“Eh, ngomong-ngomong aku masih mikirin kata-kata Ibunya Ridho tadi.” Aan berpikir sejenak. “Sekarang umur kita 24 tahun, kita mulai S2 berarti umur 25 tahun lalu tamat di umur 26 tahun kan?” ia mengarahkan pandangan pada kedua sahabatnya secara bergantian.

Raffa dan Ridho pun mengangguk.

“Apa masalahnya An?” selidik Raffa.

“Ibu Ridho benar, 26 tahun itu sudah dewasa. Ingat Roni teman kita kan? Anaknya udah masuk TK.”

“Sabar An, nanti ada waktunya.” Ridho menyela.

***

Roda kehidupan berputar dan petualangan pun di depan mata, menyaksikan karya-karya Tuhan yang Maha hebat cukup membuat decak kagum nyaris tak henti bergumam. Melanglangbuana lalu langkah kaki pun terpisah. Jarak akan menyita banyak kenangan dalam ingatan.

Raffa, Aan dan Ridho menarik koper menuju tujuan masing-masing. Ke depan mereka akan disibukkan dengan aktivitas baru dan tentu, bersama orang-orang baru. Namun, sepertinya Raffa menjumpai sosok yang pernah ia kenal di masa lalu.

“Selamat datang Raffa, jangan lupa kumpul di aula satu jam lagi.”

Secarik kertas ditempel di pintu kamarnya, tertera bahasa yang terasa familiar.

Setelah meletakkan koper, Raffa melihat-lihat tempat tinggal barunya. Ia menjumpai banyak mahasiswa dari Indonesia dan ada beberapa yang sudah ia kenal saat ikut seleksi beasiswa.

“Hei Raff, mau ke aula?” tanya lelaki bertubuh tinggi dan memakai kacamata. Raffa mengenal sosok itu sebagai seorang kutu buku sebab dulu ketika bertemu Raffa di Indonesia, lelaki itu selalu membawa buku untuk dibacanya.

“Hei Rangga, iya nih tadi ada catatan di depan pintu kamarku.” Raffa balik menyapa Rangga.

“Sinta yang nulis catatan itu, dia tinggal di sana.” Rangga menunjuk rumah di seberang jalan. “Bagaimana bisa?” pikir Raffa, dulu saat mereka ikut seleksi dan pembekalan ia tak pernah mendengar nama Sinta disebut-sebut.

“Cecunguk dua itu harus tahu!” Raffa pun langsung mengabari Ridho dan Aan lewat chat.

Di dalam ruangan yang cukup luas, terdapat kursi-kursi kayu yang antik dan meja berwarna coklat terang. Raffa mengedarkan pandangan namun ia tak mengenali sosok wanita yang bernama Sinta. Sejenak dering ponsel mengalihkan perhatian Raffa.

“Aku kira kau udah tahu bro! Nama panjangnya kan Arsyintia Devina, kita kenalnya Sinta. Dulu waktu di Jakarta aku sama Aan pernah ngobrol sama Sinta, kau emang gak gabung waktu itu.” balas Ridho yang disambung acungan jempol oleh Aan.

“Oh man!” lirih Raffa, sungguh ia tak ingin diganggu seperti dulu di masa-masa kuliah.

Dan di detik berikutnya Raffa tahu bahwa ia dan Sinta berada di kampus dan jurusan yang sama. Sekarang ia tahu rupa Sinta tetapi wanita itu seolah biasa saja, senyum seadanya dan menyapa seperlunya.

***

“Gimana rasanya kuliah di Skotlandia An?”
Raffa membuka percakapan, mereka tengah berada di pelataran Big Ben, London. Menikmati secangkir kopi dan menyambut datangnya musim semi, matahari mulai beranjak naik namun udara tetap terasa sejuk. Barangkali karena pemandangan disana indah sejauh mata memandang.

“Wah, luar biasa Raff… tapi aku udah rindu sama nasi goreng Emak.”

Mendengar itu Raffa pun tertawa, sama seperti Aan ia juga pernah merasakan rindu pada segala hal tentang tanah air. Lagi-lagi jarak memang sanggup membolak-balikkan perasaan. Saat di Indonesia ingin melanglangbuana, dan ketika berada di negeri orang justru merasakan rindu yang amat sangat pada keluarga.

“Eiittss… maaf banget bro, telat bentar. Tadi kami ada rapat.” Ridho baru saja datang. Ia terlihat dewasa mengenakan coat coklat terang dan syal kecil berwarna senada.

“Siapa yang tinggal di London eh dia yang telat.” ucap Aan, seketika shake hand ala sahabat dekat pun mewarnai pertemuan mereka.

“Kalau dia gak bilang ada rapat tadi, pasti udah kita serbu kamarnya.” kata Raffa diikuti tawanya.

