Danau Dendam Tak Sudah. Foto Istimewa.

Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat Bengkulu. Terlelak di Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Danau ini memiliki luas permukaan 67 hektare.

Danau ini memiliki warna air yang tampak biru karena pantulan awan dan keindahan panorama bukit barisan bak lukisan yang sangat indah diujungnya. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar kota yang datang menghabiskan waktu menikmati keindahanya atau sekedar untuk berfoto ria.

Tak hanya itu, DDTS juga memiliki anak danau yang tersambung dengan induk danau yang letaknya tidak berjauhan. Di anak danau ini terdapat pintu air yaitu semacam bendungan yang tak kalah indahnya.

Namun, banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan anak danau ini karena akses jalan yang masih sulit dimana harus melewati jalan bebatuan.
Namun dibalik keindahan Danau ini siapa sangka ada 3 kisah mistis yang menarik tapi belum banyak ketahui oleh masyarakat.

Mari kita simak satu per satu kisah-kisah tersebut untuk menambah wawasan kita.

1. Buaya buntung melawan buaya Lampung
Menurut cerita warga setempat, seekor buaya dari Danau dendam tak sudah bertarung melawan buaya asal Lampung di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Dalam pertarungan tersebut, buaya danau dendam tak sudah berhasil mengalahkan buaya asal Lampung. Hanya saja, dalam pertarungan itu buaya Danau Dendam Tak Sudah kehilangan ekor. Konon pada saat itu, buaya buntung ini bersumpah pada buaya asal Lampung, dengan kutukan, “Kalau main ke Danau Dendam Tak Sudah tidak akan dikasih makan”. Sejak adanya dendam buaya tersebut, maka danau disebut warga setempat menyebutnya dengan ‘Danau Dendam Tak Sudah’.

Menurut seorang warga asli suku Lembak yaitu Syaiful Anwar, buaya yang buntung itu sering muncul saat menjelang perayaan hari besar seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, pria penjaga dan perawat Anggrek Pensil di Danau Dendam ini menyebutkan bahwa pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri warga di sekitar danau selalu menghentikan aktivitasnya mulai dari mencari ikan, berjualan serta kegiatan lainnya.

Tidak hanya itu, kemunculan buaya juga dimitoskan. Jika muncul ke permukaan akan ada bencana yang melanda Kota Bengkulu. Hal tersebut sempat terjadi beberapa hari sebelum gempa besar yang terjadi di Bengkulu. Saat itu, Bengkulu digoyang gempa dahsyat dengan kekuatan 7,3 Skala Richter (SR) pada tahun 2000 dan gempa besar tahun 2007 berkekuatan 7,9 SR, buaya buntung sempat muncul kepermukaan danau.

Tapi tidak sembarang orang bisa melihat buaya buntung di Danau Dendam Tak Sudah itu. Bukan juga orang sakti, terkadang orang biasa juga bisa melihat buaya buntung di danau. Saat buaya itu muncul ke permukaan danau, ada yang melihat buaya buntung kecil, ada juga yang melihat buya buntung itu besar dan panjang. Namun yang pasti sampai sekarang buaya itu masih ada di danau.

2. Sepasang kekasih yang menjelma menjadi lintah raksasa
Mitos berikutnya konon dahulu kala kabarnya ada sepasang kekasih yang cintanya tidak direstui orang tua mereka. Mereka yang tengah mabuk asmara memutuskan untuk bunuh diri dengan meloncat ke dalam danau. Sejak saat itu, masyarakat Bengkulu percaya ada dua ekor lintah raksasa yang hidup di dalam danau yang merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut. Mereka terus hidup dengan menyimpan rasa dendam lantaran cinta yang tak kesampaian. Sepasang kekasih yang bunuh diri ke danau inilah yang menjadikan danau ini disebut Danau Dendam Tak Sudah.

3. Keramat pintu air yang sakti
Mitos lainnya adalah tentang adanya kuburan keramat ’Sapu Jagat’ atau keramat Pintu Air. Menurut penuturan orangtua terdahulu, keramat tersebut merupakan keramat orang sakti yang memilki ilmu magis. Nama keramat Sapu Jagat diambil dari cerita orang terdahulu. Sedangkan warga suku Lembak menyebutnya dengan nama ‘Keramat Pitu Ayo’ yang berarti Keramat Pintu Air. Ada juga warga Suku Lembak menyebut nama keramat itu dengan nama Keramat ‘Jalan ke Ayo’. Sayangnya nama penghuni keramat tersebut belum diketahui secara persis. Karena cerita tentang keramat tersebut sudah ada lama jauh sebelum penjajah datang ke Kota Bengkulu.

Beberapa mitos yang beredar di masyarakat terkait dengan keramat pintu air misalnya jika masyarakat ingin ikut lomba mengaji, azan dan lomba shalat, biasanya pergi Keramat Sapu Jagat. Selain itu usai panen padi, warga suku Lembak selalu membawa kue apem ke keramat sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Bahkan katanya penjajah Inggris gagal menyerbu warga Suku Lembak lantaran Keramat Sapu Jagat menghalau penjajah dengan menurunkan Hujan Abu. Sehingga penjajah pun tidak bisa melintasi jalan danau.

Mitos lain yang beredar di masyarakat, jika ada orang yang tenggelam saat mandi di danau ini maka jika ingin cepat ditemukan harus meminta petunjuk kepada Allah melalui perantara Keramat Sapu Jagat untuk mendapatkan petunjuk dimana keberadaan jasad orang yang tenggelam tersebut.

Namun, sebenarnya kisah-kisah tersebut hanya merupakan mitos yang dipercaya warga setempat yang diceritakan secara turun temurun yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun sejarah yang sebenarnya tentang nama Danau Dendam Tak Sudah ini berasal dari kata “Dam” atau bendungan yang tidak sudah atau tidak selesai pembuatannya.

Dam ini dibuat oleh pemerintah Belanda namun hingga masa penjajahannya berakhir pembuatan dam ini belum terselesaikan sedangkan pada saat itu pemerintah Belanda sudah harus meninggalkan wilayah Bengkulu.

Walaupun pembangunan Dam ini tidak selesai namun tetap memberikan banyak manfaat bagi masyarakat yaitu sebagai sumber air irigasi bagi wilayah pertanian disekitarnya. Dan tentu saja Danau buatan ini memberikan panorama yang indah yang menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke kota Bengkulu.

Vanessa Clara Syinta, Komunitas Menulis Bengkulu