Desiminasi Informasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui media Konvensional bagi tatap muka pemuka Agama dan BKMT Kota Bengkulu dengan tema ‘Ciptakan lingkungan bebas Narkoba’ disalah satu hotel ternama di Kota Bengkulu, Kamis (22/3).

BNNK Gaet Tokoh Agama Sebarkan Bahaya Narkoba

BENGKULU, PB – Berbagai upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran Narkoba terus dilakukan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bengkulu.

Teranyar, BNNK menggaet Tokoh pemuka agama dan BKMT Kota Bengkulu untuk ikut serta melakukan penyebaran pemahaman soal bahaya Narkoba melalui kegiatan Desiminasi Informasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Harapannya, pemahaman bahaya Narkoba akan terus ditularkan secara rutin kepada masyarakat di bawah naungan para pemuka agama tersebut.

“Tidak hanya terhadap Pemuka Agama saja. Sebelumnya, kegiatan serupa juga sudah kami laksanakan terhadap profesi guru bimbingan konseling. Kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan secara rutin dan mengikutsertakan berbagai kalangan masyarakat Kota Bengkulu,” ujar Kepala BNNK Bengkulu, Alexander S Soeki di sela-sela pelaksanaan kegiatan Desiminasi Informasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui media Konvensional bagi tatap muka pemuka Agama dan BKMT Kota Bengkulu dengan tema ‘Ciptakan lingkungan bebas Narkoba’ disalah satu hotel ternama di Kota Bengkulu, Kamis (22/3).

Harapannya dari kegiatan ini, pemahaman bahaya Narkoba akan terus ditularkan secara rutin kepada masyarakat di bawah naungan para pemuka agama.

Selain masalah Narkoba, sambung Alexander, dalam kegiatan ini juga diterangkan soal bahaya penggunaan zat aditif yang terkandung dalam berbagai produk kemasan yang beredar luas di tengah Masyarakat. Tentunya, dalam kadar penggunaan yang berlebihan.

“Contohnya, lem aibon serta obat batuk Komix. Kedua barang ini sangat mudah di beli di berbagai lokasi di Indonesia tanpa ada pembatasan. Mirisnya, kedua barang ini malah dipergunakan remaja sebagai bahan konsumsi agar bisa mabuk. Tentunya, dengan dosis penggunaan yang banyak,” ujar Alexander.

Atas kondisi ini, Alexander mendesak agar Pemerintah sesegera mungkin membuat semacam peraturan Daerah untuk pembatasan penjualan produk yang mengandung zat aditif.

“Jika dibiarkan terus jelas akan sangat membahayakan. Penggunaan zat aditif over limit akan menyebabkan kematian penggunanya. Saya harap, seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung upaya pembentukan Peraturan Daerah soal ini. Mari sama-sama kita selamatkan negara kita,” tegas Alexander S Soeki.

Pantauan Pedoman Bengkulu, kegiatan Desiminasi diikuti oleh 40 orang pemuka agama dari berbagai agama yang ada di Bengkulu. [Ifan Salianto]