Anggota Komite III DPD RI Riri Damayanti John Latief

JAKARTA, PB – Senator termuda Indonesia, Riri Damayanti John Latief, menyatakan keprihatinannya atas masih rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia, yakni 31,75 persen pada 2017, sebagaimana data Kemenristekdikti.

Jumlah tersebut masih lebih kecil dari Malaysia yang mencapai 38 persen, Thailand 54 persen, Singapura 78 persen dan Korea Selatan 98,2 persen pada tahun yang sama.

“Rendahnya angka partisipasi pendidikan di Perguruan Tinggi ini patut jadi perhatian kita bersama,” kata Riri kepada jurnalis, Rabu (7/3/2018).

Anggota Komite III DPD RI ini menjelaskan, ketika Indonesia memasuki masa bonus demografi atau ledakan penduduk usia produktif, sumber daya manusia (SDM) terampil sangat dibutuhkan agar bonus demografi itu tidak berubah menjadi bencana.

“Dan kunci SDM yang terampil ada pada pendidikan. Kita memiliki masa depan yang suram dalam 10 hingga 30 tahun mendatang kalau masalah ini tidak segera dipecahkan,” ungkap alumni Universitas Indonesia ini.

Riri menekankan, Pemerintah harus terus menerus melakukan evaluasi terhadap persoalan ini, terutama bagaimana pola pembiayaan anak-anak bangsa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.

“Pemerintah boleh berhemat terhadap segala hal kecuali dalam urusan pendidikan. Percuma kita gembar gembor Indonesia hebat atau Indonesia bangkit kalau kita tidak mampu menyelesaikan urusan ini,” papar Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai (PJPP) 2015-2019 itu.

Untuk diketahui, bukan hanya angka partisipasi pendidikan tinggi yang rendah, terkonsentrasinya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Pulau Jawa juga menjadi persoalan tersendiri.

“Tercatat dari 4.198 PTS di Indonesia, sebanyak 1.883 atau 44 persen diantaranya berada di pulau Jawa. Ini membuktikan kita masih jauh dari upaya membangun pendidikan yang merata,” demikian Riri.

Komite III DPD RI merupakan alat kelengkapan DPD RI yang bersifat tetap, yang mempunyai lingkup tugas pada pendidikan dan agama. [Gayatri Sukarti]