Ratusan nelayan Bengkulu memperingati Hari Nelayan Nasional (HNN) yang jatuh pada tanggal 6 April setiap tahunnya di tepi pantai Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara, Jumat (6/4/2018).

BENGKULU, PB – Ratusan Kapal Nelayan Tradisional, Jumat (6/4) memenuhi perairan tepi pantai Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara memperingati Hari Nelayan Nasional (HNN) yang jatuh pada tanggal 6 April setiap tahunnya.

Perayaan ini dilangsungkan bertujuan untuk mengenang jasa para nelayan Indonesia yang tidak kenal lelah memenuhi kebutuhan protein dan gizi seluruh masyarakat Indonesia kendati setelah 57 tahun Hari Nelayan Nasional digagas, taraf kehidupan para nelayan di Indonesia masih sangat memprihatinkan.

“Hari ini kami sengaja menggelar aksi parade ini sekaligus untuk mengungkapkan penolakan atas beroperasinya trawl di wilayah perairan Bengkulu ini,” tegas Koordinatir Aksi, Kelvin Aldo disela sela parade.

Dilanjutkan Aldo, walaupun pemerintah pusat telah melarang keras penggunaan alat tangkap ikan jenis Trawl melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Nomor 71/PERMEN-KP/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, Pasal 21 ayat (2) menjelaskan, bahwa alat tangkap ikan yang mengganggu dan merusak salah satunya yaitu pukat hela atau trawl serta Peraturan Menteri Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawls) yang berlaku sejak Januari 2015 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 84 (1), namun di Provinsi Bengkulu masih juga terdapat 300 kapal menggunakan alat tangkap ikan trawl beroperasi di perairan Bengkulu ini.

“Kami hanya berharap agar Pemerintah tegas soal pelarangan trawl ini. Jangan sampai kami para nelayan tradisonal yang akan bertindak sendiri. Melalui aksi ini, kami menyatakan akan memastikan penggunaan trawl benar benar hilang dari perairan Bengkulu. Sudah kewajiban kami untuk memastikan kelestarian dan kealamian laut Bengkulu,” tegas Aldo.

Pantauan Pedoman Bengkulu, aksi para nelayan yang dilakukan di atas kapal tradisional itu dimulai dari titik kumpul di area sandar kapal tradisional di pesisir Pantai Malabero, Kota Bengkulu.

Dalam aksinya, nelayan dilengkapi dengan sejumlah perangkat aksi seperti spanduk berisi tulisan penolakan trawl hingga membentangkan bendera merah putih berukuran belasan meter. [Ifan Salianto]