ENGGANO, salah satu daya tarik pulau Sumatera yang dihuni orang Melayu ini pada sejarahnya penduduk disana sempat sangat tidak menyukai garam untuk dikonsumsi. Mereka mengonsumsi makanan seperti talas, kelapa, ubi jalar, pisang, burung, ikan, dan babi hutan serta ayam. Satu-satunya minuman yang mereka konsumsi adalah air kelapa, sedangkan air tawar diminum ketika mereka terpaksa karena tak ada air kelapa.

Dalam buku yang berjudul Sumatra karya Edwin M. Loeb dituliskan bahwa pada tahun 1771 penduduk Enggano sama sekali belum mengenal beras namun pada tahun 1840 mereka belajar membeli beras dan mulai mengonsumsinya.

Dan pada tahun 1854 penduduk Enggano masih enggan untuk menginang sirih dan merokok tembakau, setelah kemudian di tahun 1856 baik laki-laki maupun perempuan berubah menjadi pecandu rokok. Sejak saat itu juga mereka mulai mengonsumsi tuak aren.

Dahulu, penduduk Enggano dikenal primitif pasalnya mereka nyaris tak berpakaian. Kebiasaan yang tak lazim itu memang masih dipraktikkan oleh beberapa suku di Asia Tenggara pada saat itu. Pakaian sehari-hari mereka berupa sehelai kain berukuran sebesar telapak tangan yang dilingkarkan ke pinggang. Sedangkan ketika berburu biasanya mereka menggunakan jas kuning berlengan yang terbuat dari kain. Dan ketika hajatan mereka akan mengenakan rompi.

Dalam hal persenjataan, penduduk Enggano memiliki senjata perang asli berupa tombak. Tingginya mencapai enam kaki dan terbuat dari kayu-kayu keras. Di ujung tombak tersebut biasanya terdapat bambu yang diruncingkan, atau tulang ikan dan gigi ikan hiu sebagai mata tombak.

Uniknya, penduduk perempuan di Enggano dahulu memiliki reputasi layaknya perempuan Amazon. Mereka bersenjatakan pentungan panjang, dan terkadang para perempuan menyusul suami mereka untuk berperang. Para perempuan itu bahkan bisa memukul mundur para musuh dengan menyerang menggunakan perisai mereka.

Hantmann adalah seorang pelancong yang melihat penduduk Enggano pada tahun 1592, ia mengaku pernah menyaksikan penduduk Enggano berburu dengan busur dan panah. Alat semacam itu masih sangat terbatas lalu kemudian lama kelamaan hilang. Mereka lalu mengenal alat-alat seperti pisau dan kapak. Sebelum tahun 1840, alat-alat tersebut sudah melimpah di Enggano.

Tentang informasi seperti marga atau kedudukan tetua di Enggano masih sangat minim. Beberapa orang berpendapat bahwa di Enggano dahulunya terbagi ke dalam enam marga yang tersebar di seantero pulau dan masing-masing memiliki tetua.

Namun, pendapat lain menyatakan bahwa dahulu masing-masing desa merupakan keluarga besar dan tidak ada kedudukan tetua. Para lelaki dewasa mengurusi hubungan dagang dengan penduduk setempat. Dalam laporan lain disebutkan bahwa lima klan maternal Enggano dapat diabaikan karena hal yang demikian mustahil ada dan terjadi di Enggano.

Di pulau Enggano, dulu ketika ada perselisihan antar desa diselesaikan dengan perundingan damai atau percobaan perang. Kedua belah pihak maju ke medan perang dan berlindung di balik perisai masing-masing. Mayoritas perselisihan tersebut muncul dikarenakan soal kepemilikan tanah atau hak untuk memancing.

Para penduduk juga memiliki seni berupa tarian yang dilakukan saat hajatan. Kehidupan di Enggano berjalan layaknya irama harpa dan seruling yang menjadi alat musik khas penduduk Enggano. [Eva De]