Suasana persidangan pembunuhan terhadap bidan Aisyah Susilawati (50) pada 24 Juli 2017 di Pengadilan Negeri Argamakmur dalam sidang yang digelar Selasa (3/4/2017).

BENGKULU UTARA, PB – Fauzi (24) alias kucik warga Desa Karang Anyar 1 Kecamatan Kota Argamakmur pelaku pembunuhan terhadap bidan Aisyah Susilawati (50) pada 24 Juli 2017 divonis hukuman penjara seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Argamakmur dalam sidang yang digelar Selasa (3/4/2017).

Fauzi dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap korban pada 21 Juli 2017 di rumah korban di Desa Karang Anyar 1 Kecamatan Kota Argamakmur.

Dalam persidangan, Suryo Jatmiko, Ketua Majelis Hakim yang memimpin persidangan menyatakan, terdakwa terbukti telah melakukan pembunuhan terhadap korban.

Putusan majelis hakim yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup, langsung disambut teriakan puas dari pengunjung sidang yang kebanyakan keluarga korban.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa dengan hukuman 20 tahun penjara dengan menjerat pelaku pasal pembunuhan berencana.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Argamakmur Eldi Nasalu mengatakan, vonis yang diberikan terhadap terdakwa sudah sesuai dengan fakta yang terungkap di persidangan dan sudah sesuai dengan apa yang telah dilakukan terdakwa.

“Pasal yang dikenakan 340 KUHP tentang pembunuhan berencana,” ucapnya kepada wartawan usai persidangan.

Menurut Eldi apa yang dilakukan oleh terdakwa merupakan tindakan kejam dan tidak berprikemanusiaan hal ini yang menjadi salah satu yang memberatkan korban.

Selain itu, apa yang dilakukan terdakwa juga telah membuat beban berat bagi keluarga korban dan usaha mediasi yang kita lakukan menemukan jalan buntu, pihak keluarga korban tetap tidak bisa memaafkan terdakwa.

“Vonis ini belum berkekuatan hukum tetap,masih ada waktu 7 hari baik untuk Jaksa maupun Terdakwa untuk melakukan kajian,” ungkap Eldi.

Leo Kapisa, keponakan korban mengaku puas dengan vonis seumur hidup terhadap pelaku yang diberikan majelis hakim.

“Kami sekeluarga besar puas (dengan putusan hakim, red), meski tidak bisa mengembalikan tante saya,” katanya.

Sementara itu terdakwa langsung menerima putusan hakim setelah sebelumnya sempat berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. [Evi Kusnandar]