MANIFESTO Politik sebagai yang diucapkan oleh Presiden/Panglima Tertinggi didalam pidato 17 Agustus 1959 tidaklah dapat dipisahkan dengan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi tanggal 5 Juli 1959, bahkan Manifesto Politik tersebut merupakan penjelasan resmi dari Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi 5 Juli 1959.

Karena itu Manifesto Politik mempunyai arti yang sangat penting dalam perjuangan Rakyat Indonesia untuk menyelesaikan revolusinya yang bersifat nasional dan demokratis. Dengan adanya Manifesto Politik ini untuk pertama kalinya Republik Indonesia setelah berumur 14 tahun mengumumkan lewat Kepala Negaranya sebuah dokumen bersejarah yang menjelaskan persoalan-persoalan pokok dan program umum revolusi yang bersifat menyeluruh.

Singkatnya Manifesto Politik memuat dua hal yang sangat dibutuhkan untuk melancarkan jalannya Revolusi Indonesia.

Pertama: Persoalan-persoalan Pokok daripada Revolusi Indonesia.
Kedua: Program Umum Revolusi Indonesia (Usaha-usaha Pokok).

Dengan adanya Manifesto Politik yang memuat dua hal ini Republik Indonesia telah memiliki garis-garis besar haluan Negara dan Rakyat Indonesia mempunyai pedoman resmi dalam perjuangan menyelesaikan Revolusi Indonesia. Atas dasar pengertian tentang persoalan-persoalan pokok revolusi Indonesia dan berlandaskan program revolusi Rakyat Indonesia akan lebih mudah dipersatukan dalam pikiran dan dalam tindakannya.

Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia harus difahami oleh tiap warga negara Indonesia sejak ia dibangku sekolah dan apalagi sesudah dewasa. Harus diadakan pendidikan secara luas, di sekolah-sekolah maupun diluar sekolah tentang Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia. Rakyat Indonesia harus bersatu fikiran mengenai revolusinya sendiri karena hanya jika ada persatuan dalam fikiran Rakyat Indonesia dapat bersatu dalam kemauan dan dalam tindakan.

Program Revolusi harus menjadi program Pemerintah, program front nasional, program semua Partai, semua organisasi massa dan semua warga negara Republik Indonesia. Sudah tentu tiap Partai, organisasi dan perseorangan boleh mempunyai keyakinan politiknya sendiri, boleh mempunyai programnya sendiri, tetapi apa yang sudah ditetapkan sebagai Program Revolusi harus juga menjadi programnya dan harus ambil bagian dalam melaksanakan program tersebut.

Dengan jelasnya Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia dan dengan jelasnya Program Revolusi berkat adanya Manifesto Politik, maka akan dapatkah ditarik garis antara revolusi dan kontra revolusi dan antara sahabat-sahabat dan musuh-musuh revolusi Indonesia.

Dengan demikian penetapan yang subyektif tentang siapa kawan dan siapa lawan revolusi akan dapat dihindari, sehingga pertentangan-pertentangan yang tidak perlu dikalangan rakyat juga dapat dicegah. Sebaliknya yang akan timbul dan menonjol hanyalah pertentangan-pertentangan antara kekuatan revolusioner dengan kekuatan imperialis, dan pertentangan-pertentangan ini harus diakhiri dengan kemenangan kekuatan revolusioner.

Dalam Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dinyatakan bahwa: Piagam-Jakarta 22 Juni 1945 menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. (Manifesto-Politik halaman 36). =160= Perwujudan daripada realisasinya tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang termasuk dalam Undang-Undang Dasar pasal 29 ayat 2 yang berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia adalah Negara yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia (Pancasila).

Manifesto Politik adalah dokumen Revolusi Indonesia yang monumental dan yang bersejarah, hasil penarikan pelajaran-pelajaran yang pandai dari pengalaman-pengalaman yang pahit selama 14 tahun Revolusi Indonesia. Dengan berhasilnya menarik pelajaran-pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah, maka tidak sia-sialah segala korban yang telah diberikan oleh putra-putri Indonesia yang terbaik untuk kemegahan Revolusi Indonesia. [Eva De]

Sumber: Maj. Moch. Said, “Pedoman Untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat” Jilid I, Penerbit Permata Surabaya