Panorama Gunung Kaba (Foto: amabeltravel)

ALKISAH, dahulu kala di sebuah desa hiduplah seorang pemuda miskin yang bernama Muning dengan keluarganya. Ia adalah pemuda yang malas bekerja, setiap hari pekerjaannya hanyalah memainkan suling. Ia begitu menikmati bunyi sulingnya itu.

Pada suatu hari, karena kesal dengan tingkah laku Muning, orang tuanya lalu mengusir Muning pergi dari rumah. Muning pun lalu pergi tanpa bekal apapun, hanya baju di badan dan suling kesayangan yang ia bawa. Tekadnya sudah bulat untuk pergi ke Bukit Kaba, ia ingin memainkan suling disana.

Muning bersemedi di atas Bukit Kaba sambil meniup suling. Tak disangka oleh Muning bahwa ternyata suling itu adalah suling sakti, karena kemerduan suara suling sakti itulah, Dewi (bidadari) yang cantik pun terpikat pada Muning. Begitu juga dengan Muning, karena kacantikan sang Dewi ia pun terpesona. Mereka yang saling jatuh cinta akhirnya hidup bersama di Bukit Kaba, walaupun dengan dunia yang berbeda.

Baca juga: Legenda Putri Serindang Bulan dalam Cerita Rakyat Bengkulu

Suatu ketika, berita tentang Muning tersebar di desa asalnya, lalu masyarakat desa sepakat untuk menjemput Muning dan mengajaknya kembali ke desa. Muning pun menurut, tetapi ada syarat yang diajukan oleh Dewi.

“Kau boleh pergi meninggalkanku Muning, namun ada syaratnya…” tutur sang Dewi.

Muning pun menyetujui syarat tersebut, “Apa syaratnya wahai dewiku?” tanya Muning.

“Syaratnya, ketika ada hajatan janganlah kalian memasak rebung (lema) dan janganlah pula kalian memasak pakis.” ujar sang Dewi.

“Baiklah, aku menyetujui syarat darimu.” kata Muning lalu pergi dari Bukit Kaba. Ia kembali ke desa bersama masyarakat yang datang menjemputnya.

Lama sudah Muning tinggal di desa dan meninggalkan Dewi, tiba-tiba saat ada hajatan, para pemasak lupa akan pantangan yang diwasiatkan oleh Dewi, mereka melanggar pantangan itu dan memasak lema dan pakis. Tak berselang lama, Dewi pun mengetahui bahwa pantangannya telah dilanggar. Dewi pun kembali ke Bukit Kaba dan mengajak Muning ikut serta.

Baca juga: Legenda Ular Kepala Tujuh dalam Cerita Rakyat Bengkulu

Masyarakat yang tahu akan hal ini pun mencari Muning ke Bukit Kaba, akan tetapi Muning dan Dewi hilang tak tahu rimbanya. Muning raib ditelan bumi.

Masyarakat desa menyebutnya Muning Raib karena dalam bahasa Rejang sendiri, Raib berarti hilang, lenyap, atau musnah. Dari kisah ini maka dikenal lah cerita Muning Raib karena tak pernah kembali. [Eva De]