukannya. Ia kembali menjumpai Blue, ia melihat kedua orangtuanya tampak bahagia lalu…

Tari dan Riani sampai-sampai niat bermalam di rumahnya.

“Wah, kok makin putih?”

“Kau pasti pernah perawatan disana kan?”

Alih-alih menanyakan perihal petualangan Asiyah, Tari dan Riani justru mengomentari perubahan kecil di diri Asiyah. “Tarraaa… aku punya sesuatu untuk kalian…” Asiyah mengeluarkan berbagai macam aksesoris.

Tawa menghiasi pertemuan. Hal itu menjadi bukti bahwa takdir amatlah sering dalam memberi kejutan. Seperti kedatangan tiga orang di depan rumah Asiyah. Tempo hari Ridho memang menanyakan sesuatu. Tak disangka Asiyah, Ridho benar-benar datang bersama kedua sahabatnya.

“Kami berdua cuma jadi body-guardnya dia.” Ridho menunjuk Raffa yang berdiri kaku.

Pikiran Asiyah berkecamuk. Ia minta waktu untuk mendiskusikan banyak hal dengan Ridho. “Asiyah kira kemarin kakak bercanda! Kak, Asiyah gak tahu apa-apa tentang kak Raffa. Aduh… kenapa ini mendadak sekali kak?”

“Oh-ho! Keep calm Asiyah. Kami kesini cuma mau main. Raffa ingin meminta persetujuanmu lebih dulu. Dan kalau soal Raffa, gak perlu ragu! Dia sahabat terbaik dan kakak sangat mengenalnya.”

Hari itu mulanya berwarna abu-abu lalu menjadi putih cerah bak awan yang tenang di sisi langit yang biru terang.

Asiyah ingin menertawakan diri sebab dilihatnya tak sekalipun Raffa berniat memulai pembicaraan. Lelaki itu justru lebih tampak akrab dengan kedua orangtua Asiyah. Sementara Riani tak henti menahan tawa, dan Tari… gadis itu amat terharu akan kisah yang dilalui Raffa dalam memperjuangkan Asiyah yang bahkan tak tahu secuil pun kisah tentangnya.

Tari merasa berada di posisi yang sama, saat jarak yang cukup dekat tak juga membuatnya berani walau hanya bertanya “Apa kabar kak Ridho?” ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk melakukan itu.

***

“Dia lelaki terhebat. Lelaki pertama yang pernyataan cintanya kuterima. Di banding yang lain memang dia lebih nekat, soalnya bukan perhatianku yang dia curi tapi justru perhatian Ibu dan Ayah. Dia mendekatiku dengan cara yang hebat, karena itu kuterima dia sebagai lelaki terhebatku.”

Asiyah menghadapi laptop, ia menguraikan kisahnya dalam catatan pribadi. Sebab semakin hari ia mengenal Raffa, Asiyah semakin tahu bahwa lelaki itu adalah bongkahan inspirasi.

“Di suatu hari, jika aku jatuh pada pangeran pencuri hati, kuharap dia adalah lelaki terbaik yang dianugerahi nadi penginspirasi.”

Asiyah ingat, dulu ia pernah menulis kalimat itu. Rupanya Tuhan mengabulkan dan bahkan memberi lebih.

Dikenal sebagai pemintal kata, Asiyah justru menyerah jika harus mengibaratkan Raffa seperti apa. Ia merasa tengah menjaga anugerah Tuhan yang begitu berharga. Kepribadian Raffa membuat Asiyah jatuh cinta, selera humor lelaki itu seperti menjadi asupan gizi yang membuat Asiyah tak kehilangan alasan untuk bahagia.

“Honey… sudah selesai sama laptopnya? Kita harus ke rumah Ridho segera.” Asiyah tersadar selepas subuh tadi ia memandangi laptop, sementara mereka harus membantu persiapan resepsi Ridho dan Tari.

Dan… tadi ia baru saja mendengar suara yang menyapanya setiap pagi. Suara yang membuat Asiyah berlabuh dalam nyaman. Suara yang hangat dan lembut secara bersamaan.

Cinta itu sebenarnya dekat sebab memiliki pintu dimana-mana. Amat dekat seperti ketika Riani memperlihatkan cincin tunangannya pada Asiyah.
Aan meninggalkan masa lalu dan membuka lembaran baru, meski tidak mudah baginya meminta persetujuan Ridho. Namun, akhirnya Ridho pun bisa luluh dan memberi restu. Aan, lelaki itu bahagia sebab sudah menyematkan cincin tunangan di jari manis Riani.

Suatu hari, cinta yang dilabuhkan dalam doa akan menyapamu di setiap pagi buta. Menenggelamkan sedih menjadi ribuan tawa dan menyulap tanda tanya menjadi petualangan bersama. Cinta memang begitu.