Ilustrasi perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah

BENTENG Marlborough didirikan saat itu ketika Bengkulu diperintah oleh wakil gubernur Inggris bernama Joseph Collet. Ia adalah seorang kolonial yang merasakan bahwa kekuatan senjata dan kekuasaan berada di atas segalanya.

Collet mengundang pedagang Cina masuk ke Bengkulu. Ia memberikan kemudahan pada pedagang Cina hingga para pedagang tersebut merasa betah dan kerasan tinggal di Bengkulu. Dan lebih dari Inggris, pedagang Cina benar-benar menambah beban rakyat Bengkulu. Mereka bahkan menganggap Raja-raja tidak memiliki silsilah dan tradisi.

Bahkan Collet sendiri sangat memandang rendah kerajaan yang ada di Bengkulu. Collet kerap kali menghina dan meremehkan kerajaan karena perlengkapan seperti meriam dan kapal perang tidak lengkap.

Raja Bengkulu dengan tegas tidak menerima penghinaan tersebut. Ia tidak rela saat Collet mengina kerajaan dan para leluhurnya. Sebab leluhur mereka adalah Puteri Gading Cempaka, Baginda Maharaja Sakti, Anak Dalam Muaro Bengkulu, dan Ratu Agung.

Pada bulan Maret di tahun 1719, pertempuran sengit pun pecah antara Inggris dan rakyat Bengkulu. Rakyat Bengkulu terdiri dari suku Lembak dan dipimpin oleh putra dari Pangeran Jenggalu yang disiksa Inggris pada tahun 1710 dahulu. Dan pemimpin tangguh lainnya adalah Pangeran Mangku Raja dari kerajaan Sungai Lemau.

Sementara itu, Benteng Inggris dilindungi tembok tebal dengan meriam yang siap tembak. Para serdadu terlatih pun disiapkan dengan matang. Namun, semua itu bukan halangan bagi rakyat Bengkulu.

Pertahanan Inggris berhasil dijebol oleh rakyat Bengkulu. Kantor-kantor para kompeni pun dibakar. Sisa kompeni Inggris yang selamat pun langsung melarikan diri ke kapal dan menuju Madras (India). Amukan rakyat Bengkulu kala itu berhasil mengecam Inggris.

Satu tahun setengah Bengkulu menikmati kemerdekaan, rakyatnya terbebas dari jerat bengis kekejaman Inggris.

Namun, inilah kekuatan sekaligus kelemahan rakyat Bengkulu saat itu. Ketika lawan sudah mengakui kesalahan, lalu meminta maaf, habis sudah rasa dendam dan benci rakyat Bengkulu. Sungguh mulia sekali nilai budi luhur mereka.

Inggris pun kembali masuk Bengkulu. Mereka bermukim lagi di benteng Fort Marlborough di penghujung tahun 1720.

Inggris memasang jerat. Mereka bermuka manis pada penduduk, mereka menyalahkan diri atas kekeliruan yang pernah dilakukan. Inggris juga belajar menghormati lembaga-lembaga di Bengkulu.

Namun, semua itu hanyalah tipu daya. Semua kebaikan yang dilakukan adalah umpan. Karena sejatinya Inggris berazaskan moral dagang. Keinginan mereka untuk mendapatkan tanah jajahan tidaklah pernah luntur sedikitpun.

Di tahun 1720 saat itu, pembangunan Benteng Marlborough pun sudah selesai. Pasalnya pekerja didatangkan dari India. Lalu benteng Marlborough mendapat perlindungan dengan 72 meriam besar. Inggris semakin kuat menancapkan taring di Bengkulu. [Eva De]