RAFFA termangu, menatap proyek pribadinya di atas meja. Ia bermaksud menyelesaikan tugas kuliah dari kampus, namun sepertinya suasana hati tengah ingin melepas penat. Raffa lalu memutuskan keluar.

Menyusuri jalanan ibukota Irlandia Utara, Belfast –rasanya ia seperti menapak tilas sejarah. Walaupun Irlandia tergolong Negara kecil, tapi memiliki peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik. Selain itu, Irlandia juga terkenal dengan Negara yang ramah wisatawan.

Raffa menghentikan langkah, ia berpikir butuh teman untuk menemaninya hari ini. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara. Dan Raffa mengingat sesuatu, Aan dan teman-temannya sedang melakukan trip ke Irlandia Utara dan sekarang mereka tengah berada di O’brien’s Tower.

“An, masih di lokasi? Aku menyusul ya?” ketik Raffa lewat sebuah pesan singkat.

“Masih bro. buruan ikut foto-foto!” balas Aan.

Raffa tersenyum, sebab ia sudah punya banyak koleksi foto diri saat berada di O’brien’s Tower. Ia segera meluncur menyusul Aan, tadinya Raffa ingin mengajak serta Ridho, tapi bukankah sesuatu yang ingin ia bicarakan pada Aan adalah tentang Ridho?

O’brien’s Tower berupa bangunan penanda sebagai titik tertinggi dari Cliffs of Moher (tebing curam yang berada di pinggir pantai dan memiliki pemandangan samudera lepas yang sangat indah). Ketika cuaca sedang cerah seperti hari ini ketika Raffa menemui Aan, maka terlihatlah sebuah pulau kecil di seberangnya.

Pulau itu sangat terkenal karena mempunyai situs bersejarah di Irlandia. Daya tarik tempat itu adalah pemandangannya yang cocok untuk digunakan sebagai spot foto. Pengagum keindahan alam seperti Raffa dan Aan tentu sangat menyukai tempat ini.

Dari kejauhan Raffa bisa mengenali Aan, ia tengah membuat video. Pastilah Aan ingin mengirimkan video itu untuk Emak. Sneakers hitam yang membersamai langkah Raffa pun berhenti tak jauh dari Aan.

“An…” panggil Raffa, sahabatnya itu pun menoleh.

“Wah, kalau aku jadi kau Raff, sampai pelosok-pelosok Irlandia pasti kusambangi. Disini keren banget.” ujar Raffa tampak kagum dengan pemandangan yang dilihatnya.

“Scotland juga keren kali An, punya Old Town. Liat gambarnya aja mataku udah berkaca-kaca karena terkesan.” ungkap Raffa yang amat terkagum dengan Old Town, Edinburgh.

“Oh iya An, ada yang mau aku bicarakan.”

“Ampun bray… serius amat kayaknya.” Aan tertawa.
Bercerita panjang lebar, Aan yang berdiri di sebelah Raffa hanya sesekali mengangguk dan kembali melabuhkan kameranya pada pemandangan indah di depan mata.

“Kok bisa kau mimpiin Asiyah Raff?”

“Ya mana kutahu An, dalam mimpiku juga Asiyah berdiri di keramaian gitu dan cuma tersenyum ke arahku.”

“Pasti tambah cantik ya dia sekarang. Terakhir aku melihat Asiyah itu waktu wisuda kita. Kayaknya dia punya kenalan yang lagi wisuda bareng kita juga, makanya Asiyah waktu itu bawa bunga.”

“Yak elah An, mana aku tahu dia cantik apa gak. Toh di mimpiku dia pakai jilbab putih kayak yang kita lihat di simpang lima waktu itu. Lagian pas kita wisuda, aku juga gak melihatnya.”

Aan tertawa. Jika ada orang yang amat tahu sifat Raffa maka orang itu adalah Aan, sekarang Aan tertawa lepas. Ia mendapati sesuatu yang selama ini tak pernah seserius sekarang. Bahkan Aan sempat mengira bahwa Raffa memiliki hati yang amat keras, hingga lelaki itu tak tertarik pada wanita manapun bahkan pada wanita sekelas Sinta.

