Ilustrasi perlawanan menghadapi penjajah

Di masa itu ketika Pangeran Sungai Lemau dan Pangeran Sungai Hitam berkunjung ke Fort Marlborough, barisan pengawal memberi hormat dan genderang pun ditalu.

Kompeni Inggris menyanjung Pangeran Sungai Lemau dan Sungai Hitam. Pasalnya, mereka berdua dapat memenuhi kehendak Inggris. Di sisi lain, Pangeran Selebar tidak lagi disukai Inggris. Hal itu dikarenakan kegagalan Pangeran Selebar dalam memaksa rakyat untuk memperbesar kapasitas penanaman merica.

Dikarenakan kegagalan itu, maka hak-hak Pangeran Selebar sebagaimana tercantum dalam perjanjian 1695 pun dicabut. Sebaliknya, untuk Pangeran Sungai Lemau dan Sungai Hitam kerjasama pun ditingkatkan. Kompeni Inggris dengan senang hati memberikan tunjangan uang tahunan dan memberikan hak-hak secara turun temurun.

Kemudian untuk melancarkan aksi, Inggris juga menarik perhatian kepala adat Mannak, Kaur dan sekitarnya. Mereka memberikan gelar dan meninggikan kewibawaan para kepala adat.

Inggris demikian bernafsunya untuk menguasai Bengkulu. Kompeni Inggris pun memperalat kepala adat untuk kepentingan dagang mereka.

Demi menyukseskan siasat busuknya, Inggris juga menanam benih adu domba. Pengangkatan pangkat dan pemberian gelar terhadap beberapa tokoh kerap memancing iri hati dan dendam.

Pengangkatan jabatan dan gelar dilakukan Inggris sesuka hati. Bagi tokoh daerah yang menguntungkan Inggris maka akan dinaikkan pangkatnya. Kolonial Inggris mabuk karena keuntungan dan penghasilan besar dari dagang merica.

Dalam Sumatera Factory Record disebutkan: “Pecahnya kemelut negeri Bengkulu pada masa permulaan berdirinya setlemen Inggris, dan karena tak ada kepemimpinan yang kuat di kalangan para pemimpin adat, menyebabkan timbul niat kompeni Inggris untuk membina suatu pemerintahan bayangan setempat. Pilihan jatuh pada Orangkaya-lela. Orang yang merupakan satu-satunya yang cocok dijadikan Gubernur atau kapten dari rakyat, dan orang yang paling disegani oleh segala kalangan…”

Dijelaskan dalam buku karangan Achmaddin Dalip dkk yang membahas tentang kolonialisme dan imperialisme di daerah Bengkulu, bahwa orangkaya Lela yang dimaksud berada di Indrapura. Mereka pun diundang untuk datang ke Bengkulu atau Fort York.

Namun, kala itu yang datang justru Daeng Maruppa, orangkaya Bugis, dan serdadu Ambon. Dikatakan juga, semenjak itulah kapten Bugis punya peranan besar di Bengkulu.

Berdasarkan catatan dari pihak Inggris tahun 1688, dikatakan bahwa: Saudara Daeng Mabella bernama Sultan Endoy dan anak-anak yang lainnya dari Daeng Maruppa secara resmi memasuki ketentaraan Inggris dan menduduki posisi sebagai Kapten Kepala.

Di masa itu, bagi mereka yang pro terhadap Inggris maka akan disejahterakan keadaannya. Berbanding terbalik dengan nasib orang-orang yang tidak melakukan kehendak Inggris. Hak-hak mereka dicabut dan hidup jauh dari kata sejahtera. [Eva De]