Pasukan Jepang

SAAT menguasai Indonesia dan berada di Sumatera, Panglima Angkatan Darat Jepang merangkap sebagai kepala pemerintahan sipil yang disebut Saiko Sikekan. Pimpinan tertinggi di Sumatera ini tunduk pada pimpinan atasan Jepang yang berkedudukan di Singapura.

Penyerbuan tentara Jepang ada dimana-mana, dan sangat cepat juga tangkas. Perlawanan dari tentara Belanda tak cukup berarti untuk melawan Jepang. Jumlah dan perlengkapan perang tentara Jepang jauh lebih banyak dan lebih lengkap.

Dalam buku Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, karya Achmaddin Dalip dkk, disebutkan bahwa pada tanggal 12 Februari 1942 lah Jepang mendarat di Sumatera. Yang menjadi sasaran pertama adalah kota Palembang, sebab daerah Palembang merupakan gudang bahan bakar (minyak) yang paling banyak jumlahnya.

Hampir satu batalion tentara Jepang diturunkan, saat mendarat mereka langsung menuju Pelaju, Sungai Gerong, dan landasan kapal terbang Talang Betutu. Sementara itu, dari Sungai Musi muncul pula pasukan Jepang yang jauh lebih banyak. Kemudian, pada tanggal 14 Februari 1942, Palembang dan sekitarnya berhasil ditaklukkan Jepang.

Pihak pemerintah Belanda tak sempat melaksanakan rencana, mereka kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri. Lalu pada tanggal 26 Februari Jambi berhasil ditaklukkan oleh tentara Jepang. Kemudian pasukan Jepang bergerak menuju Lubuk Linggau kemudian Bengkulu.

Pelarian orang Belanda dari Palembang ke Bengkulu lalu ke Bengkulu Selatan mulai terdesak. Sebagian dari mereka berhasil melarikan diri dan naik kapal menuju Australia.

Balatentara Jepang datang ke Bengkulu pada bulan Juni 1942 dari Palembang, melalui jalan darat lintas Lahat-Lubuk Linggau-Curup-Bengkulu. Pada saat Jepang datang, Bengkulu telah dikosongkan oleh Belanda. Hanya terdapat beberapa pejabat di antaranya Residen Belanda yang bernama Groenneveld. Tanpa perlawanan yang berarti Jepang berhasil menguasai Bengkulu dengan mudah.

Pada mulanya rakyat menerima dengan baik kedatangannya. Hal itu disebabkan oleh karena pada mulanya Jepang bersikap ramah-tama, bahkan bersikap sebagai saudara tua. Terutama organisasi pergerakan waktu itu di antaranya Perindra berorientasi cukup baik pada Jepang, bahkan menganjurkan agar masyarakat menerima dengan baik kedatangannya.

Untuk menarik hati rakyat, kalau pada Zaman Belanda untuk masuk kantor Residen terlampau formal maka pada zaman Jepang setiap orang bebas untuk masuk kedalamnya. Kepada rakyat ditanam jahatnya pemerintahan Kolonial Belanda dan membujuk rakyat untuk membantu usaha peperangan Jepang untuk melenyapkan Kolonial.

Segerah dipropagandakan pergerakan 3A (Nippon pelindung Asia, cahaya Asia, Pemimpin Asia). Sisa-sisa melarikan diri di tawan. Residen Belanda dan seorang penjaga Penjara (orang Bengkulu asli di hukum mati).

Kedatangan Jepang diperlancar berkat jauh sebelum pasukan-pasukannya diterjunkan di Bengkulu, di daerah ini sejak jaman Belanda telah banyak orang-orang Jepang membuka usaha. Bahkan menurut perkiraan mereka ini bukanlah semata-mata untuk berdagang dan usahawan biasa, namun aktif membantu keberhasilan Negara leluhurnya.

Fakta bisa ditunjukan dengan Matsukawa yang sejak lama telah tinggal di Bengkulu, pada jaman Hindia Belanda dia membuka kedai minuman es kacang, Bung Karno erat hubungannya dengan Matsukawa ini, kerapkali terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan rahasia, tentunya diusahakan tanpa sepengetahuan polisi rahasia yang senantiasa mengawal Bung Karno dengan ketat.

Pertemuan mereka sekali-kali ditemani oleh Inggit Gernasih, diduga ada pembicaraan rahasia. Bung Karno sendiri tidak menyaksikan Jepang masuk di Bengkulu. Beberapa saat sebelum Jepang masuk Bung Karno telah di amankan oleh Belanda ke Padang dengan Jalan darat arah Mukomuko, Sedangkan Matsukawa oleh penguasa pemerintahan Jepang diberi fungsi sebagai penerjemah, kemudian secara berturut-turut nasibnya terangkat menjadi kepala P dan K, Setelah itu menjadi kepala Bagian pemerintahan Umum.

Sebagian masyarakat kota Bengkulu, khususnya kaum politisi, kelompok murid-murid sekolah Taman Siswa berbaris ramai-ramai, mereka turut menyongsong kedatangan bala tentara Jepang. Sejak itu, Bengkulu secara resmi telah dikuasai Jepang.

Gerakan Jepang sangat cepat, mereka berlanjut ke daerah Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Tanjung Sakti. Kedatangan tentara Jepang bermula bersifat seperti biasa-biasa saja, tetapi setelah mereka menguasai semua keadaan dan potensi daerah di Bengkulu, mereka pun mulai berubah.

Jepang mulai bersikap keras, mereka kejam terhadap rakyat, mereka bersikap kasar pada orang Bengkulu yang ramah dan taat beragama. Seluruh sektor kehidupan pun dikuasai oleh Jepang. Tak ada sedikit pun kebebasan hidup.

Semua jiwa raga dan harta harus diserahkan untuk kepentingan pemerintah Jepang. Rakyat sangat menderita dan tersiksa. Jepang berkhianat, yang katanya Asia untuk bangsa Asia dan Jepang-Indonesia sama-sama serta berbagai janji manis lainnya tak satu pun dijadikan nyata. Perlakuan Jepang itulah yang menimbulkan perlawanan rakyat Bengkulu terhadap pemerintah Jepang. [Eva De]