Seminar internasional yang diselenggarakan Women Peace and Security Incorporate di Ruang Rapat Hotel Santika, Selasa (3/4/2018).

BENGKULU, PB – Dalam rangka meningkatkan kerjasama dan persahabatan serta meningkatkan kemampuan negara-negara tuan rumah dalam menghadapi bencana, Women Peace and Security Incorporate (WPS) mengadakan seminar internasional di Ruang Rapat Hotel Santika, Selasa (3/4/2018).

WPS merupakan badan yang merupakan bagian dari United Nation atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Pacific Partnership 2018 yang diselenggarakan atas kerjasama Mabes TNI, TNI Bengkulu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu dan Universitas Dehasen.

Mengusung tema “Penguatan Peran Perempuan dan Anak Saat Bencana” kegiatan ini dihadiri oleh 100 orang peserta dari berbagai organisasi perempuan.

Disampaikan Rita Prima Bendriyanti, ketua pelaksana kegiatan bahwa kegiatan WPS ini akan dilangsungkan selama tiga hari.

“Kegiatan WPS akan dilangsungkan mulai hari ini hingga tanggal 5 April 2018 kedepan. Kegiatan pertama adalah seminar yang dilaksanakan hari ini, kegiatan kedua seminar akan dilaksanakan di kapal USNS Mercy dan terakhir adalah kegiatan pencegahan kekerasan seksual dan penyalahgunaan narkotika pada anak serta simulasi bencana yang akan diadakan di SD Negeri 77 dan SD Negeri 83 Kota Bengkulu,” kata Rita.

Seminar WPS ini menghadirkan delapan orang pembicara, diantaranya adalah Prof Dr Idrus Patrussi Spot, Mayjen TNI DR Ben Yura Rimba Mars, Lili Puspasari dari United Nation Woman, Rostini Florita dari WHO, Risya Ariyani Kori dari UNFPA, Yolanda Piliang dari UNFPA, Martina Estrela dari Puskris UI, dan Maj Miyanoto dari Japan.

“Adapun bertujuan diadakan seminar ini adalah meningkatkan skill dan kemampuan emergency preparedness personel kesehatan dan non kesehatan TNI dan US, melatih dan meningkatkan kemauan dan koordinasi dan interoperabilitas antar negara dan antar lembaga dalam penanggulangan bencana, memahami standar kontijensi pada saat kejadian bencana dan mempererat hubungan antar negara sahabat,” ungkap Rita.

Sesi foto bersama

Dalam kegiatan ini juga turut hadir Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah. Dalam sambutannya Rohidin meminta untuk meningkatkan kesadaran kesiapsiagaan perempuan dan anak terhadap terjadinya bencana di Bengkulu.

“Jepang adalah negara yang paling siap menghadapi apapun, termasuk juga apabila terjadi bencana. Namun, sesiap apapun sebuah negara, ketika terjadi sebuah bencana maka tetap akan ada keributan. Bencana itu tidak bisa kita tolak, tapi kita bisa meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemahaman dan meningkatkan kesadaran masyarakat Bengkulu terhadap bencana.

“Dengan kegiatan ini, mari kita bangun kesadaran bagi masyarakat dalam menghadapi bencana,” tutup Rohidin. [Deni Dwi Cahya]