HARGA jual daging sapi di Kota Bengkulu belakangan terus menanjak naik. Jika biasanya hanya berkisar Rp100 ribu per kilogram, maka saat ini mencapai Rp130 ribu.

Kondisi ini tentu menjadi beban bagi warga Kota Bengkulu khususnya mereka yang berekonomi menengah ke bawah.

Terlebih lagi, sebagian besar Warga kota Bengkulu adalah masyarakat berusia produktif yang notabenenya sangat membutuhkan konsumsi protein tinggi.

Belum lagi, harga jual yang tinggi juga akan mengurangi daya beli masyarakat yang berujung dengan makin tingginya angka kemiskinan.

“Wah pak. Sebulan sekali mujur kami makan daging sapi. Sekarang sangat mahal harganya pak. Nggak bakal bisa kami beli dari pendapatan kami sebagai juru parkir di pasar ini,” celoteh Ferdi yang kerap dipanggil Ucok (41), juru parkir Pasar Minggu, Jumat pagi (6/4).

Tingginya harga sapi yang dijual para pedagang di sejumlah pasar Kota Bengkulu ini terjadi lantaran tingginya harga jual daging sapi bersih di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Bengkulu yang mencapai Rp115 ribu per kilogram.

“Kami ini hanya ambil untung Rp10 ribu sampai Rp15 ribu pak per kilogram. Kami mau jual murah juga nggak bisa, sebab kami juga membeli daging sapi dari RPH juga mahal. Jadi tidak mungkin kami jual dibawah harga modal kami,” ujar Marwi (50), salah satu pedagang daging di Pasar Minggu, Jumat (6/4).

Dilanjutkan Marwi, belakangan pemerintah mewajibkan pedagang untuk membeli sapi atau daging sapi harus dari RPH.

Ironisnya, harga jual daging sapi RPH termasuk lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah pusat yaitu Rp80 ribu per kilogram.

“Jadi kami selaku pedagang hanya mengikuti alur harga modal dan mengambil untung sedikit dari penjualan,” ujar Marwi.

Dilain sisi, Marwi juga mengatakan, Sapi yang dipotong dan dikual di RPH merupakan sapi datangan asal Lampung.

“Sangat jarang sapi lokal dipotong dan dijual di RPH. Memang sih kondisi ini sangat merugikan para peternak sapi lokal. Tetapi mau gimana lagi, kalau kami pedagang hanya berjualan saja,” tandas Marwi.

Lain halnya dengan Edi, pedagang daging sapi yang berharap agar pemerintah memberikan solusi atas kondisi ini.

Pasalnya, dengan tingginya harga jual daging sapi maka jumlah warga yang membeli juga jauh berkurang.

“Sepi jualan sekarang. Jarang ada warga yang beli karena mahal harganya. Sehari hanya bisa habis 30 kilo. Biasanya bisa sampai 100 kilo habis terjual per harinya,” tandas Edi.

Dilanjutkan Edi, jika pembeli sepi maka para pedagang juga kehilangan daya beli masyarakat yang berdampak dengan menurunnya tingkat ekonomi warga.

“Ya kalau nggak ada yang beli, kami juga jadi terperosot. Setiap hari jualan makan modal terus. Lama lama bangkrut. Kalau sudah bangkrut kami juga tidak akan bisa belo daging sapi untuk di makan,” ujarnya.

Ifan Salianto, Jurnalis Pedoman Bengkulu

Berikut Estimasi berat daging sapi dalam 1 ekor sapi hidup :

1. Daging = 39 % dari berat sapi hidup.
2. Jeroan = 11% dari berat sapi hidup
3. Iga = 5% dari berat sapi hidup
4. kepalo sapi = 4% dari berat sapi hidup
5. Kulit sapi = 7% dari berat sapi hidup
6. Lemak sapi = 5% dari berat sapi hidup
7. tulang, air dan susut = 29 % dari sapi hidup