Kepala SMKN 1 BS, Haliman SE

BENGKULU SELATAN, PB – Pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sering telat menjadi momok bagi sekolah. Karena desakan kebutuhan operasional sekolah, akibatnya banyak yang terhimpit hutang.

Sebagaimana halnya terjadi di SMK Negeri 1 Bengkulu Selatan (BS). Menurut pengakuan Kepala SMKN 1 BS, Haliman SE, saat ini hutang SMKN 1 Bengkulu Selatan mencapai Rp 125 juta.

Keterlambatan pencairan dana BOS ini menurut Haliman memang sudah sering terjadi. Padahal, idelanya pencairan dana BOS dilakukan setiap tiga bulan sekali.

“Kalau bicara ideal, ya seharusnya pencairan tahap satu di Bulan Januari. Ini sudah masuk bulan Maret, malah belum ada sama sekali tanda-tanda pencairan,” jelas Haliman kepada Pedoman Bengkulu, Jumat (2/3/2018).

Sambungnya, keuangan SMK/SMA juga semakin berkurang sejak dihapuskannya dana BOSDa dan dana rutin sekolah dari anggaran APBD Kabupaten.

“kalau dulu ka nada BOSda juga ada dana rutin mencapai Rp 100 juta per tahun. Sekarang sudah tidak ada lagi semenjak pengelolaan SMA/SMK beralih ke provinsi,’ bebera Haliman.

Adapun hutang-hutang yang dimaksud diantaranya untuk ATK, percetakan/fotokopi, perlengkapan dan peralatan computer, kebutuhan Ujian Kompetensi Keahlian siswa dan lain-lain.

“Kalau uang komite itu hanya habis untuk bayar honor aja. Biaya untuk bayar honor kami ini mencapai Rp 96 juta per bulan. Nah untuk bayar listrik terkadang pinjam uang ke koperasi atau bahkan pakai uang pribadi dulu, karena ini mesti dibayar. Listrik sekolah kami ni per bulannya minimal Rp 2 juta, bayar biaya internet mencapai Rp 6.028.000 per bulan,” terang Haliman.

Di SMK Negeri 1 Bengkulu Selatan terdapat guru honor sebanyak 21 orang dan Tenaga Tata Usaha (TU) sebanyak 17 orang, termasuk security, penjaga malam, petugas kebersihan, teknisi, operator dapodik dan lainnya.

“Tahapan ujian sudah mulai, dimulai dari UKK. Peserta ujian di sekolah kami ini 312 siswa. UKK ini butuh biaya,kertas, bahan praktik, honor penguji dan lain-lain. Karena honor penguji ada penguji dari luar, seperti untuk akuntansi ada dari kauntan public dari UNIB, untuk jurusan lain ada yang dari BLK, Modhecom, Ramayan dan lain-lain, semuanya itu butuh biaya, seperti hotel, transport, honor. Itu semua terpaksa kita carii hutangan,” papar Haliman.

Meskipun belum ada pencairan, Haliman mengklaim bahwa operasional sekolah dan proses belajar mengajar di sekolahnya berjalan dengan baik. Bukan hanya di SMKN 1 saja, melainkan juga terjadi di sekolah-sekolah lainnya. [Apdian Utama]