Mereka berkisah tentang banyak cerita, berbagi banyak hal-hal baru yang menjadikan hari itu semakin seru. Pertemuan yang cukup singkat itu diakhiri dengan foto-foto, kali kedua mereka berfoto bersama setelah tiba di bandara hari itu.

“Salam buat Sinta ya Raff…” ujar Ridho cekikikan saat mereka akan kembali ke ‘habitat’ masing-masing.

“Wah, parah nih anak…” gerutu Raffa.

“Aku lihat loh foto kalian waktu selesai rapat di aula pas hari pertama. Liat di media sosial Sinta.” sambung Aan.

“Itu foto satu rombongan An, biasa aja tolong!”

Tak pelak lagi Raffa menjadi bulan-bulanan. Ia bahkan belum berbicara banyak pada Sinta, namun kedua sahabatnya sudah berprasangka seenak mereka.

***

Raffa dan yang lainnya harus menyelesaikan master dalam satu tahun, dengan waktu yang singkat itu mereka bahu membahu belajar serajin-rajinnya. Meski begitu, bukan berarti melewatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan-pemandangan indah.

Jadwal yang padat dan berkurangnya jam tidur sudah menjadi rutinitas sehari-hari, tidak salah jika di hari libur Raffa menghabiskan waktu sedikit lebih lama di kamarnya. Sungguh, ia amat lelah.

“Kau kan?” pertanyaan itu menggantung disela-sela dengkuran halus dari sosok yang masih tertidur pulas. Sementara di luar terdengar pintu kamarnya diketuk-ketuk oleh seseorang.

“Oh astaga… aku mimpi!” Raffa terjaga lalu melirik jam dinding, “Sudah masuk subuh…” lirih Raffa kemudian beranjak dari tempat tidur. Ia baru menyadari ada suara dari luar kamarnya.

Ia heran saat membuka pintu tapi tak medapati siapa-siapa, oh hanya ada secarik kertas yang ditempel di pintu.

“Kalau ada waktu ayo ikut kami jalan-jalan hari ini.” tulis Sinta, tampak bahwa gadis itu sebenarnya masih berusaha mendekati Raffa.

Namun, Raffa tak berniat keluar rumah hari ini. Ia merasa badannya pegal dan butuh istirahat. Selesai melaksanakan sholat subuh Raffa termangu, sejenak ia terpikir akan mimpi yang tadi ia alami.

“Sungguh tak masuk akal…”

Raffa kembali berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar dan kembali menelusuri mimpinya. Mungkin ia harus segera menghubungi Ridho, dan bertanya langsung. Entah kenapa mimpi itu amat mengusiknya.

Raffa mencoba menelepon Ridho tapi tak mendapat jawaban, ia memutuskan keluar dari kamar dan melihat dapur lalu meraih segelas air. Ada Rangga disana.

“Eh Raff, tadi Sinta nanyain tuh…” ujar Rangga sambil mengoleskankan selai coklat di roti tawar. “Mau?” lanjutnya lalu menyerahkan roti.

“Thanks bro, ngapain Sinta nanyain aku?” Raffa melabuhkan gigitannya pada Roti yang diberi Rangga.

“Sinta ngajak jalan tuh. Kayaknya mereka mau ke Edinburgh Castle, musim panas gini pasti seru kesana.”

“Hari ini istirahat dulu lah…”

Berbeda dengan hari-hari kemarin, Raffa memang tampak kusut hari ini. Ia sudah membaca banyak buku tadi malam, dan menyelesaikan beberapa tugas.

“Raff, itu bunyi ponselmu kan?” samar-samar Rangga mendengar dering ponsel dari arah kamar Raffa. Lelaki itu pun mengangguk dan mengambil ponselnya. Telepon dari Ridho.

“Ada apa Raff?” suara dari seberang telepon terdengar serak. Seketika Raffa pun tahu suara Ridho berubah karena batuk.

“Aku mau nanya sesuatu…”

Percakapan di telepon dengan Ridho berlangsung lama, Raffa hanya ingin mengonfirmasi mimpinya dan ia sudah mendapat jawaban itu dari Ridho. Setidaknya ia sudah mengetahui sebuah nama.

“Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba mimpi dia, makanya aku penasaran siapa namanya.” ujar Raffa.

“Namanya Asiyah Raff, Almeera Asiyah.”
Raffa mendapatkan nama sosok yang ada di mimpinya, wanita yang pertama kali ia lihat saat menyaksikan Rafflesia merekah kemudian ia jumpai lagi saat aksi damai di Simpang Lima, ketika di Bengkulu.

“Aku memang belum cerita ke kalian Raff, Asiyah adek tingkatku itulah yang sebenarnya dijodohkan Ibu denganku.”

Bersambung…