Ilustrasi

BENGKULU, PB – Tim seleksi (Timsel) calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/Kota Provinsi Bengkulu dinilai mengeluarkan kebijakan yang merugikan salah satu jenis kelamin atau biasa disebut bias gender. Hal ini dikemukakan oleh Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bengkulu Nunik Indra Rahayu.

“Kami sangat prihatin dan menyayangkan hasil seleksi enam besar anggota KPU Kota Bengkulu tidak ada satupun unsur perempuan,” kata Nunik di sela-sela kegiatan Peringatan Hari Kartini ke-139 di Halaman Rumah Fatmawati Soekarno, Rabu (25/4/2018).

Untuk diketahui, Timsel Calon Anggota KPU Kabupaten/Kota Provinsi Bengkulu pada 20 April 2018 telah mengumumkan enam orang nama calon anggota KPU Kabupaten/Kota Bengkulu periode 2018-2023.

Dari nama-nama yang muncul, mayoritas diantaranya didominasi oleh calon dari kalangan pria. Misalnya di Kota Bengkulu, tidak ada keterwakilan perempuan di dalamnya. Diantaranya adalah Anggi Stephensent, Antoni Wijaya, Deby Harianto, Martawansyah, Wahyu Handono, dan Zaini. Enam nama tersebut merupakan pengerucutan dari 14 orang yang lulus tes psikologi seperti Hj Efiwati Noor dan Eka Fitrisia.

“Dengan semangat Hari Kartini yang kita peringati saat ini, kami menghimbau kepada seluruh elemen perempuan yang tergabung dalam organisasi perempuan se Provinsi Bengkulu untuk meminta peninjauan ulang hasil keputusan Timsel KPU/Kota Provinsi Bengkulu yang masih bias gender karena belum mencerminkan semangat keterwakilan 30 persen unsur perempuan dalam pengambilan kebijakan,” tegas Nunik.

Sementara Direktur Yayasan Pemberdayaan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Susi Handayani menilai, kewenangan Timsel harus dihargai. Namun ia tak menampik bahwa bilamana ada hasil tes yang memiliki nilai yang sama antara laki-laki dan perempuan, maka keterwakilan perempuan harus menjadi pertimbangan.

“Memang ada standar nilai dan lain-lain. Tapi bila nilai sama, harus dilihat lagi keterwakilan perempuannya,” kata Susi kepada jurnalis.

Menanggapi hal ini, salah satu Ketua Timsel Calon Anggota KPU Kabupaten/Kota Provinsi Bengkulu Dr Susiyanto, mengatakan, mereka menetapkan calon yang lulus berdasarkan nilai sesuai dengan peraturan yang ditentukan untuk memasuki nilai enam besar.

“Nilai-nilai yang telah diterbitkan itu sudah berdasarkan akumulasi dari empat poin akumulasi besaran penilaian oleh Timsel,” ujar Dr Susiyanto.

Ia menjelaskan, nilai tersebut sesuai dengan akumulasi dari empat akumulasi yakni nilai tes tertulis, tes psikologi, tes kesehatan dan wawancara.

“Hasil nilai dari empat akumulasi tersebut kemudian dikumpulkan dan dikaji. Hasil ini transparan dan sudah disampaikan ke publik. Ini adalah hasil terbaik. Apabila ada beberapa orang yang tidak bisa naik itu lantaran nilai yang didapatkan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan untuk menduduki peringkat enam besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai ini sudah terkoneksi dengan KPU RI dan apabila ada rekayasa dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi Timsel.

“Memang bahasanya memperhatikan keterwakilan. Namun apabila dipertimbangkan nilai tersebut terlalu jauh, apabila nanti ditarik, timsel yang akan kena dan akan termonitor dari KPU RI,” pungkasnya. [Ardiyanto]