Ilustrasi perlawanan rakyat Indonesia dalam Perang Padri

“Mulai dari pulau Boras sampai ke Morauke, terdapatlah suku bangsa yang memiliki sifat yang sangat berbeda – beda: ada yang suka damai dan ada yang berjiwa perang, ada yang fanatik dan ada yang lemah. Ada yang segera menunduk memberi hormat serta berjongkok, apabila mereka melihat sepasukan tentara, dan ada pula yang lain, yang dengan tidak ragu- ragu menerpa dan menerkam bayonet serta karaben pasukan kita. Sungguh bersyukurlah kita karena keadaan kebetulan diatur oleh alam; andai kata tidak, maka karya kolonial kita akan terlampau berat bagi kita pada masa lampau itu.”

Begitu bunyi laporan yang terungkap dalam kesejarahan pihak Belanda. Terdapat dalam buku Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu karya Achmaddin Dalip dkk pada tahun 1982.

Buku Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merupakan inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional yang disusun pada tahun 1982/1983.

Disebutkan, pada masa itu Bhinneka lahir dalam wujud perjuangan yang dilakukan secara terpisah oleh suku bangsa Indonesia. Dan tunggal ika lahir dalam sifat bara abadi melawan penindasan.

Semangat para pejuang saat itu berasal dari hasrat mereka yang paling dalam. Mereka mengibarkan panji-panji pemberontakan dan melawan penjajah.

Kisah yang sebenarnya ini amat terbalik dengan yang ada di dalam laporan dan catatan kekuasaan sipil dan kemiliteran. Sebab, laporan dan catatan itu bersifat sepihak. Hanya berasal dari pihak kolonial saja.

Sesungguhnya, rakyat bersama kepala suku mereka berjuang melepaskan diri dari penindasan. Sebuah keadaan yang menindas saat itu adalah sistem kolonialisme dan imperialisme.

Pasukan kolonial Inggris dan Belanda ketika itu memiliki persenjataan lengkap. Mereka memiliki senjata api seperti mortar, senapan api, dan karaben. Terlebih lagi pasukan kolonial dilatih dengan sangat baik mengenai ilmu peperangan, ilmu jiwa masyarakat, dan manajemen keseluruhannya pun terpusat.

Hal tersebut juga termuat dalam laporan yang berbunyi: “Tak lama kemudian, dikirimkan dari Bengkulu satu detasemen pasukan lagi, dipimpin oleh seorang opsir dan tiga belas serdadu, membawa minuman arak dan uang menuju Kaban.”

Namun, tidak lama kemudian pasukan itu pun mendapat perlawanan dari pejuang. Semuanya mati kecuali beberapa orang yang sedikit sekali bisa menyelamatkan diri.

Lalu datang gerombolan musuh yang berkekuatan sekitar seratus orang bergerak menuju Kaban. Disana opsir De Leau dengan pasukannya sibuk memperkuat pertahanan.

Karena hubungan dengan Bengkulu terputus, maka pada pertengahan Juli 1855 bala bantuan tiba dari Batavia (Jakarta) di bawah pimpinan Kapten Infanteri yang bernama Vogel.

Keadaan di Bengkulu saat itu amat buruk, pasukan kolonial membangun perlindungan dan benteng. Suara tembakan pun terdengar terus-menerus. Tapi untungnya tak banyak korban berjatuhan dalam pasukan Bengkulu.

Sementara pada saat melawan sistem imperialisme Jepang, sudah sedikit berbeda. Perlawanan melawan Imperialisme Jepang dilaksanakan dalam suasana merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Keadaan perjuangan sudah bersifat massal. Teknik dan taktik perlawanan sudah menjalani kemajuan, bara api sudah menyala di seluruh pelosok.

“Merdeka atau mati!!!” teriak para pejuang. [Eva De]