“Biar aku tebak Raff, kau sebenarnya kagum kan sama Asiyah? Kalau aku lihat kayaknya sejak bertemu di Kepahiang kan?”

“Asiyah itu gadis yang dijodohkan sama Ridho An, kan tadi sudah kubilang.”

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku loh Raff. Aha! Ketahuan.”

Lagi-lagi Aan tertawa. Ia puas menyudutkan Raffa. “Walau kenyataannya begitu, persahabatan kalian berdua jangan merenggang ya?” lanjut Aan.

Raffa mengusap wajahnya lalu melepas topi hitam yang sedari tadi ia kenakan. Sedikit mengacak-acak rambut lalu melepas napas berat, ia mengedarkan pandangan jauh ke samudera yang terhampar.

***

“Good morning, Raffa…” sapa Sinta ketika memasuki kampus.

“Oh? Sinta, morning…” Raffa menoleh sejenak, pagi ini memasuki musim gugur ia seolah mendapati Sinta amat berbeda. Wanita itu memasang senyum maksimal di dekat Raffa. Mungkin tak sedikit wanita yang iri pada Sinta, sebab ia cantik dan cerdas terlebih lagi juga sangat bersahabat.

Namun tetap saja Raffa tidak tertarik untuk berlarut-larut berbicara banyak hal pada Sinta. Ia tak ingin jika Sinta salah memahami niatnya untuk berteman.

“Raff, I’ve loved you since the day I met you.” Sinta menghentikan langkah hingga tertinggal di belakang Raffa.

Raffa melakukan hal yang sama, langkahnya terhenti seketika. Wajahnya gamang bukan karena senang, melainkan sesuatu yang baru saja ia dengar adalah hal yang selama ini tak ingin didengar Raffa.

Ia melonggarkan syal yang mengelilingi lehernya, Raffa memutar otak lalu berbalik melihat Sinta. Lelaki itu tampak memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket. Ia berjalan beberapa langkah ke arah Sinta.

“Sinta, you’re a precious woman… I know that. But I can’t be your man, Sinta.” Raffa mencoba lebih bijak dan berusaha agar tidak menyinggung perasaan Sinta.

“Alasannya?” Sinta menghujamkan pertanyaan yang membuat Raffa terdiam sejenak. Lelaki itu tampak berpikir, sejak masuk kuliah di Bengkulu Raffa memegang prinsip untuk tidak pacaran. Dan disaat-saat seperti ini, ia tidak mungkin mengatakan tentang prinsipnya pada Sinta. Bisa saja Sinta justru meminta segera menikah dengannya.

“Aku sudah memiliki seseorang di hatiku.” ucap Raffa dan seketika berhasil meluluh-lantahkan dunia Sinta.

Gadis sebahu Raffa yang mengenakan jilbab pink itu tampak meneruskan langkah, Raffa mengikuti dari belakang. Soal perempuan Raffa bukan ahlinya, ia sempat memikirkan banyak hal. Tiba-tiba terlintas ingatan saat ia membaca surat kabar di Bengkulu, dengan tajuk yang membuat mata tegang; seorang remaja bunuh diri karena cintanya ditolak. Na’udzubillah…

“Wah, jadi aku habis ditolak nih?” Sinta tertawa kecut lalu menatap kesal ke arah Raffa.

“Hm, semacam itulah?” Raffa tidak mampu berkata lebih dari itu.

“Siapa sih wanita yang kau suka Raff? Asiyah adek tingkatnya Ridho? Bukannya mereka mau dijodohkan? Aku bilangin ke Ridho biar tahu rasa kau Raff.”

Emosi Sinta jauh dari stabil, Raffa bertanya-tanya bagaimana bisa Sinta mengetahui hal itu? Wajah kaku Sinta memerah bukan karena embusan angin di musim gugur, melainkan karena amarah yang mengaduk-aduk hatinya.

Bersambung…