Suasana debat kandidat pasangan calon (paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu periode 2018-2023 putaran pertama resmi di mulai di Grage Hotel Bengkulu, Sabtu (28/4/2018).

BENGKULU, PB – Masing-masing pasangan calon (paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu 2018-2023 melemparkan sindiran tentang keberhasilan dan kegagalan dalam membangun Kota Bengkulu dalam debat kandidat putaran pertama di Grage Hotel Bengkulu, Sabtu (28/4/2018).

Pasangan nomor urut satu, David, menyinggung tentang kegagalan program Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake). Menurutnya, sejak pertama digulirkan, dari Rp67 miliar yang dijanjikan, namun hanya Rp13,6 miliar yang teralisasi.

“Bagi kami yang terpenting adalah membina kelompok usaha berbasis koperasi rakyat. Koperasi ini bukan hanya menyediakan modal, tapi juga bertanggungjawab mnemasarkan usaha dan juga memberikan panduan untuk mengembangkan usahanya,” kata David.

Sementara paslon nomor urut dua, Erna Sari Dewi, mengungkapkan tentang masih tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pendapatan.

“Kemiskinan di Kota Bengkulu tinggi. Angka ini hampir dua kali lipat kemiskinan nasional,” imbuhnya.

Sementara pasangan nomor urut empat, Patriana Sosialinda, mengungkapkan tentang pentingnya menuntaskan berbagai program yang telah disusun. Menurut dia, penting untuk melawan pesimisme dan ketidakacuhan dalam menata pemerintahan.

“Semua harus punya pandangan yang sama. Pemerintah harus menyiapkan pendidikan, pendanaan, menyiapkan pelayanan kesehatan. Pintar tapi sakit tidak bisa kerja. Pola pandang masyarakat harus optimis untuk maju. Itu yang paling penting,” kata Linda, sapaan akrabnya.

Menjawab semua itu, Dedy Wahyudi memaparkan, Samisake bukan program gagal. Sebaliknya, kata Dedy, program ini justru mendatangkan banyak manfaat. Menurutnya, sejak digulirkan pada awalnya hanya Rp13,6 miliar, sekarang telah berputar menjadi Rp46 miliar.

“Rakyat bisa dipercaya untuk mengelola uang. Saya mencoba berbicara soal data. Semua harus berbasiskan data. Yang benar dicairkan di APBD 2013 Rp13,6 miliar. Dana itu bergulir di 61 kelurahan dan telah berputar menjadi Rp46 miliar dengan jumlah penerima puluhan ribu orang,” jelas Dedy.

Menurut Dedy, bahkan program RT Mandiri adalah nama lain dari program Samisake. Dedy menampik tuduhan program ini gagal lantaran ia telah melihat langsung fakta di lapangan.

“Samisake ini dana bergulir untuk mengembangkan UMKM. Saya sudah ketemu langsung ibu Rahib di Kampung Bali. Itu dana mereka kian membesar. Kemudian LKM Maju Rinjani di Jembatan Kecil. Dana mereka dari Rp300 juta sekarang jadi Rp2 miliar. Ini artinya program ini berhasil,” tukasnya.

Mengenai kemiskinan, Dedy memaparkan, data BPS menunjukkan bahwa secara diferensiasi, kemiskinan pada zaman Helmi Hasan jauh menurun ketimbang pemerintah periode sebelumnya.

“Sejak start awal memang kemiskinan ini sudah tinggi. Dulu 22 persen sekarang 19 persen. Yang perlu dipahami adalah masalah urbanisasi. Banyak penduduk kabupaten yang ke kota untuk mengadu nasib. Saya berharap kita lebih arif dan bijaksana dalam melihat hal ini,” ungkapnya.

Dedy juga menyayangkan bahwa debat kandidat ini menjadi ajang untuk saling menyindir dan menjatuhkan paslon lain. Menurut Dedy, saling sindir dan menjatuhkan inilah yang ingin dihindari oleh pasangannya, Helmi Hasan untuk mengikuti debat ini.

“Beliau tidak ingin perdebatan. Tapi itu soal pilihan beliau. Kesannya menyerang pemerintah yang lama. Sabar. Sabar. Yang jelas, sekarang Bengkulu telah menjadi daya tarik bagi investor,” demikian Dedy.

Debat kandidat pertama kali ini dimoderatori oleh Faisal Anwar, seorang Akademisi yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB). Debat kandidat berikutnya akan dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 2018 dan yang terakhir tanggal 21 Juni 2018 mendatang. [Deni Dwi Cahya]