Ilustrasi pelawanan rakyat terhadap penjajah

DALAM buku Hukum Adat Rejang karya Prof. Dr. H. Abdullah Siddik, disebutkan bahwa Asisten Residen H. Van Amstel dibunuh oleh Pasirah Maryati sementara Kontelir Castens dibunuh oleh Ketip Payung. Dua orang itu adalah pejabat tinggi pemerintahan Belanda di Bengkulu. Mereka tergeletak, terkapar tak berdaya.

Sejanak keadaan pun menjadi kacau, para pengiring pimpinan Belanda kemudian diserang dan dihabisi oleh kekuatan rakyat yang bersatu dan memang telah dipersiapkan sebelumnya. Keadaan semakin bertambah kacau, hanya kuda-kuda rombongan Belanda yang dapat selamat dan melarikan diri ke arah Lais.

Para pejabat Belanda pun merasa terkejut saat melihat kuda mereka berlarian tanpa tuannya. Kecurigaan dan kekhawatiran timbul, mereka masih tak tahu akan mengambil tindakan apa?

Pejabat pemerintahan Belanda di Bengkulu dan para pimpinan Belanda juga diberitahu tentang keadaan yang mencurigakan. Kemudian pada tanggal 3 September 1873, sepasukan tentara Belanda bergerak dengan kekuatan 40 orang menuju Bengkulu sebelah Utara.

Baca Juga: Taktik Belanda Kendalikan Bengkulu

Di setiap penyebrangan yang diketahui, kemudian diselidiki dan ditanyakan serta diminta keterangan dari penyebrang. Pasukan laut dari Ketahun bergerak ke arah Urai, ternyata diketahui rombongan belum pernah sampai di daerah tersebut.

Lalu diambillah kesimpulan bahwa di Bintuhanlah rombongan Asisten Residen Amstel dan Castens hilang. Pasukan pun kembali ke Ketahun dan terus kembali ke Lais. Persiapan penyerangan ke Bintuhan segera disiapkan dan diatur, bantuan dari Bengkulu pun didatangkan.

Pada tanggal 9 September 1873, pasukan tentara Belanda bergerak menyerang Bintuhan. Rakyat yang sudah bersiap juga melayangkan balasan, mulai dari dusun Raja, Durian Daun, Gedung Njawa, Air Padang, hingga Bintuhan mengatur siasat dan meningkatkan sistem pertahanan.

Pasukan Belanda mendapat perlawanan sengit dari rakyat. Kedua belah pihak banyak yang gugur dan cedera. Aji Meradon, pemimpin pasukan Lawang Seketeng tampil ke tengah medan perjuangan, ia memimpin dan mengatur pertempuran dan perlawanan.

Rakyat dari Tapan Kerinci berduyun-duyun memberikan bantuan di dapur umum. SUku-suku Rejang dari pesisir, Renah Ketahun, dan Luak Lebong juga datang memberikan bantuan. Medan pertempuran bertambah meluas, dan penjajahan Belanda terus mendapat perlawanan.

Namun, Belanda kemudian menggunakan meriam Puar Lakap. Letusannya memecah gendang telinga, rakyat tampak bingung dan lalai karena serangan besar dari meriam. Di tengah keadaan itu, pasukan Belanda dapat menduduki Bintuhan. Rakyat menyingkir ke pinggir dusun, dan hanya dapat menyerang dikala Belanda lengah. Bagi rakyat yang tidak sempat menyingkir, mereka ditangkap, diikat, didera, jauh dari prikemanusiaan, bahkan ada yang ditembak mati ditempat.

Tentara Belanda berusaha menangkap hidup atau mati Pasirah Maryati, Aji Meradun, Ketip Payung dan lain-lain. Sekaligus mereka hendak mencari jenazah Asisten Residen Amstel dan Castens. Banyak pasirah yang ditangkap, diangkut ke Bengkulu, dan ada yang dikirim ke pulau Jawa menjalani hukuman dan pengasingan.

Simak juga: Simboer Tjahaja, Sistem Politik Belanda di Bengkulu

Akibat dari bertambah lamanya perjuangan dan pertempuran, selain banyak rakyat yang gugur dan menjadi korban, juga pertanian terbengkalai, persediaan makanan semakin menipis, penyakit mulai berdatangan, penderitaan rakyat berlipat ganda, namun semangat mereka tetap berkobar untuk melawan penjajah.

Kemudian di tahun 1878 barulah di seluruh daerah Bintuhan dan sekitarnya dapat dipulihkan kembali oleh pemerintah Belanda. Selanjutnya pemerintah mulai memperhatikan lagi peraturan-peraturan yang menyangkut tentang adat perlembagaan di setiap onder afdeling dan pasar-pasar. [Eva De]