Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Bengkulu Selatan Tahun 2019, Selasa (20/3/2018)

BENGKULU SELATAN, PB – Trend pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkulu Selatan selama kurun lima tahun terakhir cenderung menurun. Dari 6,17 persen pada tahun 2013 menjadi 4,6 persen pada tahun 2017. Terparah, penurunan pertumbuhan ekonomi terjadi pada tahun 2017. Dibadning dengan tahun 2016 sebesar 5,56 persen turun sebesar 0,96 persen menjadi 4,6 persen.

Hal tersebut mengemuka pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Bengkulu Selatan Tahun 2019, Selasa (20/3/2018).

Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam kurun lima tahun terakhir perekonomian Kabupaten Bengkulu Selatan mengalami perlambatan.

Secara terperinci pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 2013 sebesar 6,17 persen, turun menjadi 5,67 persen pada tahun 2014. Kembali turun ke angka 5,14 persen pada tahun 2015. Kembali naik menjadi 5,56 persen pada 2016 dan mengalami penurunan tertinggi sebesar 0,96 persen pada tahun 2017.

Namun, di sisi lain, Bupati menyampaikan bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Bengkulu Selatan mengalami penurunan.
Kurun waktu 2011 hingga 2016 tingkat kemiskinan dan jumlah penduduk miskin menunjukkan trend fluktuatif.

Pada tahun 2016 jumlah penduduk miskin miskin mencapai 33,92 persen. Dengan tingkat kemiskinan 22,1 persen.

“Angka kemiskinan ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan di Provinsi Bengkulu sebesar 17 persen dan 11 persen nasional. Tentunya ini menuntut kami untuk bekerja serius selama tiga tahun ke depan,” jelas Dirwan Mahmud.

Secara berturut-turut tingkat kemiskinan di Kabupaten Bengkulu Selatan periode lima tahun terakhir, 2011 hingga 2016 selalu di atas 20 persen. Yakni 22,55 persen pada 2011, meningkat menjadi 22,97 persen pada 2012. Turun menjadi 22,59 persen pada tahun 2013 dan kembali turun pada 2014 menjadi 21,91 persen. Pada tahun 2015 tingkat kemiskinan kembali naik menjadi 22,76 persen dan kembali turun menjadi 22,1 persen pada tahun 2016. [Apdian Utama]