Ngopi Sore Bersama Dr Rizal Ramli di Angkanan Resto, Pantai Berkas, Minggu (28/4/2018).

BENGKULU, PB – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bengkulu menggelar kegiatan Ngopi Sore Bersama Dr Rizal Ramli di Angkanan Resto, Pantai Berkas, Minggu (28/4/2018).

Mengusung tema “Era Siber, Ekonomi Nasional dan Polarisasinya di Daerah”, acara ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai media siber di Bengkulu.

Saat mengawali pembicaraan, Rizal Ramli menyampaikan bahwa media digital di Bengkulu sudah berkembang dan kemajuannya semakin pesat.

“Kami ucapkan selamat kepada kawan-kawan di Bengkulu, bahwa saat ini, semakin lama media digital bisa mengembangi kemajuan teknologi, lama-lama semakin berkualitas dan bermanfaat, makin lama makin kredibel,” kata Rizal.

Sebagai seorang pakar ekonomi yang juga pernah menjabat sebagai menteri negara koordinator bidang perekonomian, Rizal mengungkapkan bahwa jumlah hutang Indonesia akan berimbas kepada kondisi perekonomian di Indonesia.

“Jumlah hutang kita ini bukan main lagi, untuk membayar bunganya saja kita harus meminjam, kalau ekonomi tinggi hutang gede tidak masalah, tapi kondisi sekarang ini ekonomi mandek dan hutang makin besar,” ungkapnya.

Rizal mengabadikan kenangan bersama para pengurus SMSI Bengkulu.

Menurut Rizal Ramli, kondisi perekonomian di Indonesia sudah memasuki zona berbahaya.

“Jika menurut menteri keuangan Sri Mulyani kita harus hati-hati, sebenarnya berbahaya, rupiah anjlok terus. Karena kita banyak impor, harga pangan pasti naik, bagi yang punya hutang harus bayar dengan kurs lebih mahal dan anggaran tahun 2017-2018 meleset, Indonesia harus nombokin setiap harinya sekitar 7-8 miliar dolar,” ungkapnya.

Kegiatan ini diikuti oleh para jurnalis media siber.

Dengan keprihatinan, beliau mengaitkan dengan proses memilih seorang pemimpi yang bijaksana yang akan memberi kemakmuran bagi rakyat.

“Sistem pemilihan pemimpin kita ini melalui kompetisi pencitraan, bukan program atau track recordnya. Sebagai media, kita jangan hanya mendorong citranya saja, tapi juga visi misi, track record, serta gagasan untuk perubahan dan perbaikan sehingga terpilih pemimpin yang rendah hati dan akuntabilitas yang tinggi,” tutupnya. [Deni Dwi Cahya]