Penjabat Walikota Bengkulu Budiman Ismaun

BENGKULU, PB – Sa, oknum Kepala sekolah penganiaya guru SMP Negeri 21 Kota Bengkulu dipastikan lengser dari jabatannya sebagai kepala Sekolah.

Hal ini, disampaikan oleh Pejabat Walikota, Budiman Ismaun, Jumat (2/3), usai pelaksanaan apel pagi bersama di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu.

Budiman Ismaun mengatakan, pencopotan jabatan Sa sebagai Kepala Sekolah akan dilakukan hari ini.

“Untuk jabatan barunya nanti akan di atur oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab, beliau yang paling tau sekolah mana yang saat ini membutuhkan atau kekurangan guru untuk menempatkan Sa,” ujar Budiman.

Sekedar mengingatkan, naas menimpa seorang guru IPA di salah satu SMP Negeri Kota Bengkulu saat memperjuangkan siswa agar bisa prakgikum uji asam basa untuk menghadapi Ujian Nasional nanti.

Korban YS (Pr) mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah (Kepsek), SA (Lk) tempat korban mengajar hingga mengalami luka lebam di bagian pelipis mata sebelah kiri, lengan dan bagian pinggul. Korban sempat melawan korban, namun apa daya tenaga pelaku lebih kuat dari korban.

Penganiayaan ini bermula pada korban yang membeli kertas lakmus merah dan biru, serta tissue untuk bahan praktikum siswa seharga Rp86 ribu menggunakan uang pribadi, lalu korban memberikan nota pembelian kepada bendahara sekolah dan meminta uangnya dikembalikan, namun bendahara sekolah mengatakan bahwa sekolah itu tidak mempunyai uang untuk membeli bahan laboratorium, sambil menangis dan melihatkan dompet tempat uang sekolah.

Kemudian, korban kembali lagi ke laboratorium dan melaksanakan praktek uji asam basa. Sedang melaksanakan praktek uji asam basa di laboratorium. Tak lama kemudian, Kepsek memanggil korban untuk ke ruangannya, namun korban mengatakan nanti dulu karena sedang mendampingi para siswa praktikum dilaboratorium.

Tak disangka, sang kepsek justru mendatangi YS ke laboratorium dan sempat cekcok mulut dengan korban lalu sang kepsek memukul korban tepat dibagian pelipis mata kiri korban, ketika korban terjatuh, kepsek menendang serta menyeret korban. Perlakuan kepsek sempat di halangi oleh guru lain dan murid SMP yang sedang melaksanakan praktikum. [Nadia]