Tim Kuasa Hukum (Timhum) Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu nomor urut tiga, Helmi-Dedy, Rabu (7/3), mendatangi Polda Bengkulu.

BENGKULU, PB – Tim Kuasa Hukum (Timhum) Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu nomor urut tiga, Helmi-Dedy, Rabu (7/3), mendatangi Polda Bengkulu.

Kedatangan timhum yang dipimpin langsung oleh Agustam Rachman ini untuk melaporkan adanya temuan gambar perempuan seksi yang diduga melecehkan pasangan calon nomor urut 3, Helmi-Dedy.

Laporan yang di tujukan kepada Kapolda Bengkulu ini diterima langsung oleh Briptu B Setyo di Mapolda Bengkulu sekitar pukul 13.30 WIB.

“Yang kita laporkan adalah pembuat gambar tersebut. Sebab itu sudah melecehkan relasi kami,” ujar Agustam Rahman saat dikonfirmasi usai melapor.

Dijelaskan Agustam, laporan ini dibuat atas dasar temuan salah satu koordinator Tim Advokad Helmi-Dedy yaitu Kusmito Gunawan pada 6 Maret 2018 lalu. Gambar dua perempuan seksi dengan tulisan Insya Allah Helmi-Dedy dengan lingkaran angka 3 dan tugu kuda Simpang Lima Ratu Samban Bengkulu itu ditemukan di grup WhastApp Pilwakot Bengkulu 2018.

Sedangkan, gambar itu dishare grup WhatsApp tersebut oleh Sukman yang akun WhatsAppnya bernama Sukabulan12.

“Sementara, dari keterangan Sukman, konten tersebut didapatnya dari salah satu akun Facebook. Karena keterbatasan pengetahuan penggunaan teknologi beliau tidak bisa melakukan screenshot dan mengingat nama akun Facebook yang menshare konten tersebut. Tetapi, Sukman sendiri siap jika suatu saat dipanggil sebagai saksi oleh aparat hukum untuk memberikan keterangan,” ujar Agustam.

Dilanjutkannya, gambar tersebut dinilai melanggar Pasal 4 Ayat (1) Huruf d jo Pasal 29 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang ancamannya 12 tahun penjara dan denda Rp6 miliar. Pasal 282 KUHP Ancamannya Penjara 1,6 Tahun Pasal 27 Ayat 1 jo Pasal UU No 11 Tahun 2018 Tentang ITE yang Ancamannya 6 Tahun Penjara dan Denda Rp1 miliar.

“Selain itu juga kami nilai melanggar Pasal 4 PNPS No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama dengan ancaman 5 Tahun. Nah, untuk perkembangan selanjutnya akan kami beritahukan kepada rekan rekan semua,” ujar Agustam. [Ardiyanto]