Presiden Sukarno membacakan teks proklamasi

PERISTIWA menyerahnya Jepang seperti yang tertera dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Bengkulu, Proyek IDKD Depdikbud Bengkulu, dibuktikan juga dengan menghilangnya kapal-kapal perang Jepang di perairan pantai Bengkulu. Dan pada tanggal 16 Agustus 1945, kesatuan Heiho dan Kyugun juga dibubarkan.

Berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang pertama kali baru diterima di daerah Bengkulu tanggal 3 September 1945 melalui surat kabar ‘Palembang Simbun’. Berita tersebut secara spontan disambut rakyat Bengkulu dengan gembira. Semua penduduk bersuka cita menyambut kemenangan.

Selanjutnya, para pemimpin politik dan pejuang kemerdekaan di Bengkulu seperti; M. Ali Chanafiah, Hamdan Mahyuddin, A. Rasyid Thalib, Oei Cieng Hien, M. Jafri, Nawawie Manaf, Zen Rannio, Zahari Tani dan lain lain segera melaksanakan konsultasi dan konsolidasi.

Seluruh pemuda Bengkulu bekas anggota Heiho dan Kyugun, seluruh pelajar Taman Siswa, dan para pemimpin politik Bengkulu segera menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia. Semua orang bergerak saling memberi kabar hingga ke pelosok daerah.

Sorak sorai penduduk membahana, rona bahagia pun terpancar di setiap wajah. Semangat akan kemerdekaanlah yang mendorong rakyat untuk merebut dan mempertahankan tanah air dari Jepang, dan kemerdekaan itu akhirnya tercapai.

Di tiap-tiap kota bahkan hingga ke dusun-dusun, berita perihal kemerdekaan Indonesia selalu mendapat sambutan hebat dari rakyat Bengkulu. Kemudian di tiap-tiap tempat muncul pemimpin-pemimpin lokal yang menggerakkan kegiatan massa ke gerbang kemerdekaan.

Di Curup, tercatat nama-nama seperti; Nur Arifin, Abubisin, Mustafa, Burhan, Ya’cub, Anuar Assik, Sabirin Burhani, Arifin Jamil, Rachman Rahim, Ibu Hajar Rivai. Lalu di Kepahiang muncul pula pemimpin-pemimpin seperti; Jaidil Abdullah, Zainal Abidin, Zamhari Abidin, dan Santoso bersama istrinya. Sementara itu di Manna ada pula pemimpin seperti; K.H.M Said, K.H.A Rauf, Rahman Damrah, Buldani Masik, Yusirana, Hepilus dan lain-lain.

Dalam buku Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, karya Achmaddin Dalip dkk, tertera bahwa pada tanggal 8 September 1945 melalui Sdr.Dr.AK. Gani (yang menerima langsung surat dari Sdr. Abdinegoro dari Bukittinggi tanggal 5 September 1945) diterima instruksi tentang kewajiban menyebarkan Bendera Merah Putih di setiap hari besar, di setiap gedung pemerintahan, dan di setiap rumah penduduk.

Kemudian pada tanggal 3 Oktober 1945 diterima pula surat dari Sdr.T.M. Hassan (Gubernur Sumatera yang baru diangkat oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Sukarno) tentang pengangkatan Ir. Indra Caya sebagai Residen Keresidenan Bengkulu, dan diterima juga instruksi untuk mengibarkan Bendera Merah Putih.

Sebagai realisasi dan tindak lanjut instruksi tersebut, Bendera Merah Putih secara serentak berhasil dikibarkan di Kota Bengkulu pada tanggal 4 Oktober 1945 dan di Curup pada tanggal 11 Oktober 1945 (tanggal 10 Oktober telah berkibar Bendera di 19 rumah penduduk Curup). Lalu daerah lain pun mengikuti; Manna, Kepahiang, Muara Aman dan lain sebagainya.

Semangat Merah Putih kala itu juga ikut berkobar serentak dengan dinaikkannya Bendera merah Putih, suka cita dan rasa gembira membuat setiap dada bergemuruh hebat. Rakyat Bengkulu sangat bahagia atas merdekanya tanah air tercinta, Indonesia. [Eva De]